13 | Lukisan misterius

669 96 4
                                        

Setelah beberapa saat berdiam diri di hadapan banyak rumah yang tak berpenghuni, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke rumah awal tetapi baru saja beberapa langkah mereka berjalan, Tara meminta teman-temannya untuk berhenti, "Eh tunggu dulu,...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Setelah beberapa saat berdiam diri di hadapan banyak rumah yang tak berpenghuni, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke rumah awal tetapi baru saja beberapa langkah mereka berjalan, Tara meminta teman-temannya untuk berhenti, "Eh tunggu dulu, lo semua ngerasa aneh ga sih sama rumah yang di ujung itu? Bangunannya hampir permanen kaya model rumah tua zaman Belanda sementara rumah yang lain, rata-rata rumah panggung?" tanya Tara dengan mimik wajah yang serius.

"Saya juga merasakan hal yang sama dengan yang Tara rasakan, rumah itu seperti mengundang seribu tanya dalam benak saya, bagaimana kalau kita cek saja ke dalam rumah itu? Mungkin kita akan menemukan sesuatu didalam sana!" ujar Fadly memberikan ide.

Kali ini tanpa perdebatan mereka semua setuju untuk memasuki rumah yang Fadly maksud, rumah itu berdiri kokoh diantara rumah yang lainnya, halaman rumah tersebut dipenuhi dengan rumput liar yang tinggi, dinding rumah tersebut tampak terkelupas dan dipenuhi dengan lumut, sesekali tercium harum semerbak bunga yang tersembunyi di halaman rumah, sangat jelas terlihat rumah ini sudah lama tidak ditinggali.

"Bau apaan nih? Wanginya kaya bau bunga tapi bunga apaan bisa kecium malem-malem gini?" tanya Tara sambil berpindah posisi mendekati Shila di barisan depan.

"Kayanya ini harum kembang sedap malam, di kampung halaman saya banyak kembang seperti ini, kembangnya unik karena aromanya hanya bisa tercium di malam hari, aromanya menenangkan tapi berkesan misterius, kata orang tua jaman dahulu kalau wangi bunga seperti ini tercium menyengat menandakan ada sesuatu," jawab Fadly.

"Ah udahlah ga usah banyak pembahasan kalau mau masuk kita ga usah banyak buang waktu!" Dion mengalihkan pembicaraan dan langsung menuju pintu rumah tersebut.

Dengan perlahan Dion membuka pintu rumah itu, saat Dion membuka pintu terdengar suara gesekan pintu yang sangat tidak enak untuk didengar, membuat bulu kuduk mereka terasa berdiri. Mereka masuk ke dalam rumah itu sambil menyalakan senter yang mereka bawa, mereka mulai memeriksa setiap ruangan yang ada, perasaan heran terus mengikuti mereka, pasalnya hampir semua dinding di rumah tersebut dipenuhi dengan lukisan, lukisan tua dengan nuansa zaman Belanda.

Di salah satu ruangan terdapat sebuah lukisan keluarga Belanda lengkap dengan atribut baju tempo dulu yang dikenakan, lukisan tersebut menggambarkan sebuah keluarga dengan sepasang suami istri dan 5 orang anak, empar orang anak laki-laki berambut pirang mengenakan pakaian berwana putih sementara satu lagi tampak tergambar gadis pribumi berambut hitam kepang dengan kebaya putih dan posisi duduk yang sedikit renggang. Tidak jauh dari lukisan tersebut terdapat sebuah lukisan besar tertutup kain samping batik lusuh yang sepertinya memang sengaja ditutup.

"Itu lukisan apa ya? Ko beda sama yang lain, lukisannya di tutup? Coba lo buka Raf! Pinta Shila dengan penasaran.

"Ogah ah, lo aja yang buka Shil!" tolak Rafa.

Dengan perlahan Shila membuka samping penutup lukisan itu, lukisan terbuka perlahan, Rafa mengarahkan senter yang berada ditangannya, lukisan itu menggambarkan seorang wanita remaja berkebaya putih dengan rambut kepang, sorot mata sayu penuh kesedihan lalu di lukisan tersebut terdapat nama Sukma dan tulisan merah yang bertuliskan, " Mungkin jasad ku tidak abadi tapi kebencian ini akan selalu terkubur disini."

Tidak berapa lama setelah mereka mengamati lukisan itu dan membaca pesan yang ada disampingnya, terdengar suara ketukan keras dari dalam lemari yang posisinya tepat di bawah lukisan tersebut, suara ketukan yang semakin lama semakin terdengar kenca...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tidak berapa lama setelah mereka mengamati lukisan itu dan membaca pesan yang ada disampingnya, terdengar suara ketukan keras dari dalam lemari yang posisinya tepat di bawah lukisan tersebut, suara ketukan yang semakin lama semakin terdengar kencang, tanpa pikir panjang mereka berlari tunggang langgang meninggalkan rumah tersebut, tak peduli berapa kali mereka terjatuh, mereka tetap berlari.

