49 | Batin yang tersiksa

516 78 8
                                        

Perasaan Tara hari ini semakin tidak menentu antara kesal, sedih sekaligus bingung bercampur menjadi satu, Tara tidak habis pikir dengan sikap Dion yang masih berperilaku dingin padanya, jangankan untuk meminta maaf atas perlakuannya yang kasar te...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Perasaan Tara hari ini semakin tidak menentu antara kesal, sedih sekaligus bingung bercampur menjadi satu, Tara tidak habis pikir dengan sikap Dion yang masih berperilaku dingin padanya, jangankan untuk meminta maaf atas perlakuannya yang kasar tempo hari tetapi untuk sekedar menyapa atau menanyakan kabar Tara saja tidak Dion lakukan dan lebih memilih diam tanpa alasan yang jelas.

Apakah orang seperti ini yang harus Tara perjuangkan? Apakah Dion yang dingin dan tidak punya perasaan ini pantas menjadi orang yang membuat Tara menetaskan air mata? Lagi-lagi pertanyaan tersebut yang ada di benak Tara ditambah dengan kehadiran Sekar yang Tara yakini mempunyai perhatian lebih pada Dion, akankah kehadiran Sekar juga membuat jarak antara Dion dan Tara menjadi semakin jauh? Adilkah Tara yang tidak menginginkan keberadaan Sekar sementara Nenek Rafa sudah menyampaikan jika keberadaan Sekar bisa menjadi penolong mereka nantinya? Tara hanya bisa terdiam tanpa bisa menjawab pertanyaan yang terus memenuhi isi kepalanya.

Selama di perjalanan pulang begitu banyak permasalahan yang Tara pikirkan hingga pikirannya kalut begitupun hatinya yang banyak dipenuhi rasa takut membuat Tara tidak menyadari jika Tara sudah sampai ke tempat tujuannya yaitu rumah Pak RW yang menjadi tempat tinggal sementara Bi Eti.

"Maaf Teh, ini tujuannya sudah sampai sesuai dengan titik lokasi pengantaran, apa benar ini rumahnya?" tanya bapak ojek online membuyarkan lamunan Tara lalu Tara segera turun dari atas motor dan menuju rumah Pak RW.

"Permisi," ucap Tara sambil mengetuk pintu dari luar rumah.

Pintu rumah terbuka dan tampak Bu RW membukakan pintu lalu mempersilahkan Tara untuk masuk ke rumahnya, saat itu terlihat Bi Eti sedang duduk di sofa sambil merajut sebuah taplak rumah. Tara yang melihat Bi Eti langsung berlari dan memeluknya dengan erat hingga Bi Eti tak kuasa menahan air mata sekaligus meminta maaf karena secara tidak sadar telah melukai Rafa.

"Bibi ga usah ngerasa bersalah karena Rafa juga sangat mengerti Bi kalau kejadian kemarin terjadi diluar kuasa Bi Eti dan lebih baik sekarang kita langsung pulang ke rumah ya Bi buat istirahat!" ajak Tara pada Bi Eti sambil mengucapkan terimakasih pada Pak RW dan Bu RW yang sudah mengizinkan Bi Eti untuk tinggal sementara di rumahnya.

"Dek Tara, nanti malam Bapak tugaskan petugas ronda malam untuk berjaga di depan rumah ya, Dek Tara tidak keberatan?" tanya Pak RW sebelum Tara meninggalkan rumahnya.

"Dengan senang hati saya menerimanya Pak dan terimakasih sekali lagi untuk semuanya, saya dan Bi Eti izin pamit dulu," jawab Tara sambil bersalaman dengan Pak Rw dan Bu Rw lalu menggandeng Bi Eti untuk pulang ke rumahnya.

Rumah Tara jaraknya tidak terlalu jauh dengan rumah Bu RW dan dulu Bu RW adalah teman dekat almarhum Ibunya Tara sehingga Bu RW sudah menganggap Tara seperti anaknya sendiri juga Bu RW mengetahui beratnya perjuangan hidup Tara hingga bisa menjadi wanita mandiri dan kuat seperti sekarang. Setelah sampai di depan rumahnya lalu Tara segera membuka pintu dan melihat kekacauan yang sama persis seperti kejadian di rumah Shila beberapa waktu yang lalu, barang-barang yang ada di rumah Tara berantakan seperti sudah di masuki maling lalu Tara yang mendengar suara kucingnya bersuara dengan keras seperti ketakutan langsung berlari menuju halaman belakang sementara Bi Eti langsung berinisiatif untuk membereskan rumah Tara.

Lembur KuntilanakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang