Rasa penasaran kadang menjerumuskan kita pada suatu hal yang tidak terduga, begitu juga dengan apa yang dialami oleh Ashila, Dion, Fadly, Rafa dan juga Tara, mereka tidak sengaja masuk ke dalam sebuah desa yang sudah lama ditinggal oleh penghuninya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di ruangan Pers.
Rafa sangat sibuk menyusun artikel dan mengedit beberapa mentahan foto sehingga tidak menyadari kalau Dion sudah berada di ruangan Pers dan tengah mengambil air minum untuk melegakan tenggorokannya yang terasa kering karena rasa panik yang tadi menyerangnya.
"Yang lain kemana?" tanya Dion pada Rafa.
Rafa melihat sebentar ke arah Dion karena baru menyadari kalau sudah ada orang lain di ruangan Pers selain Rafa, Rafa lalu beranjak dari duduknya untuk menutup jendela yang sedari tadi menimbulkan suara berisik karena hembusan angin yang kencang.
"Shila lagi ada kuliah dulu kalau Tara katanya ga datang ke kampus soalnya lagi ngejar deadine ngumpulin tugas Mister Haerul terus Si Fadly bukannya bareng sama lo?" Rafa menjawab pertanyaan Dion sekaligus bertanya lagi.
"Fadly masih ada ujian," jawab Dion singkat lalu duduk sambil membuka laptopnya.
Ada rasa penasaran tentang sosok yang diliatnya dan sempat terpikir oleh Dion, apakah mata batinnya kembali terbuka sehingga lagi-lagi harus melihat sosok makhluk gaib dengan wujud yang menyeramkan? Tapi Dion mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Rafa dan menganggap kejadian yang baru menimpanya adalah sebuah kesialan yang tidak terduga.
Dari arah luar terdengar suara derap langkah kaki seseorang yang sedang berlari lalu Dion dan Rafa kompak melihat ke arah pintu, mereka sangat kaget ketika melihat Om Fabio datang dengan nafas yang terengah-engah, Rafa dengan segera mendekati Om Fabio.
"Shila ada dimana sekarang?" tanya Om Fabio pada Dion dan Rafa dengan nada panik.
"Masih di kelas Om, ada jadwal kuliah sampai sore," jawab Rafa dengan perasaan yang tidak nyaman ketika melihat Om Fabio panik.
Dion berjalan mendekati Om Fabio dan Rafa untuk mencari tahu apa yang terjadi.
"Oma Shila sudah pergi meninggalkan kita, Oma berpulang karena mengalami gagal nafas sehingga nyawanya tidak bisa diselamatkan," jawab Om Fabio dengan nada suara bergetar dan raut wajah yang sangat sedih.
"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun," ucap Dion dan Rafa dengan sangat terpukul karena tidak menyangka mendengar kabar duka di hari ini.
Setiap kabar duka terdengar begitu menyakitkan karena tidak ada seorangpun yang siap akan kehilangan, terpisah dengan dunia yang berbeda dan hanya menyisakan kenangan yang kadang kita baru sadari betapa berartinya kehadiran seseorang tersebut setelah dirinya tiada, Tuhan menguji keikhlasan kita ketika harus menjemput orang yang kita cintai lebih dulu dan menyadarkan kita bahwa dunia hanya sementara, kelak akan dipersatukan lagi dalam sebuah keabadian hanya waktu penjemputannya saja yang berbeda.
Rafa lalu mengajak Om Fabio masuk ke ruangan Pers sementara Dion sudah pergi ke kelas Shila untuk menjemputnya agar Shila tidak curiga dan menangis histeris di kelas jika Om Fabio yang menjemputnya langsung. Dion mengetuk pintu kelas, terlihat Bu Mami seorang dosen senior sedang menilai presentasi dari mahasiswanya, Bu Mami berjalan menghampiri Dion yang menunggunya diluar, Bu Mami sudah tidak asing dengan Dion karena sempat beberapa kali bertemu Dion di ruang dosen lalu Dion menceritakan maksud kedatangannya dan langsung meminta Shila untuk segera berkemas dan mengikuti Dion.