61 | Keputusan yang terbaik

462 69 7
                                        

Suara Rafa terdengar menggelegar dari balik tenda membangunkan Sekar dan Tara yang sedang terlelap dalam mimpinya, Sekar yang pertama bangun langsung melihat jam di tangannya dan pamit ke tenda sebelah untuk mengingatkan Dion agar meminum obatnya ...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Suara Rafa terdengar menggelegar dari balik tenda membangunkan Sekar dan Tara yang sedang terlelap dalam mimpinya, Sekar yang pertama bangun langsung melihat jam di tangannya dan pamit ke tenda sebelah untuk mengingatkan Dion agar meminum obatnya tepat waktu sedangkan Tara masih mengumpulkan nyawa dan bersiap untuk menjalani hari-hari yang baru, menutup lembaran penuh harapannya dan mengembalikan niat awalnya bahwa perjalanan yang Tara tempuh kali ini bersama teman-temannya untuk menyelesaikan semua kesalahan yang telah mereka perbuat.

Rafa yang melihat Sekar sudah keluar dari tenda lalu berinisiatif masuk kedalam dan melihat keadaan Tara.

"Hei, gimana keadaan lo sekarang? Keluar yuk sumpek di dalem tenda terus, lo butuh ngehirup udara seger biar lebih fresh!" ajak Rafa pada Tara yang terlihat masih melamun.

"Iya gue juga udah bosen tiduran terus kaya orang sakit, bentar gue ambil jaket dulu!" jawab Tara mengambil jaket yang ada di dalam ranselnya dan segera mengikuti Rafa.

Diluar tenda tampak Fadly sedang menyiapkan makanan sedangkan Dion dan Sekar terlihat sedang menumpuk kayu untuk api unggun, Tara hanya tersenyum ke arah Dion dan Sekar tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun lalu duduk di sebatang kayu bersama Rafa, Rafa yang melihat gelagat aneh dari Tara langsung bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Tara karena sikapnya terasa begitu canggung.

"Lo kenapa? Ko kayanya ada yang aneh?" tanya Rafa melihat Tara penuh kebingungan.

"Apanya yang aneh? Namanya juga orang baru sembuh dari sakit ya wajarlah kalau ga langsung cengengesan!" jawab Tara sambil tertawa menutupi rasa sedihnya.

"Besok lo udah siap ngelanjutin perjalanan? Gue kangen banget sama Shila, gue pengen cepet ketemu lagi sama Shila, semoga si bangsat Arya ga macem-macem sama Shila kalau dia berani nyentuh Shila setitik aja, serius gue bakal bikin tato permanen di badannya!" ungkap Rafa menceritakan perasaannya.

"Gue juga kangen Raf sama Shila kalau aja sekarang Shila ada disini, gue rasanya pengen nangis sambil nyeritain perasaan gue sekarang, rasanya sakit tapi ga berdarah," jawab Tara tidak menyadari perkataannya yang membuat Rafa semakin penasaran.

"Tuh kan ada yang lo sembunyiin! Jadi lo anggap gue apa? Kenapa ga cerita sama gue aja? Malah ngerangkai kata-kata kaya sinetron lagi, sakit ga berdarah, apa coba itu? So puitis lo!" cibir Rafa sambil mengacak-ngacak rambut Tara persis seperti perlakuan Vallen yang mengundang perhatian dari Sekar dan Dion.

Sekar yang melihat Dion tengah memperhatikan Rafa dan Tara terdiam sejenak lalu teringat hal penting yang Sekar nyaris lupakan dan langsung mengajak Dion untuk masuk ke dalam tenda.

"Kak Dion belum ganti perban ya? Nanti luka yang di punggung Kak Dion ga kering-kering dan bisa menyebabkan infeksi, kita ganti dulu ya Kak!" ajak Sekar pada Dion sambil menarik tangan Dion membuat Dion tidak bisa menolaknya.

Tara hanya melihat sebentar ke arah Dion dan Sekar yang sekarang sudah masuk ke dalam tenda lalu tampak Fadly memanggil Rafa dan Tara untuk membantunya.

Lembur KuntilanakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang