Rasa penasaran kadang menjerumuskan kita pada suatu hal yang tidak terduga, begitu juga dengan apa yang dialami oleh Ashila, Dion, Fadly, Rafa dan juga Tara, mereka tidak sengaja masuk ke dalam sebuah desa yang sudah lama ditinggal oleh penghuninya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lagu dari Paramore-decode terdengar kencang dari mobil Rafa, semua tampak menikmati alunan lagu tersebut, sesekali mereka bernyanyi bersama. Tara dan Shila yang duduk di bagian tengah sibuk berselfie ria sementara Fadly yang posisinya masih sama dibangku belakang mengamati tempat demi tempat yang dilalui dengan lekat, diposisi depan pandangan Dion dan Rafa serius berkonsentrasi dengan jalanan yang ditempuh.
Satu jam berlalu, gemuruh suara petir mulai terdengar, kabut mulai menghalangi jarak pandang, mobil mulai memasuki jalan yang berbatu menanjak dan menurun, tetes hujan membuat jalanan licin sehingga rem yang diinjak Rafa tak cukup kuat menahan laju mobil, mobilpun selip, terperosok kedalam lubang dan tidak bisa bergerak karena tekstur tanah yang sangat lentur dan licin. Mereka mulai terlihat panik dan ragu untuk melanjutkan perjalanan tetapi kembali mereka ingat, mereka tidak ingin pulang dengan tangan kosong dan menjadi hal yang sia-sia, merekapun memutuskan untuk berjalan kaki, karena menurut peta yang dibuat Rafa, lokasi lembur tersebut sudah terletak tidak jauh dari tempat mobil Rafa terpelosok.
"Kita jalan kaki aja ya? Mobil biar ditinggal disini aja, kayanya sih ini daerah aman. Dari peta hasil wawancara sama Nenek gue, tempatnya udah ga jauh lagi, sekitar lima belas menitan lah atau paling lama tiga puluh menit," ujar Rafa mengajak teman-temannya.
"Serius nih mau jalan? Bentar lagi malem loh, mana tempatnya kaya gini lagi, penuh sama pohon beringin dimana-mana," ujar Shila sedikit Ragu.
"Gue rasa kita harus tetap jalan keatas, mungkin diatas ada orang yang bisa nolongin kita, karena kalau kita diem aja bukan mustahil kalo kita bakalan tidur di tempat gini," Dion membulatkan tekadnya.
"Ya sudah kita jalan saja, masing- masing harus pegang senter, kita harus gerak cepat juga sebelum hujan turun lagi," Fadly mengiyakan.
Tarapun mengangguk tanda menyetujui keputusan teman-temannya.
Samar-samar mulai terdengar suara binatang malam bersahutan, mereka mulai melangkah berjalan perlahan menembus hutan lebat yang sudah menanti mereka didepan, beruntung mereka memilih untuk berjalan kaki, pasalnya setelah belokan, rute perjalanan selanjutnya adalah jalan setapak yang cukup sempit hanya bisa dilalui satu orang, sehingga mereka berjalan berurutan dengan posisi Rafa didepan, diikuti Shila, Tara, Dion dan Fadly di posisi paling belakang.
Rute jalan tak tentu arah, tak sedikitpun petunjuk yang mereka dapatkan mengenai lokasi lembur yang mereka cari, tak satupun pula penduduk setempat yang bisa mereka temui saat perjalanan, tak terlihat adanya aktifitas kehidupan manusia di tempat itu, nyaris gelap gulita hanya senter yang ada ditangan mereka yang menjadi sumber cahaya saat itu.
Jalan memutar, selalu kembali ke tempat awal tanpa tau ujungnya berada dimana, hal itu yang mereka rasakan saat ini.
"Udah hampir 20 menit kita ada di tempat ini, tolong jangan bilang kalau kita nyasar!" Tara mulai merasa curiga saat menyadari lokasi yang mereka lewati sama dengan perjalanan saat mereka awal masuk ke dalam hutan.