Rasa penasaran kadang menjerumuskan kita pada suatu hal yang tidak terduga, begitu juga dengan apa yang dialami oleh Ashila, Dion, Fadly, Rafa dan juga Tara, mereka tidak sengaja masuk ke dalam sebuah desa yang sudah lama ditinggal oleh penghuninya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Cerita Dion saat pulang dari Rumah Shila.
Tidak pernah terlintas sedikitpun di hati Dion kalau lagi-lagi Dion takut merasa kehilangan tetapi bukan dengan orang yang sama melainkan orang yang berbeda, ada yang bilang perasaan bisa tumbuh karena sering bertemu. Dion mengenal Tara memang sudah lama, banyak kebersamaan yang mereka lewatkan tanpa ada rasa lebih dari sekedar teman tapi berbeda dengan sekarang, ketika Dion sudah mulai membuka hatinya dan memutuskan untuk bangkit dari keterpurukan dan mencoba mengisi sebagian hatinya dengan perasaan lain tetapi orang dari masa lalu Tara tiba-tiba datang dan membuat kedekatan Dion dan Tara sedikit berjarak, terlintas di hati Dion untuk membiarkan Tara kembali dengan masa lalunya tapi hatinya merasakan ketidak relaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam, Dion mengendarai motornya dengan cepat untuk mengejar waktun menuju jam dua belas malam, hari ini merupakan hari yang terberat untuk Dion karena harus berhadapan kembali dengan hari ulang tahun Jingga yang membuat luka di hatinya kembali menganga, perasaan tersebut membuat konsentrasi Dion sedikit buyar terlebih ketika Dion merasakan ada yang berbeda dengan keadaan motornya, mungkin fisiknya yang terlalu lelah karena menghabiskan sepanjang perjalanan dengan terguyur hujan atau memang ada sesuatu yang membuat motornya menjadi sangat berat.
Beberapa kali Dion tampak melihat ke belakang motornya dan berhenti untuk sekedar memeriksa keadaan motornya tapi tidak ada sesuatu yang menjadi penghalang, Dion kembali meneruskan perjalanan menuju kosannya. Perjalanan Dion terhenti sebentar karena terhambat lampu merah dipertigaan jalan, Dion melihat ke samping tepatnya ke sebelai kiri dan saat itu tercium wangi mie tektek dari masakan yang sedang dibuat oleh seorang anak muda di trotoar jalan, anak muda itu tampak sedang memasak pesanan orang yang sedang duduk di sebelahnya.
Dion melihat ke samping ketika seseorang berteriak kata kuntilanak sambil menunjuk ke arah belakang motor Dion, seketika suasana panik, pedagang mie tektek yang sedang menuangkan mie kedalam piring langsung meninggalkan gerobaknya dan berlari menyusul pembelinya yang sudah berlari duluan, Dion sempat melihat ke arah belakang motor tapi tidak melihat apapun, perasaan Dion berganti dengan kekhawatiran, Dion tetap menjalankan motornya dan berusaha tenang sambil membaca doa di dalam hati, beruntung setelah melewati stopan, kondisi jalan cukup ramai membuat Dion merasa sedikit lega dan akhirnya setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit Dionpun sampai ke kossannya.
Pintu pagar yang biasanya selalu terkunci di malam hari, malam ini tampak tidak terkunci, Dion menggeser pagar dan memasukan motornya ke dalam garasi, Dion lalu turun dari atas motor dan membuka helm yang dipakainya, saat sedang membuka helm Dion secara tidak sengaja melihat ke arah kaca spion, Dion melihat ada sosok wanita berkebaya sedang duduk di belakang motornya sambil menangis tersedu-sedu, Dion segera berlari masuk kamar dan mengunci pintu untuk menenangkan diri sambil mengatur nafas agar logikanya kembali normal.
Setelah merasa perasaannya sudah mulai tenang, Dion lalu beranjak dari duduknya dan mengambil sebuah buku yang berisi kumpulan tulisan dari Jingga, di buku tersebut Jingga menuliskan berbagai cerita indah, puisi dan berbagai harapan manis kedepannya bersama Dion yang sayangnya tidak bisa diwujudkan karena Jingga sudah pergi lebih dulu.