"Kita kemana lagi sekarang?" tanya Tara masih dalam keadaan berlari.

"Kita kembali ke rumah pertama, nanti disana baru kita pikirkan jalan keluarnya," jawab Fadly menanggapi pertanyaan Tara.

Dalam posisi seperti itu tanpa perintah, mereka mengikuti keputusan Fadly, Dion yang posisi berlarinya paling akhir enggan sekalipun untuk menoleh ke arah belakang, bulu kuduknya terus berdiri, merasakan ada yang sedang memperhatikannya. Mereka berlima berlari dan terus berlari, menembus pepohonan yang lebat, tujuan mereka saat ini hanyalah sampai di rumah pertama mereka singgah, paling tidak mereka merasa sedikit lebih aman untuk menunggu fajar menjemput di keesokan harinya dan berharap malam mencekam ini cepat berakhir.

Sesampainya mereka di rumah panggung pertama.

"Kalau udah kaya gini kita ga bisa ngapa-ngapain lagi, kita harus nunggu pagi disini, stamina dan mental kita sudah banyak terkuras, jangan ada lagi yang berbeda pendapat, menunggu adalah jalan satu-satunya!" Kali ini Dion sangat serius memperingatkan teman-temannya dan tak ingin mendengar bantahan lagi.

"Iya, gue ngaku gue salah dan gue ga akan egois lagi, sekarang gue setuju sama lo, kita istirahat aja diruangan ini mungkin itu yang kita butuhkan," balas Rafa dengan nada menyesal.

"Ya sudah, kita ambil hikmah dari kejadian tadi, sekarang waktunya istirahat, kita sama-sama berdoa semoga besok kita menemukan jalan keluar dan berharap semakin cepat kita tidur, semakin cepat pula pagi datang," ucap Fadly kembali menjadi penengah.

Tara dan Shilla yang sudah nampak sangat lelah mengangguk, menyetujui keputusan itu, merekapun mulai merebahkan badan dilantai yang berkayu, sesekali mereka mencoba memejamkan mata meski mata mereka menolak untuk terpejam. Berbagai suara terdengar saat itu, rumah itu tak ramah lagi, menjelang malam banyak terdengar suara-suara yang memekakan telinga, suara jerit tangis, rintihan kesakitan dan berbagai suara hewan malam yang saling bersahutan satu sama lain.

Saat malam menggapai puncak kesunyiannya, Shilla yang sudah tidak tahan menahan hasrat ingin buang air kecil, terpaksa bangun dan menuju kamar mandi, ada perasaan tidak tega untuk membangunkan teman-temannya yang sedang tertidur pulas.

Shila berjalan menuju kamar mandi yang letaknya berada di bawah rumah, saat Shila berjalan melewati sebuah kamar, Shila melihat sebuah cermin tua besar dengan retakan ditengahnya, Shila yang memang sangat menyukai cermin, terpancing untuk masuk ke kamar itu dan melihat cermin besar itu secara lebih dekat, kakinya terasa menginjak sesuatu, Shila merasa kesakitan, diambilnya benda yang terinjak tadi, sebuah tusuk konde kembang goyang dengan ukiran yang sangat unik dan bermata hijau, Shila mengambilnya dan memasukannya kedalam saku jaket, sekilas saat Shila menoleh ke arah cermin, Shila melihat bayangan seorang wanita sangat tinggi berdiri dibelakangnya lalu dengan secepat kilat Shila segera meninggalkan kamar itu dan menuruni tangga untuk menuju kamar mandi, jantungnya terasa berdegup begitu kencang sampai tak sadar dia menabrak seseorang.

"Lo darimana?" Tanya Dion menatap Shilla penuh curiga.

"Engga darimana-mana, gue cuman mau ke kamar mandi," jawab Shila berbohong.

"Ya udah gue tungguin, asal jangan lama!" tawar Dion yang tak tega meninggalkan Shila sendirian.

Shila membalas dengan anggukan dan segera masuk kedalam kamar mandi yang penutupnya terbuat dari bilik bambu, Shila yang merasa tak enak hati tak ingin berlama-lama dan segera keluar dari kamar mandi, Shila berlari menghampiri Dion lalu berjalan menaikin anak tangga, mereka terdiam satu sama lain, digenggamnya di dalam saku jaket tusuk konde yang Shilla temukan tadi.

Sampai jumpa di Bab selanjutnya ya, jangan lupa tinggalkan jejaknya, minta votenya ya biar penulis bisa lebih semangat dan jangan lupa saling menghargai, semoga kita sukses bersama ya :)

Lembur KuntilanakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang