Rasa penasaran kadang menjerumuskan kita pada suatu hal yang tidak terduga, begitu juga dengan apa yang dialami oleh Ashila, Dion, Fadly, Rafa dan juga Tara, mereka tidak sengaja masuk ke dalam sebuah desa yang sudah lama ditinggal oleh penghuninya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Perjalanan Tara dan Rafa.
Hati Tara tak menentu, rasanya ingin cepat kembali, ada rasa tak rela sebagai wanita biasa membiarkan orang yang kini mengisi hatinya menjaga wanita lain selain dirinya, Tara melangkahkan kakinya dengan cepat sambil memegang kertas yang ada di tangannya, Rafa yang tertinggal jauh semakin heran dengan sikap Tara yang tidak biasa.
"Ada yang lo sembunyiin ya dari gue? Ngaku lo!" tanya Rafa penuh curiga.
"Takut kejebak hujan di jalan!" Tara menjawab dengan asal tanpa mengurangi kecepatan berjalannya.
"Yakin? Dari kemarin gue perhatiin, musuh lo jadi perhatian banget sama lo?" Rafa kembali bertanya membuat Tara yang sedang meneguk air minum dari botolnya tersedak.
"Uhuk-uhuk," suara batuk Tara yang terdengar membuat Rafa tertawa terbahak-bahak.
"Ya kalau ga ada apa-apa slow aja, ga usah sampai keselek gitu," kata Rafa lagi seolah merasa tidak bersalah.
Tara melirik tajam ke arah Rafa tanpa berkata-kata lalu teringat sebuah benda penting yang seharusnya mereka bawa sedangkan Rafa berjalan dengan tangan kosong.
"Kendi yang dikasih Pak Girindra, di bawa sama lo Raf?" tanya Tara memastikan.
"Lah? Tadi bukannya lo yang disuruh bawa sama Pak Girindra?" Rafa balik bertanya sambil mengambil ransel yang dipakai oleh Tara.
"Gue kan bawa ransel yang isinya kebutuhan kita! Tadi kan jelas-jelas kendinya di masukin ke tas hitam buat lo bawa!" jawab Tara geram karena menghabiskan waktu sia-sia karena kecerobohan mereka.
"Terus sekarang gimana? Harus balik lagi?" Rafa menggerutu kesal karena membayangkan harus kembali lagi ke rumah Pak Girindra dengan jarak yang cukup jauh dan tentunya menghabiskan tenaga mereka.
Tara tidak menjawab apapun karena malas berdebat dengan Rafa yang tidak pernah mau kalah, mereka kembali berjalan menuju rumah Pak Girindra dengan berat hati, terlintas di benak Tara tentang keadaan Dion yang sedang menjaga Sekar.
"Apa yang sedang Dion lakukan saat ini bersama Sekar? Bagaimana perasaan Dion ketika melihat Sekar tidak berdaya?" Tara yang tersadar dari lamunannya dengan segera menghapus pikiran buruknya lalu Rafa yang sedang berjalan di depannya tiba-tiba meminta Tara untuk berhenti dan bersembunyi dibalik pohon.
"Tar nunduk!" Rafa berbisik meminta Tara untuk bersembunyi ketika melihat sesuatu yang mengagetkannya.
Rafa mulai mengamati keadaan sekitar dan kembali memberikan kode agar Tara tidak bersuara lalu Rafa menunjuk ke arah seorang wanita berdaster coklat lusuh yang sedang menggendong sesuatu di balik kain batiknya, seketika tubuh Rafa dan Tara terasa merinding ketika lagi-lagi harus melihat kejadian diluar nalar berada di hadapan mereka, wanita tersebut berjalan menembus pohon lalu hilang seketika, setelah sosok tersebut hilang mereka melangkahkan kaki dengan waspada seolah bisa merasakan sosok tersebut tidak benar-benar pergi. Beberapa saat setelah melanjutkan perjalanan, kaki Rafa nyaris menginjak sesuatu, sebuah samping jarik yang lusuh dan usang, Rafa langsung mengambil kain tersebut dan memperlihatkannya pada Tara, mereka memperhatikan kain itu dengan seksama.