46 | Setiap nafas adalah harapan

512 76 6
                                        

Rafa yang sedang membantu Om Fabio mengangkat barang-barang ke dalam mobil menghentikan kegiatannya sejenak karena mendengar suara Hpnya yang berdering lalu Rafa mengangkat telepon yang ternyata dari Bundanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Rafa yang sedang membantu Om Fabio mengangkat barang-barang ke dalam mobil menghentikan kegiatannya sejenak karena mendengar suara Hpnya yang berdering lalu Rafa mengangkat telepon yang ternyata dari Bundanya.

"Sekarang Bunda di rumah sakit mana biar Rafa ke sana sekarang?" teriak Rafa dengan mimik wajah yang khawatir lalu Tara yang mendengar percakapan Rafa dari jauh langsung menghampiri Rafa untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

"Kenapa Raf? Ada apa?" tanya Tara semakin heran ketika melihat sorot mata Rafa berkaca-kaca seolah menahan tangis dan rasa sakit yang mendalam.

"Maaf Om dan Tante, Rafa harus pamit pulang sekarang dan mohon maaf tidak bisa membantu sampai selesai karena adik Rafa masuk rumah sakit dan sekarang Rafa harus segera menyusul ke rumah sakit," pamit Rafa dengan panik sambil mengambil kunci dan berlari ke arah mobilnya.

Tara yang melihat Rafa berlari tak kalah cekatan menyusul Rafa dan berpamitan pada Tante Nada dan Om Fabio, Rafa dan Tarapun segera meninggalkan rumah Shila dan menuju ke rumah sakit tempat Caca sekarang sedang dirawat.

"Raf hati-hati bawa mobilnya jangan sampai malah memperlambat waktu kalau ada apa-apa nanti kita tambah lama sampai ke rumah sakitnya!" tegur Tara memperingatkan Rafa yang mengendarai mobilnya dengan sangat cepat hingga mendapat teguran dari beberapa mobil yang disalipnya.

"Gue takut Tar, gue takut ada apa-apa sama Caca karena dari suara Bunda waktu nelepon gue kayanya ada sesuatu yang ga beres!" ungkap Rafa merasakan ada sesuatu yang ganjil tengah di rasakannya.

"Gue paham Raf perasaan lo sekarang tapi lo harus tetep hati-hati sama konsentrasi bawa mobilnya biar gue yang kasih tau petunjuk jalannya," jawab Tara mengingatkan Rafa sambil melihat pettunjuk jalan yang ada di Hpnya.

Sesampainya di rumah sakit, Rafa dan Tara langsung menuju tempat Bunda dan Ayahnya menunggu, dari kejauhan Rafa melihat Bundanya sedang menyeka air mata yang menetes di pipinya lalu Rafa langsung memeluk erat Bundanya meski belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi tetapi dari cara Bundanya yang berbicara dengan terbata-bata dan Ayahnya yang terus menangis membuat Rafa menyimpulkan keadaan adiknya sedang tidak baik-baik saja.

"Bunda, sebenarnya Caca kenapa?" tanya Rafa memaksa bundanya untuk berbicara.

Bunda Rafa menggelengkan kepalanya sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya tanpa bisa menjelaskan apapun pada sementara Ayahnya Rafa berusaha menceritakan musibah yang menimpa Caca.

"Caca jatuh dari balkon lantai atas karena berusaha mengambil bonekanya yang tersalip di antara pembatas balkon," ungkap ayah Rafa yang membuat perasaan Tara dan Rafa semakin tidak menentu.

"Kenapa bisa Yah? Kenapa Caca bisa sendirian main di Balkon atas?" tanya Rafa seakan tidak percaya dengan cerita Ayahnya.

"Ayah belum mengetahui secara rinci bagaimana kronologinya tetapi dari cerita Bunda, semua kejadian ini berawal ketika Bunda sedang memasak di dapur dan tidak lama kemudian terdengar suara teriakan Caca menjerit ketakutan dan meminta tolong lalu Bunda langsung berlari ke tempat suara Caca berasal tapi sayangnya Bunda datang terlambat karena Caca sudah jatuh kebawah dengan kondisi tergeletak dan berlumuran darah," cerita Ayah Rafa sambil memeluk Rafa yang terlihat sangat terpukul.

Lembur KuntilanakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang