Rasa penasaran kadang menjerumuskan kita pada suatu hal yang tidak terduga, begitu juga dengan apa yang dialami oleh Ashila, Dion, Fadly, Rafa dan juga Tara, mereka tidak sengaja masuk ke dalam sebuah desa yang sudah lama ditinggal oleh penghuninya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Fadly menghela napas panjang, mencoba mengabaikan apa yang barusan dilihatnya. Ia memilih untuk tidak terlalu memikirkannya, mungkin hanya bayangan karena lelah dan banyaknya beban yang terus dipikulnya selama ini.
"Kalian jangan sungkan untuk bermalam di rumah ini, nanti malam saya tunggu kalian di ruang tengah, ada yang ingin ceritakan," ucap Pak Girindra berpesan pada semuanya sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Satu lagi saya hampir lupa, untuk kamu yang pandai memasak, jangan lupa menyiapkan ayam hutan yang tadi kita tangkap untuk lauk nanti malam," Pak Girindra kembali mengingatkan Fadly.
"Baik Pak akan saya siapkan," jawab Fadly sambil berjalan menuju dapur diikuti oleh Dion dan Tara.
Rafa yang mendengar suara teman-temannya sudah pulang, berjalan secara perlahan sambil mematikan lampu agar tidak membangunkan Sekar yang sedang tidur pulas.
"Gimana tadi perjalanannya? Makamnya ada?" bisik Rafa sesampainya di dapur agar pembicaraan mereka tidak terdengar oleh Pak Girindra.
"Kita sudah melihat makamnya dan berdoa bersama di atas pusaranya," jawab Fadly dengan nada yang penuh kekecewaan.
"Lo yakin itu bukan makam kosong? Seberapa yakin?" Rafa kembali bertanya pada teman-temannya dengan raut wajah penuh curiga.
"Raf, jaga omongan lo! Ga enak kalau kedengeran sama Pak Girindra!" tegur Tara yang merasa tidak nyaman dengan ucapan Rafa.
"Saya mengerti, pasti rasanya sulit untuk diterima tapi setelah kita mengetahui bahwa orang yang menjadi kunci keselamatan kita sudah tiada, dengan berat hati saya harus mengucapkan bahwa kita harus pasrah dan mengikuti alur dari takdir yang menuntun kita," ucap Fadly menengahi pembicaraan mereka.
Dion duduk di samping Tara, mencoba menganalisis semua kejadian yang mereka alami di Hutan ini lalu Dion menyampaikan pendapatnya pada teman-temannya.
"Menurut gue, baiknya kita tunggu nanti malam, jujur gue masih ragu tapi kita bisa menganalisa kebenarannya dari Pak Girindra nanti malam lalu kita putuskan langkah selanjutnya," jawab Dion menegahi pembicaraan mereka.
"Gue setuju sama Dion, nanti malam kita pakai logika kita jangan pakai kata iba yang berujung tipu daya, sekarang lo cepetin masaknya Dly soalnya suara perut gue udah demo dari tadi!" Rafa menepuk bahu Fadly sambil menyemangatinya.
"Saya akan mengolah bahan masakan ini menjadi hidangan terbaik. Saya teringat pesan Ibu saya, masaklah setiap makanan dengan sepenuh hati, karena kita tidak pernah tahu kapan terakhir kali kita bisa menikmatinya di dunia ini," jawab Fadly pelan, suaranya kali ini terdengar getir.
"Jangan ngomong yang aneh-aneh Dly, lo kan biasanya orang yang paling optimis diantara kita semua!" protes Tara yang ditanggapi senyuman oleh Fadly.
"Raf keadaan Sekar sekarang gimana?" tanya Fadly dengan raut wajah penuh khawatir.