Rasa penasaran kadang menjerumuskan kita pada suatu hal yang tidak terduga, begitu juga dengan apa yang dialami oleh Ashila, Dion, Fadly, Rafa dan juga Tara, mereka tidak sengaja masuk ke dalam sebuah desa yang sudah lama ditinggal oleh penghuninya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Dari sini arahnya kemana?" tanya Rafa pada Shila yang duduk di sampingnya.
"Dari sini tinggal lurus aja, ikutin jalan nanjak yang ke arah Punclut tepatnya jalan tembusan yang mau ke Lembang, nanti ada petunjuknya ko di jalan!" jawab Shila sudah tidak sabar ingin segera sampai di café yang dia maksud.
"Daerah Pagerwangi ya Shil?" tanya Tara sambil memegang perutnya yang sudah meronta minta diisi, pasalnya martabak green tea yang Tara pesan untuk bekal di perjalanan sudah Tara berikan untuk perawat yang menjaga ruangan Oma.
"Shila tapi sesuai janji kamu ya, semua kamu yang bayar maklum tanggal tua saya tidak biasa makan diluar!" tanya Fadly dengan polos dari bangku paling belakang.
"Pastilah Shila kan dompetnya tebel!" jawab Tara cengengesan sambil menatap ke arah Dion yang terus diam sepanjang perjalanan.
"Dion lo baik-baik aja? Ko diem terus dari tadi?" tanya Tara sambil tersenyum.
"Gue ga apa-apa, kurang istirahat aja," jawab Dion yang selalu seperlunya.
Shila yang merasa tidak enak karena memaksakan keinginannya pada teman-temannya lalu berinisiatif meminta maaf terutama pada Dion dan Fadly yang awalnya tidak setuju.
"Dion, Fadly, maaf ya kalau kalian malah jadi ngikutin keinginan gue buat mampir ke café dulu tapi kalau kalian keberatan ga apa-apa ko kita puter balik aja, masih banyak waktu lain, gimana?" tanya Shila menunggu respon teman-temannya.
"Lanjutin aja, nanggung udah mau nyampe," jawab Dion dengan singkat dan tegas.
"Udahlah ga apa-apa Shil, anggap aja hitung-hitung sambil ngerayain kita bisa ngumpul bareng lagi dan sekarang kita semua udah mulai hidup normal," respon Rafa yang mendengar pembicaraan mereka mulai tidak kondusif.
Mereka semua terdiam setuju dengan perkataan Rafa, Rafa lalu membelokkan mobilnya sesuai dengan petunjuk jalan, café itu letaknya memang bukan di jalan utama tapi sudah banyak orang yang tau dengan keindahan tempatnya, terlebih kita bisa menikmati pemandangan kota Bandung di malam hari dengan menggunakan teropong membuat suasana di café tersebut terasa lebih romantis.
"Nah itu cafenya tapi kayanya mobil masuk parkiran bawah, coba deh Raf tolong tanyain ke satpam takut gue salah!" ujar Shila meminta tolong pada Rafa.
Rafa lalu bertanya pada satpam sambil membuka jendela mobilnya lalu satpam tersebut mengarahkan mobil Rafa ke tempat parkir dam setelah Rafa selesai memarkirkan mobil, mereka langsung menaiki tangga menuju pintu café, dari jauh terlihat jembatan yang dipenuhi dengan lampu kecil berwarna warni, sangat indah dan terlihat romantis, Shila mengambil beberapa foto untuk instagramnya, melihat senyum Shila yang sudah kembali, ada perasaan lega di hati Rafa.
Shila yang terkenal update dengan tempat-tempat indah di kota Bandung memang tidak salah memilih café tersebut sebagai tempat makan malam, dekorasi yang cantik diiringi dengan live music yang menyanyikan lagu pilihan dengan nuansa romantis, membuat malam itu sangat terasa syahdu. Shila lalu memilih tempat duduk yang menghadap ke arah pemandangan Kota Bandung, mereka semua menikmati suasana yang membuat perasaan mereka menjadi lebih tenang, Tara mulai menulis pesanan makanannya di sebuah kertas, Tara memesan tiga makanan berat sekaligus dan susu murni rasa Taro, Fadly lebih memilih memesan menu liwet, sedangkan Shila memesan menu grill dan shabu yang disamakan dengan Rafa sedangkan Dion lebih memilih memesan segelas kopi dan roti bakar coklat, sambil menunggu pesanan makanan, Shila mengajak teman-temannya untuk turun ke lantai bawah menikmati langit sambil berbaring di kursi bean bag, Rafa mengikuti Shila turun kebawah, Fadly yang penasaran juga ikut turun kebawah sementara Tara yang sebenarnya ingin ikut turun kebawah tapi mengurungkan niatnya karena ada perasaan tidak enak meninggalkan Dion sendiri.