Rasa penasaran kadang menjerumuskan kita pada suatu hal yang tidak terduga, begitu juga dengan apa yang dialami oleh Ashila, Dion, Fadly, Rafa dan juga Tara, mereka tidak sengaja masuk ke dalam sebuah desa yang sudah lama ditinggal oleh penghuninya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Daerah Gunung Halu memang terkenal dengan daerah yang masih asri, pohon-pohon menjulang tinggi, banyak deretan rumah kosong yang hanya dibeli oleh pemiliknya sebagai investasi masa depan, Tara sedikit bergidik ketika jalanan mulai menuruni perkebunan karena pencahayaan sangat minim dan udarapun sangat dingin.
Dion memacu laju sepeda motornya dengan cepat sehingga angin terasa berhembus lebih kencang dan membuat udara dingin semakin terasa menghempas tubuh, Tara yang sedari tadi banyak meminum air saat di rumah Bu Darmi karena memaksa untuk makan sambal terasi yang pedas membuat Tara saat ini ingin buang air kecil dan tidak mungkin menahanannya hingga sampai rumah karena perjalanan mereka masih sangat jauh.
"Dion?" sapa Tara dari belakang.
"Kenapa?" jawab Dion singkat.
"Daerah sini ada pom bensin atau mini market ga?" tanya Tara meringis.
"Mungkin setengah jam lagi baru nemu pom bensin, emang lo mau beli apa?" tanya Dion heran dengan pertanyaan Tara.
"Gue kebelet mau ke toilet," jawab Tara terdengar memelas.
"Tahan bentar ya, gue sambil cari-cari dulu rumah warga daerah sini," jawab Dion mencari solusi karena tidak memungkinkan mencari mini market atau pom bensin,
Dion lalu mencari rumah warga yang sekiranya Tara bisa menumpang ke kamar mandi dan beruntung tidak lama setelah percakapan mereka, Dion melihat seorang Bapak paruh baya sedang membakar sampah di depan rumahnya, Dionpun menepikan motornya lalu mendekati bapak tersebut, awalnya Tara menolak karena takut tapi Dion memaksa dan mau tidak mau Tara harus menuruti apa yang Dion perintahkan.
"Pak, permisi temen saya mau ikut ke kamar mandi? Apa boleh menumpang di rumah Bapak? " tanya Dion dengan sopan.
Bapak tersebut melihat ke arah Dion dan Tara, awalnya Bapak tersebut tampak tidak ramah tapi ketika Dion menceritakan maksud dan tujuannya, akhirnya beliau menunjukan kamar mandi yang ada di bawah, Dion berterimakasih lalu mengantar Tara menuju kamar mandi yang di maksud, untuk menuju kamar mandi mereka harus menuruni beberapa anak tangga yang curam, kamar mandi terletak di bagian bawah dan dekat dengan sungai yang mengalir, Tara dan Dion berjalan menuju kamar mandi yang minim penerangan itu, tampak dua buah kamar mandi bersebelahan dengan bangunan tua dan kayu-kayunya yang rapuh, tampak juga sebuah pohon beringin besar yang ada di belakang kamar mandi.
"Lo bener ya jangan kemana-mana? Tunggu gue disini!" ancam Tara pada Dion.
"Iya gue tunggu disini, lo jangan lama nanti keburu malem!" jawab Dion dengan tegas.
Tara dengan berat hati melangkah menuju kamar mandi sambil menyibakkan sarang laba-laba yang ada di pintu kamar mandi sedangkan Dion menunggu tidak jauh dari kamar mandi sambil melihat ke arah sungai yang cukup deras alirannya.
Tidak lama kemudian, Tara terlihat sudah berada di belakang Dion tanpa Dion sadari kedatangannya lalu Dion segera mengajak Tara untuk melanjutkan perjalanan karena hari sudah semakin larut malam, Dion melihat Tara yang terlihat lebih pucat dan sedari tadi tidak mengeluarkan sepatah kata apapun tapi Dion tetap berpikir positif mungkin Tara sedang marah karena Dion tetap memaksa Tara ke kamar mandi meski kamar mandi itu terlihat menyeramkan. Sebelum melanjutkan perjalanan, Dion sempat mencari sosok Bapak yang tadi ditemuinya untuk mengucapkan terimakasih tapi sosok Bapak tersebut menghilang bahkan api dari sampah yang dibakarnya pun sudah padam lalu Dion memutuskan untuk segera meninggalkan tempat tersebut karena perasaannya tidak enak.