8 | Jalur tengkorak tapal kuda Ciwidey

911 109 9
                                        

Hamparan kebun teh terpampang jelas di hadapan mata, angin semilir menemani mereka dalam perjalanan menuju vila yang terletak di Ciwidey bagian dalam, seluruh penghuni mobil nampak tertidur lelap hanya Shila yang masih bersiaga mengemudikan mobiln...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hamparan kebun teh terpampang jelas di hadapan mata, angin semilir menemani mereka dalam perjalanan menuju vila yang terletak di Ciwidey bagian dalam, seluruh penghuni mobil nampak tertidur lelap hanya Shila yang masih bersiaga mengemudikan mobilnya, lagu demi lagu dia putar satu persatu, berpadu dengan suara jangkrik dan binatang malam lainnya yang saling bersahutan.

"Cekiitttt!" secara tiba-tiba Shila menginjak rem dengan mendadak dan menutup matanya dengan kedua telapak tangan, entah apa yang dia liat, kontan peristiwa tersebut membangunkan seluruh penghuni mobil, Fadly yang posisi tidurnya terlentang di bangku belakang nyaris terguling, sementara Rafa yang berada bersebelahan dengan Shila nyaris saja kepalanya terbentur, untung saja keduanya memakai sabuk pengaman, Tara dan Dionpun yang berada di bangku tengah nampak terperangah dan mencoba mencari tau hal apa yang sudah terjadi.

"Kenapa Shil?" tanya Rafa begitu cemas, Shila tak menjawab sepatah katapun.

Beberapa warga yang masih beraktivitas di pinggir kebun teh, terlihat berjalan menghampiri mobil mereka, salah satu dari warga tersebut mengetuk kaca jendela mobil lalu Rafa dan Dion membukakan pintu mobil sebelah kiri sementara Shila masih saja menutup kedua matanya dan memilih untuk tidak banyak berkomentar.

"Kunaon ieu teh? Aya naon nepi ka mobil ngerem ngadadak? Barau hangit kawas karet anu kabeleum!" tanya salah satu warga yang memakai ikat batik di kepalanya dalam logat dan bahasa sunda.

"Greeek," suara pintu belakang terbuka, Fadlypun turun dari dalam mobil, memang dari mereka berlima Fadlylah yang lebih fasih berbahasa sunda, atas beberapa pertimbangan akhirnya mereka memutuskan untuk turun dari dalam mobil dan beristirahat sejenak di warung pinggiran yang letaknya berada di seberang jalan.

Dengan wajah yang masih shock dan pucat, Shila berjalan perlahan di papah oleh Tara yang berada di sampingnya. Teh hangat sudah di siapkan oleh Ibu penjaga warung tersebut, "Sok atuh nyarios aya naon tadi teh? ieu si Neng nepi ka pucet kieu, hawatos Ibu jadina, " tanya Ibu penjaga warung tersebut dengan wajah yang sangat penasaran.

"Iya Shila, coba di certain alasan kamu kenapa bisa ngerem mendadak biar kita disini ga khawatir," Fadly memperjelas pertanyaan tersebut dalam bahasa Indonesia.

Masih dengan gemetar yang sangat dahsyat, Shila meneguk teh hijau buatan Ibu penjaga warung lalu Shila berusaha mulai bercerita dengan air mata yang jatuh perlahan dari pipinya, semua tampak menyimak dengan seksama.

"Sebenernya gini tadi pas gue mau belokin mobil ke tikungan itu, secara sadar gue liat dengan mata kepala sendiri, ada kakek-kakek nyebrang jalan sambil bawa anak kecil, matanya terus melototin ke arah gue, rambutnya putih, pake baju batik yang udah lusuh, terus yang bikin gue tambah parno, anak kecil yang di gandeng kakek-kakek itu berambut panjang sampai mata kaki, pas gue liat mukanya, mukanya rata dan bener-bener nyeremin karena kaget secara refleks gue nginjek rem dan pas gue udah selesai ngerem, gue perhatiin sekitar, si Kakek itu udah ngilang gitu aja tapi pas gue noleh ke kaca spion samping, wajah kakek itu tiba-tiba ada di samping gue karena gue takut akhirnya gue nutup mata," Shila menarik nafas panjang mengakhiri ceritanya.

