50 | Leuweung Seke Beurem

521 79 16
                                        

Awan kelam menaungi Kota Bandung, hujan deras seolah menyelubungi langit pada pagi ini, tidak terdengar satupun suara ayam berkokok atau mungkin tertutup dengan suara air hujan yang begitu menderu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Awan kelam menaungi Kota Bandung, hujan deras seolah menyelubungi langit pada pagi ini, tidak terdengar satupun suara ayam berkokok atau mungkin tertutup dengan suara air hujan yang begitu menderu.

Tara sudah bangun sejak pagi buta untuk mempersiapkan diri dan mengantar Bi Eti menuju terminal Cicaheum lalu sebelum berangkat Tara menyempatkan diri untuk berpamitan pada Bu RW dan Pak RW yang sebelumnya sudah mengetahui tentang kepergian Tara juga kepulangan Bi Eti ke Kampung halamannya karena kemarin malam Tara menitipkan semua peliharaannya di rumah Pak RW dan keluaga Pak RW menerimanya dengan senang hati karena keluarga mereka semuanya adalah pecinta hewan.

Mobil yang Tara pesan sudah datang lalu dengan segera Tara memasukan semua barang bawaannya ke dalam bagasi mobil begitu juga Bi Eti yang memasukan tas jinjingnya dan berbagai oleh-oleh khas Bandung yang Tara pesan kemarin malam secara online untuk buah tangan kepulangan Bi Eti ke kampung halamannya yang pasti sangat dinantikan oleh keluarga besarnya.

Dari balik jendela mobil Tara memperhatikan jalanan kota Bandung pagi ini yang sangat sepi karena hujan deras yang mengguyur kota Bandung sejak tadi malam, hari ini perjalanan Tara dan teman-temannya akan dimulai, mereka mempertaruhkan semuanya juga bertekad sangat kuat dengan harapan penderitaan yang mereka rasakan akan menemukan batas akhirnya,

"Non Tara kenapa ngelamun terus?" tanya Bi Eti membuyarkan lamunan Tara.

"Tara ga mikirin apa-apa Bi cuman lagi merhatiin jalan aja," jawab Tara berbohong agar Bi Eti tidak merasa khawatir.

Bi Eti tersenyum mendengar jawaban dari Tara lalu mengeluarkan tempat bekal makanan dari tas jinjing yang sedari tadi terus dipegangnya dan memberikannya untuk Tara.

"Non Tara, sebenernya tadi Bi Eti sempet siapin bekal makanan untuk Non Tara meskipun cuman roti bakar pakai selai kacang sama susu kotak," kata Bi Eti penuh perhatian sambil memberikan bekal tersebut.

"Makasih ya Bi nanti pasti Tara makan bekalnya, Bibi sendiri udah sarapan?" kali ini giliran Tara yang bertanya pada Bi Eti.

"Udah atuh Non, Bi Eti mah ga berani keluar rumah kalau perut masih kosong soalnya takut masuk angin," jawab Bi Eti yang disambut tawa oleh Tara.

Sepanjang perjalanan menuju terminal Cicaheum, banyak topik pembicaraan yang dibahas oleh Bi Eti, dari mulai cerita tentang kampung halamannya yang sekarang sudah tidak seasri dulu karena banyaknya pembangunan pabrik hingga bercerita pengalaman Vallen yang sering menghabiskan waktu libur sekolahnya di kampung Bi Eti sambil menikmati suasana pedesaan juga bermain di sawah dan sungai bersama anak-anak Desa di Kampung Bi Eti, cerita Bi Eti tentang Vallen membuat Tara teringat jika Tara belum sempat menceritakan berbagai kejadian diluar nalar yang akhir-akhir ini dialami Tara dan Tarapun belum meminta izin untuk kepergiannya kali ini karena Tara tidak ingin membuat Vallen khawatir atau berbuat nekat dengan menyusulnya apalagi jika Vallen mengetahui perjalanan Tara kali ini mempertaruhkan nyawa dan keselamatan Tara.

Lembur KuntilanakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang