64 | Selangkah menuju kematian

474 66 13
                                        

Di dalam hidup ada sebuah perasaan sakit dan kecewa yang sangat sulit untuk diungkapkan, sebuah rasa sakit yang menggoreskan luka begitu dalam hingga membuat air mata terbelenggu dan menyisakan sesak di setiap hela nafas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di dalam hidup ada sebuah perasaan sakit dan kecewa yang sangat sulit untuk diungkapkan, sebuah rasa sakit yang menggoreskan luka begitu dalam hingga membuat air mata terbelenggu dan menyisakan sesak di setiap hela nafas.

Tara masih terjaga dari tidurnya karena tubuhnya enggan bekerjasama untuk melepas lelah, perasaannya kian tak menentu karena merasakan sakit yang lebih dalam dari sebelumnya, mungkin ini caranya Tuhan untuk menjauhkan Tara dari orang yang sempat Tara kagumi dan menghapus kenangan yang baru saja rasanya akan Tara simpan dihatinya.

Tidak pernah terlintas sebelumnya di dalam benak Tara begitu marahnya Dion ketika tidak sengaja mendengar obrolan Rafa bersama Fadly dan Tara yang membicarakan keterlibatan Arya yang sudah mendonorkan darah untuk Dion ketika Dion tidak sadarkan diri dan ada di masa yang kritis, Dion yang baru saja mengetahui kenyataan tersebut langsung naik pitam dan tidak bisa mengontrol emosinya, Saat itu Sekar sudah berusaha menahan Dion tapi amarah Dion tidak dapat di bendung lagi dan berakhir dengan bentakan untuk Sekar, Dion yang datang dari balik pepohonan dengan raut wajah yang sangat marah membuat teman-temannya yang lain terdiam dan menyesali pembicaraan yang seharusnya mereka rahasiakan.

"Walaupun gue dalam keadaan ga sadar bukan berarti gue sudi nerima donor darah dari bajingan itu, seharusnya hari itu lo semua biarin gue mati daripada jadiin orang itu pahlawan dihidup gue!" bentak Dion penuh penyesalan dan kekecewan.

"Asal lo tau kita semua bukan ga usaha tapi ga ada cara lain karena stock darah di PMI juga lagi kosong! Kita udah berusaha nyari golongan darah yang sama kaya golongan darah yang lo punya ke temen-temen yang lain tapi hasilnya nol besar! Gue sama Fadly dan Tara ga punya pilihan lain, lo kira gue sudi nerima pertolongan dari si Arya? Kalau bukan gara2 Tara sama Fadly yang terus desek gue, ga bakal pernah setuju dan mungkin gue sama kaya lo bakal biarin lo mati aja sekalian! Mau lo selamat atau engga juga sebenernya ga berdampak penting di hidup gue! " jawab Rafa yang tidak ingin disalahkan dan terpancing emosi dengan perkataan Dion.

Dion terlihat menatap ke arah Tara dengan sorot matanya yang tajam penuh kekecewaan, tangannya mengepal menahan amarah yang bergejolak di dalam dirinya, Dion berjalan mendekati Tara yang terlihat ketakutan dan penuh rasa bersalah.

"Lo mau tau penyesalan terbesar di hidup gue sekarang? Penyesalan terbesar gue adalah nyelamatin lo! Harusnya dulu gue ga usah balik lagi buat jemput lo, gue seharusnya ga pernah peduli sama keselamatan lo kalau akhir-akhirnya lo nyelamatin gue dengan minta tolong orang yang paling hina di hidup gue! Thanks buat semuanya Tar, gue salah nilai lo selama ini, ternyata lo masih tetep sama, munafik!" bentak Dion dengan perkataannya yang tajam membuat semua orang terdiam lalu Dion meninggalkan Tara yang masih terdiam tanpa kata dan menyisakan keheningan diantara semuanya.

Beberapa saat kemudian tampak Dion keluar dari dalam tenda dengan membawa ransel dan senter, Dion berniat mengakhiri perjalanan ini dan meninggalkan teman-temannya dengan menanggung semua resiko yang ada karena diantara mereka sudah tidak adalagi yang bisa Dion percaya. Sekar yang melihat Dion pergi sendirian berniat untuk menyusul Dion karena sangat berbahaya untuk Dion jika nekat pulang sendirian dan bisa jadi Dion tidak akan pernah menemukan jalan keluar.

Lembur KuntilanakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang