20 | Kembalikan apa yang sudah kalian ambil

712 97 4
                                        

Matahari sudah mulai terbit dari arah timur, suara adzan subuh berkumandang sangat merdu di tengah perjalanan, mereka beristirahat sebentar dan mencari masjid terdekat, Shila yang sedang tidak bisa menunaikan shalat menunggu diluar sementara yang ...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Matahari sudah mulai terbit dari arah timur, suara adzan subuh berkumandang sangat merdu di tengah perjalanan, mereka beristirahat sebentar dan mencari masjid terdekat, Shila yang sedang tidak bisa menunaikan shalat menunggu diluar sementara yang lain mengambil air wudhu dan menunaikan shalat subuh, Ervan yang mempunyai kepercayaan lain menemani Shila diluar.

"Semua masalah pasti ada akhirnya, semua teka-teki pasti ada jawabannya, lo ga usah khawatir, jangan dihindarin lebih baik jalanin aja, ga ada gunanya juga kalau punya pikiran buat ngehindar, yang ada malah jadi beban," Kata Ervan yang tiba-tiba sudah berada di samping Shila tanpa Shila sadari kedatangannya, perkataan Ervan seolah bisa menebak apa yang sedang Shila pikirkan saat ini.

"Thanks," jawab Shila sambil tersenyum, perasaannya sedikit membaik mendengar perkataan Ervan.

Rafa yang memperhatikan dari kejauhan disindir Tara yang berada disebelahnya.

"Hmmm.. Hati-hati Raf, bisa-bisa lo ketikung duluan, tuh liat kubu sana udah mulai curi start!" sindir Tara cengengesan, melihat Rafa yang sedang cemberut kepanasan

"Rese!" jawab Rafa satu kata lalu pergi meninggalkan Tara dan menuju mobilnya.

Rafa membunyikan klakson dengan sengaja di parkiran masjid untuk memutus percakapan Ervan dan Shila, Tara dan Fadly tersenyum dengan kelakuan Rafa sang kakak tingkat yang sangat pencemburu sementara Dion berjalan dibelakang mereka seolah tidak memperdulikan drama teman-temannya.

Mobil Rafa melaju di tengah jalanan yang masih sepi, ditemani dengan lagu garis terdepannya fiersa besari yang diputar siaran radio pagi hari seolah mewakili seluruh perasaan Rafa pada Shila saat ini, Rafa yang sangat gusar karena pujaan hatinya lebih memilih duduk di kursi bagian tengah tepatnya disamping lelaki yang baru saja dikenalnya, terlebih lagi Shila terlihat sangat nyaman dan beberapa kali tersenyum kecil mendengar pepatah jawa yang diceritakan oleh Ervan. Banyak rasa sesal di hati Raffa, andai saja Ervan tidak ikut campur dengan masalah ini, mungkin tidak akan adalagi saingan dalam mengejar cintanya Shila. Rafa melirik Dion yang duduk disampingnya, meratapi nasib harus duduk disamping manusia kaku yang lebih banyak menjadi rival adu pendapat daripada teman dekat, lagi-lagi Rafa menarik nafas panjang membayangkan Tara dan Fadly yang duduk dibelakang pasti sedang tertawa puas menertawakan kondisi saat ini.

Rafa mengendarai mobilnya dengan cukup kencang, beberapa kali Dion mengingatkan Rafa agar lebih berhati-hati dan fokus sampai tujuan, untuk menempuh perjalanan ke rumah Nenek Rafa, mereka harus memutar balik ke arah Lawang wangi, rumah Nenek Rafa memang cukup jauh dengan kondisi jalan yang menanjak dan berkelok, belum lagi mobil harus diparkir di batas portal dan dilanjutkan dnegan berjalan kaki karena akses untuk menuju rumah nenek Rafa melewati pematang sawah dan menyebrangi sungai yang jembatannya masih terbuat dari kayu yang sudah lapuk dimakan usia.

"Batas mobil cuman bisa sampai sini, mau ga mau kita harus lanjut jalan kaki palingan cuman 15 menit, jalannya juga udah bagus cuman harus lewat sawah aja sedikit!" ucap Rafa dengan nada ketus sambil turun dari dalam mobil di ikuti teman-temannya.

Lembur KuntilanakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang