52 | Kursi roda berpenghuni

527 75 16
                                        

Langit sudah mulai gelap ditinggalkan matahari yang sudah terbenam di sisi barat lalu tidak lama kemudian terdengar suara adzan berkumandang memanggil mereka untuk berdialog dengan Sang Pencipta

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Langit sudah mulai gelap ditinggalkan matahari yang sudah terbenam di sisi barat lalu tidak lama kemudian terdengar suara adzan berkumandang memanggil mereka untuk berdialog dengan Sang Pencipta. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya mereka mulai memasuki Kota Sukabumi tetapi sangat disayangkan banyak rumah makan yang tutup karena mereka bukan datang di akhir pekan dan suasanapun terlihat lebih sunyi.

"Kita istirahat disini aja, takutnya di depan udah ga nemu rumah makan lagi," ucap Rafa tanpa meminta persetujuan teman-temannya yang lain.

Satu persatu dari mereka mulai turun dari dalam mobil dan memasuki rumah makan yang di jaga oleh seorang Ibu yang sudah sepuh beserta anak laki-lakinya yang sudah dewasa.

"Bu punten saya mau ikut ke kamar mandi, kamar mandinya ada di sebelah mana Bu?" tanya Fadly pada Ibu yang sedang menyiapkan makanan untuk mereka.

"Kamar mandinya ada di belakang nanti biar anak Ibu yang menunjukan kamar mandinya," jawab Ibu tersebut sambil memanggil anaknya yang ternyata tuna wicara.

Makanan yang disediakan di warung tersebut terbatas dan tidak banyak menu yang tersedia tetapi cukup untuk mengisi kekosongan perut mereka dan menjadi bekal tenaga untuk menempuh setengah perjalanan lagi menuju Leuweung seke beureum.

"Dari sini kira-kira berapa lama lagi Dly perjalanan buat sampai kesana?" tanya Rafa pada Fadly sambil melahap habis makanan yang ada di piringnya.

"Kurang lebih dua jam lagi kalau tidak ada halangan selama perjalanan," jawab Fadly sambil pamit untuk beribadah diikuti Dion yang berjalan di belakangnya.

"Kak Dion tunggu sebentar!" pinta Sekar menghentkan langkah Dion dan Fadly yang sudah berjalan beberapa langkah menuju mushola yang berada di sebelah rumah makan tersebut.

"Ada apa?" tanya Dion dengan singkat.

"Kak Dion udah minum obat yang setelah makan?" tanya Sekar mengingatkan Dion dengan penuh perhatian membuat Rafa tertawa seolah menyindir mereka.

Dion hanya menjawab dengan anggukan lalu kembali berjalan bersama Fadly ke Mushola sedangkan Tara tiba-tiba kehilangan selera makannya dan memilih untuk menunggu diluar sambil menikmati udara malam sebelum melanjutkan perjalanan.

"Ko gue ngerasa lo perhatian banget sama Dion? Apa jangan-jangan lo udah kepelet sama dia?" tanya Rafa yang langsung membuat pipi Sekar merah merona.

"Sekar cuman mengingatkan Kak Dion sebatas perhatian antara mahasiswa dan asisten Dosen," jawab Sekar terbata-bata dan salah tingkah.

"Sebenernya mau lebih juga ga ada yang ngelarang, gue kedepan bentar ya mau vape dulu," izin Rafa yang dijawab dengan anggukan oleh Sekar lalu menyusul Tara kedepan.

Dari jauh terdengar suara Tara yang sedang menelepon seseorang tetapi dari ekspresi wajahnya terlihat Tara mendapat berita yang tidak cukup baik dan kembali membuat wajahnya semakin murung.

Lembur KuntilanakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang