18 | Kesurupan masal

765 99 5
                                        

Angin semakin kencang berhembus, gemuruh petir belum juga usai, sayup-sayup terdengar suara burung yang saling bersahutan, waktu menunjukan pukul 01

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Angin semakin kencang berhembus, gemuruh petir belum juga usai, sayup-sayup terdengar suara burung yang saling bersahutan, waktu menunjukan pukul 01.00 dini hari, Shila yang masih terjaga didalam sleeping bag tidak bisa memejamkan matanya, dilihatnya didalam tenda Tara dan Nisa sudah tertidur pulas, sayup-sayup terdengar langkah kaki diluar tenda, derapan langkah kaki yang berat tidak hanya dari satu orang, Shila kebingungan dengan apa yang didengarnya, dia perlahan mengguncangkan badan Nisa dan membangunkannya.

"Nis.. nis, bangun, coba dengerin!" bisik Shila pelan.

"Kenapa Shil?" tanya Nisa mengusap matanya.

"Itu.. itu dengerin diluar Nis, kaya ada suara orang," kata Shila meyakinkan.

Nisa mendengarkan dengan seksama, mereka memutusukan untuk membangunkan Tara agar menemani mereka dengan berbagai kemungkinan yang terjadi, Tara yang memang penakut memilih tidak bangun dan menutup erat sleeping bagnya, Shila mencoba menghubungi Rafa melalui handy talky tapi tidak ada jawaban, Shila dan Nisa berpelukan dengan rasa takut yang berkecamuk, suara itu semakin dekat terdengar, mereka sangat ketakutan, terdengar jeritan dari luar Tenda, suara jeritan pria dengan bentakan keras, Shila dan Nisa menutup telinga, begitu juga Tara.

Situasi di tenda lain.

"Bro bangun, bangun, coba liat diluar!" Panji membangunkan Dion, Fadly dan Ichsan.

Mereka terperanjat kaget dan perlahan melihat keluar jendela tenda, betapa terkejutnya mereka Ketika melihat penampakan tentara berbaris seperti sedang latihan dengan pakaian lusuh, penuh darah dan yang paling membuat mereka takut, semua yang berbaris tanpa kepala, hanya menyisakan leher dan badan kebawah, terlihat banyak tetesan darah menetes ditempat mereka beridiri, hampir saja Fadly menjerit, untung Ichsan bisa membekap mulut Fadly.

"Biarkan saja, jangan diganggu," ujar Panji mencegah teman-temannya berbuat hal lain.

"Tapi mereka berjalan mendekati tenda anggota baru, saya takut yang lain kenapa-napa!" kata Fadly gugup tapi tak bisa berbuat apapun.

Dion mengintip lewat jendela tenda dengan lekat, saat Dion sedang memperhatikan tiba-tiba dia melihat satu sosok lainnya berjalan menghampiri tenda mereka dengan membawa suatu barang yang tak lain adalah kepalanya sendiri lengkap dengan tangan yang berlumuran darah, melihat penampakan yang mengerikan berdiri tegak menghampiri mereka, mereka segera menutup wajah dengan selimut, berharap sosok tadi cepat menghilang dan tidak mengganggu mereka.

Terdengar suara sletting tenda seperti terbuka dari luar, Rafa berusaha mengintip kecil dari balik selimut, angin berhembus masuk ke dalam tenda, terasa tenda bergoyang tak beraturan, Rafa melihat sosok kepala tanpa badan dengan topi tentara dan muka hancur yang menyeramkan mengintip dari pintu tenda, Rafa menggigit bibirnya sendiri dan mengepalkan tangannya, berusaha tidak bersuara. Tak lama kemudian terdengar suara teriakan dari tenda wanita anggota baru, suara menggeram dan cekikikan, mau tak mau mereka membuka selimut dan untung saja sosok itu sudah menghilang, mereka bertiga berlari keluar tenda, Dion berjalan dengan kaki yang tertatih membangunkan Dadang dan menuju tenda Shila lalu tak lama kemudian terdengar teriakan dari tenda Shila, Dion cepat-cepat membuka sletting tenda. Shila, Nisa dan Tara berlari keluar dari tenda, tampak wajah mereka sangat pucat, air mata diwajah Nisa mengalir deras, Shila dan Tara berteriak ketakutan, Dion mengajak mereka ke tenda calon anggota baru, untuk melihat keadaan yang lainnya.

Lembur KuntilanakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang