Rasa penasaran kadang menjerumuskan kita pada suatu hal yang tidak terduga, begitu juga dengan apa yang dialami oleh Ashila, Dion, Fadly, Rafa dan juga Tara, mereka tidak sengaja masuk ke dalam sebuah desa yang sudah lama ditinggal oleh penghuninya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Perjalanan pulang Rafa dan Tara
Matahari nampak kembali bersembunyi dibalik lautan awan, sentuhan angin pada pepohonan menimbulkan suara yang menemani kesunyian hutan belantara.
Sepanjang perjalanan kembali ke rumah Pak Saka, Rafa dan Tara tidak banyak bicara, mereka fokus pada langkah kaki mereka untuk menghindari kejadian serupa yang membuat Tara terjatuh dan terluka dan gangguan makhluk tak kasat mata yang mungkin menghambat perjalanan mereka.
"Tar, kalau semua permasalahan ini udah beres dan bisa berakhir sesuai rencana kita, hal pertama apa yang bakal lo lakuin buat ngerayain kebebasan lo?" tanya Rafa memecah keheningan diantara sunyinya perjalanan mereka.
"Gue mau pulang kampung ke Jogja, mau nyekar ke makam orang tua gue bareng Kak Vallen sekalian nengokin rumah masa kecil gue, yang pasti gue mau tinggal di Jogja minimal dua minggu biar nanti pas gue balik ke Bandung, penat gue udah hilang semua," jawab Tara dengan yakin, matanya berbinar membayangkan rencananya yang sudah matang.
"Sendirian?" tanya Rafa lagi dengan raut wajah curiga.
"Gue mau ngajak seseorang!" Tara menjawab dengan senyum manisnya.
"Siapa? Gue ga bakal lo ajak?" Rafa semakin penasaran ketika melihat wajah Tara memerah seolah menyembunyikan sesuatu.
"Rahasia!" jawab Tara singkat membuat Rafa semakin penasaran.
"Siapa sih? Akhir-akhir ini lo jadi misterius, kemarin-kemarin murung seharian kaya orang patah hati, hari besoknya malah kebalikannya senyum-senyum sendiri, jujurlah sama gue!" Rafa mulai mencurigai Tara menyembunyikan sesuatu dari dirinya.
"Gue mau ngajak Bi Eti lah, emangnya siapa lagi? Bi Eti kan udah lama banget ga ikut gue ke Jogja, hitung-hitung nostalgia masa mudanya Bi Eti," Tara mengarang alasan untuk mengalihkan pikiran Rafa agar tidak terus mencurigainya.
"Lo sendiri beres ini mau ngelakuin apa?" giliran Tara yang bertanya balik pada Rafa.
"Gue mau ngeberesin kuliah gue, menata hidup gue jadi lebih baik, kerja keras sambil nabung buat bikin istana kecil keluarga gue nantinya," jawab Rafa membuat Tara tak percaya mendengarnya.
"Sejak kapan lo mentingin kuliah? Rasanya gue kaya mimpi tapi gue dukung perubahan lo! Gue yakin Shila pasti seneng kalau lo udah punya tujuan hidup yang bagus buat masa depa," Tara menyemangati Rafa dan bangga dengan perubahan sahabatnya yang drastis.
"Kalau gue udah berusaha maksimal tapi jodoh gue bukan Shila, gimana? Kalau akhirnya Shila tetep ga mau sama gue, gimana?" tanya Rafa meminta pendapat Tara.
"Gue ga bisa jawab Raf karena gue bukan Tuhan, lo serahin sama yang di atas hasil akhirnya tapi gue yakin kalau Tuhan pasti tau yang terbaik, yang penting lo semangat terus!" jawab Tara kembali membakar semangat Rafa.
Percakapan kecil diantara mereka, membuat langkah kaki mereka menjadi ringan dan menuntun mereka kembali ke rumah Pak Girindra dengan tangan kosong, Saat itu Rafa berusaha membuka pintu depan rumah Pak Saka tapi terkunci dari dalam, Tara menyarankan untuk masuk melewati pintu lain yaitu kamar yang ditempati Sekar, Rafa menyetujui usul Tara dan merekapun berjalan secara perlahan menaiki tangga, sayup-sayup mereka mendengar suara Dion dan Sekar yang sedang berbicara, ada perasaan lega di hati Rafa ketika mendengar suara Sekar yang artinya kondisinya Sekar semakin membaik.