Rasa penasaran kadang menjerumuskan kita pada suatu hal yang tidak terduga, begitu juga dengan apa yang dialami oleh Ashila, Dion, Fadly, Rafa dan juga Tara, mereka tidak sengaja masuk ke dalam sebuah desa yang sudah lama ditinggal oleh penghuninya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Perjalanan Tara dan Dion ke Sumur Keramat
Rasa sayang itu unik bisa tumbuh karena perbedaan, bisa saling mengisi karena kekosongan, bisa tercipta karena adanya kenyamanan.
Takdir Tuhan memang telah menggariskan jalan kehidupan dengan banyak misteri, salah satunya tentang dua insan yang awalnya saling membenci, saling mencaci di dalam hati, saling membatasi dan menutupi diri hingga kini keduanya saling melindungi, saling berbagi rasa di dalam sanubari.
Genggaman erat dari tangan Dion terasa hangat menjalar membuat energi baru untuk Tara, menghilangkan rasa takut dan menciptakan rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Kenapa?" jawab Dion dengan heran ketika melihat wajah Tara memerah tanpa sebab.
"Lo ga pake jaket? Udara udah mulai dingin, nanti lo masuk angin! " Tara yang merasakan cuaca mulai dingin heran dengan Dion yang hanya memakai kaos tangan pendek dan tidak merasa kedinginan sedikitpun.
"Nanti aja pakenya, kata Rafa lo ngalamin gangguan lagi? Gangguan gimana?" tanya Dion penasaran dengam cerita Rafa yang tidak tuntas.
"Gue ga bisa cerita disini, waktunya ga tepat nanti gue ceritain semuanya sama kalau udah balik ke rumah Pak Girindra, sekarang kita fokus cari sumurnya biar cepet pulang lagi," Tara tidak berani menjawab pertanyaan Dion karena khawatir makhluk yang tadi mengganggunya masih berada di sekitar mereka.
Dion mengangguk menyetujui ucapan Tara dan melanjutkan perjalanan, Dion memastikan perjalanan yang dilalui mereka aman dan pulang dengan selamat.
"Tara, dari sini kita ambil arah ke mana?" Dion yang merasa ragu dengan arah jalan meminta Tara melihat petunjuk dari Pak Girindra.
"Dari tempat kita berdiri sekarang, kita tinggal ngikutin jalan, sumurnya udah engga terlalu jauh lagi," jawab Tara sambil memegang kertas berisikan petunjuk dari Pak Girindra.
Dion kembali memegang tangan Tara dengan erat saat melewati semak belukar, dari arah kejauhan terlihat sumur yang mereka cari sudah terlihat, sebuah sumur tua yang terlihat mengerikan, Tara memilih untuk selalu berada di belakang Dion karena merasa takut dan khawatir ketika melihat sumur tersebut seolah ada sesuatu yang sedang mengintai mereka.
"Tunggu sebentar ya, gue mau ngambil dulu airnya, lo harus tetap disini!" perintah Dion tidak ingin dibantah lalu perlahan melepaskan genggaman tangan Tara yang erat.
"Hati-hati fokus sama keadaa sekitar!" ucap Tara meminta Dion untuk berhati-hati.
Dion mengangguk lalu menjatuhkan ember kecil ke dalam sumur sambil memegang sisi tali yang satunya, setelah merasa ember terisi penuh, Dion menarik talinya secara perlahan hingga embernya sampai ke atas lalu Dion menuangkan air keramat tersebut ke dalam kendi khusus milik Pak Girindra dan memasukannya ke dalam tas.