Beberapa warga yang sedari tadi memantau kejadian sejak awal dan mengikuti Shila sampai warung, mengangguk secara bersamaan tanda mereka mengerti dan sudah tidak asing dengan jawaban yang Shila lontarkan. Salah satu dari mereka yang bernama Pak Sobar memberikan sedikit keterangan, "Memang begitu Neng, untung saja si Neng dan kawan-kawan bisa selamat, banyak pisan kejadian di daerah situ teh Neng, banyak yang kecelakaan, malah sampai banyak korban meninggal, dari dulu juga daerah situ teh udah di namain daerah tapal kuda jalurnya disebut jalur tengkorak, berarti neng termasuk orang yang sensitif," ujar Pak Sobar dengan sebatang rokok yang tengah di hirupnya.

Semua nampak bersyukur meski kejadian tadi sempat menghambat waktu dan seharusnya tidak terjadi tetapi mereka masih bisa bernafas lega karena terhindar dari kecelakaan atau nasib yang lebih buruk seperti halnya yang Pak Sobar ceritakan tadi, "Alhamdulilah kita masih di kasih keselamatan, mending sekarang kita lanjutin perjalanan, Shila duduk sama gue di tengah, Dion lo pindah posisi duduk di samping Rafa," ujar Tara mengambil komando.

Mereka semua mengangguk tanda setuju, setelah berpamitan kepada warga dan Ibu penjaga warung, mereka melanjutkan perjalanan, suasana jauh berbeda, seisi mobil terdengar lebih hening hanya suara Tara yang terdengar pelan menenangkan Shila yang sudah mulai tertidur di bahu Tara.

Sekarang hanya tinggal Rafa, Dion dan Tara yang masih terjaga, Fadly dengan cepat sudah melanjutkan kembali tidurnya. Mobil yang dikendarai Rafa melaju perlahan menembus rimbunnya kebun teh, ternyata hanya butuh waktu dua puluh menit saja untuk sampai di lokasi vila daritempat kejadian tadi.

Tara kembali melihat jam tangan, jam sudah menunjukan pukul 01.30 dini hari, tak terasa satu jam lebih berlalu setelah tadi mereka beristirahat dan bersenang-senang sebentar di pasar Ciwidey, dengan perlahan Tara membangunkan Shila dan membawakan tas besar yang di bawa Shila ke dalam vila, diikuti dengan Rafa, Dion dan Fadly yang berjalan sempoyongan karena kantuk yang masih menderanya.

"Sepi banget ini vila," tanya Dion, matanya terus mengamati keadaaan sekitar.

"Jelaslah sepi, tengah malem gini siapa coba yang masih bangun!" jawab Rafa seenaknya.

Tara yang melihat keadaan Shila masih tidak memungkinkan untuk di ajak banyak berbicara, meminta izin untuk beristirahat terlebih dahulu," Gue masuk kamar duluan ya, kasian nih Shila," ucap Tara sambil berjalan menuju kamar yang bertuliskan woman letaknya berada di atara pertengahan dapur dan ruang tamu, meski vila yang mereka pesan tidak bertingkat dan tidak semewah vila yang berada di film-film, vila tersebut cukup nyaman dengan pemandangan luar jendela yang indah dan kolam renang hangat yang siap menyambut mereka di halaman belakang.

"Tar, jangan lupa lo harus bangun pagi, kita harus langsung berangkat pagi ke tempat tujuan, biar moment sama cuacanya pas, kalo kesiangan gerah nantinya," ujar Rafa mengingatkan. Tara hanya melihat sebentar ke arah belakang dan mengangguk pelan selanjutnya dia sudah membuka pintu kamar dan beristirahat. Rafa, Fadly dan Dion pun tidak mau kalah, mereka segera menuju kamar besar yang letaknya bersebrangan dengan kamar Shila dan Tara tadi, dengan segera mereka merebahkan diri di kasur besar yang empuk, lengkap dengan aroma theraphy berwangikan eucalyptus yang sudah siap membius mereka ke alam mimpi.

Sampai jumpa di Bab selanjutnya ya, jangan lupa tinggalkan jejaknya, minta votenya ya biar penulis bisa lebih semangat dan jangan lupa saling menghargai, semoga kita sukses bersama ya :)

Lembur KuntilanakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang