Rasa penasaran kadang menjerumuskan kita pada suatu hal yang tidak terduga, begitu juga dengan apa yang dialami oleh Ashila, Dion, Fadly, Rafa dan juga Tara, mereka tidak sengaja masuk ke dalam sebuah desa yang sudah lama ditinggal oleh penghuninya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gemerisik dari suara dedaunan menyambut kedatangan mereka, kali ini Rafa sudah hapal dengan jalur sepanjang jalan dan beruntung jalur perjalanan tidak lagi berubah, Rafa sudah menepikan mobilnya dan membulatkan tekadnya untuk apapun yang terjadi dia harus membawa Shila pulang atau tidak pulang sama sekali, Rafa lalu meminta teman-temannya segera bersiap dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
"Leuweung sanget kalau di artikan dari Bahasa Sunda ini artinya hutan yang angker," kata Fadly sambil membaca papan kecil yang ada dihadapannya lalu Tara menghampiri Fadly dan membaca tulisan yang sangat kecil terdapat dibawahnya dengan tinta merah.
"Jangan masuk kalau masih mau pulang!" Tara membaca tulisan itu sambil memegang kedua tangannya yang tiba-tiba terasa dingin.
Rafa memberikan garam yang diberikan oleh Neneknya pada Ervan lalu Ervanpun menaburkan garam itu di sepanjang jalan, Ervan memberi tahu pada teman-temannya bahwa fungsi garam ini adalah meminimalisir energi negatif yang ada, Ervan memberikan semangat dan meyakinkan teman-temannya bahwa perjalanan mereka kali ini tidak akan pulang dengan hasil yang sia-sia.
Angin tiba-tiba berhembus sangat kencang, Fadly membuka kompas yang ada di sakunya, kompas berputar dengan sangat cepat, Fadly lalu meminta teman-temannya berjalan dengan sangat rapat, tiba-tiba kabut menghadang dan mengganggu pandangan mereka menjadi kabur, mereka tidak bisa melihat apapun di sekeliling hutan, dari balik pepohonan terdengar suara cekikikan kuntilanak yang sangat mengerikan seolah berusaha menggoyahkan tekad mereka yang sedari tadi sudah di pupuk dengan kuat, Ervan lalu berinisiatif menghentakkan batang kayu yang diberikan Nenek Rafa ke tanah sebanyak tiga kali sambil berusaha meraba jalan, batang kayu yang dipegang Ervan seperti menuntun mereka untuk menembus pagar kabut yang sangat tebal dan samar-samar mereka mulai bisa melihat lagi keadaan sekitar.
Tara mendengar kembali suara Shila yang memanggil-manggil Namanya dengan lirih tetapi dengan segera Dion dan Fadly menyadarkan Tara untuk tidak mengikuti panggilan itu, posisi Tara sekarang berada di tengah tepat dibelakang Rafa, Rafa mulai seksama memperhatikan keadaan sekitar karena matahari sudah mulai terbenam dan keadaan akan mungkin semakin mencekam, Ervan mempercepat langkahnya, tiba-tiba langkah Ervan terhenti ketika melihat tempat yang sebelumnya belum pernah mereka lihat, puluhan makam tanpa nama berjejer disamping kiri dan kanan mereka yang hanya ditandai dengan batu sebagai kepala pusara.
"Kuburan di tengah hutan? Cobaan apalagi ini?" Tara tiba-tiba bersuara memecahkan keheningan karena tiba-tiba teringat dengan perjalanan saat ke Situ Lembang yang menemukan makam yang hampir serupa.
"Tolong jangan ribut dulu, penghuni dari pusara ini sedang memantau kita dari kejauhan jadi jangan sampai kedatangan kita membangunkan mereka!" tegur Ervan dari arah depan.
"Lo diem aja jangan berisik, fokus ikutin jalan!" Dion meminta Tara untuk diam, Tara hanya menatap Dion sambil sesekali mengigit bibirnya karena merasa sangat takut.
Malam sudah benar-benar tiba mereka sudah berputar-putar cukup lama sampai akhirnya dari kejauhan mereka melihat dua pohon beringin berdiri tegak persis dengan cerita yang digambarkan oleh Nenek Rafa, Ervan membagikan bunga tujuh rupa masing-masing satu genggaman pada teman-temannya dan tiba-tiba dari arah belakang mereka melihat kuntilanak berterbangan menuju pohon beringin yang sedang mereka tuju dengan jumlah sangat banyak, kuntilanak itu duduk disetiap ranting pohon sambil tertawa cekikikan menjulurkan lidahnya dan lagi-lagi tercium bau busuk yang sangat menyengat, mereka merasa sangat ketakutan dan hampir saja mereka akan berputar balik tapi Ervan mengingatkan mereka untuk tetap maju dan tidak menghiraukan kuntilanak-kuntilanak itu, mereka semua berbaris sambil memejamkan mata dan mengambil sejumput bunga yang berada di genggaman tangannya lalu menebarkannya sesuai aba-aba dari Ervan, kuntilanak-kuntilanak yang sudah siap untuk mendekati mereka seperti tertahan oleh bau bunga yang mereka lemparkan, mereka berjalan cepat sambil melewati pohon beringin kembar itu.