Rasa penasaran kadang menjerumuskan kita pada suatu hal yang tidak terduga, begitu juga dengan apa yang dialami oleh Ashila, Dion, Fadly, Rafa dan juga Tara, mereka tidak sengaja masuk ke dalam sebuah desa yang sudah lama ditinggal oleh penghuninya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di Ruangan Pers.
Ketika Tara dan Dion tengah bertempur dengan kemacetan jalan raya, Fadly dan Rafa masih saja terlihat sibuk mendiskusikan materi yang akan di bahas esok hari.
"Hoaahmmm," Fadly menguap, dari bola matanya jelas terlihat Fadly sudah mengantuk.
Rafa yang menyadari temannya sudah mulai mengantuk langsung melihat ke arah jam dinding.
"Balik sekarang yuk Dly, besok aja terusinnya!" ajak Rafa mulai merasa lelah.
"Serius mau pulang sekarang? Ayo aja sih, tapi saya mau cari makan dulu soalnya perut saya sudah protes sedari tadi, jawab Fadly menanggapi ajakan Rafa.
"Kita mampir ke Jatos sebentar ya sambil cari makan, jangan takut pulang kemaleman lah namanya juga laki-laki, lo bisa nginep di rumah gue jadi besok ga repot, bisa sambil bergadang juga nyari referensi pembahasan besok," ajak Rafa sedikit memaksa.
Fadly akhirnya mengangguk tanda setuju, merekapun berjalan keluar dari ruangan pers dan menuju parkiran mobil. Letak ruangan pers menuju parkiran mobil memang cukup jauh, mereka harus menelusuri koridor yang cukup panjang, melewati laboratorium yang malam tersebut terlihat gelap gulita juga ruangan kelas yang sudah terkunci. Di tengah perjalanan menuju parkiran mobil, langkah Fadly terhenti ketika teringat dengan sebuah benda yang dititipkan Dion pada Fadly.
"Kacau, kunci kamar Dion masih ada pada saya!" teriak Fadly memecah keheningan.
Fadly mengambil kunci tersebut dari dalam tasnya dengan raut wajah penuh penyesalan lalu Rafa dengan sigap mencari solusi agar Fadly tidak berubah pikiran dan tetap menginap di rumahnya karena ada sebuah artikel yang ingin Rafa perlihatkan pada Fadly.
"Ya udah lo whats app atau telepon aja pasti Dion juga maklum, laki-laki tidur di sofa atau lantai juga bisa jadi ga usah ribet!" jawab Rafa dengan santai yang akhirnya disetujui oleh Fadly.
Tidak membuang banyak waktu, Fadly langsung menghubungi Dion tetapi tidak tersambung begitu juga dengan nomor handphone Tara yang tidak ada tanggapan, setelah menunggu beberapa saat akhirnya mereka sepakat untuk mencoba kembali menelepon Dion dan Tara sesampainya mereka di Jatinangor Town Square.
Malam tersebut ditemani rintik hujan, Fadly dan Rafa berada dalam hangatnya mobil sedangkan Dion dan Tara harus bertempur dengan dinginnya malam dan hujan yang mulai turun dengan derasnya, Dion yang melihat Tara hanya memakai jaket tipis yang sudah basah memacu motornya lebih cepat melewati jembatan Kiara condong.
Setelah menempuh perjalanan sekitar sepuluh menit dari arah Kiaracondong, merekapun tiba di sebuah toko buku legend yang berada di jalan supratman dan berjalan menuju penitipan barang, mereka di sambut ramah oleh penjaga toko buku yang siap membantu mereka.
"Cari buku apa mas?" tanya salah seorang pegawai toko buku tersebut dengan ramah.
"Buku musik," jawab Dion singkat langsung pada intinya.