Rasa penasaran kadang menjerumuskan kita pada suatu hal yang tidak terduga, begitu juga dengan apa yang dialami oleh Ashila, Dion, Fadly, Rafa dan juga Tara, mereka tidak sengaja masuk ke dalam sebuah desa yang sudah lama ditinggal oleh penghuninya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di Rumah Pak Girindra
"Sekar, minum dulu airnya biar badan lo agak enakan," pinta Rafa saat melihat Sekar akhirnya terbangun.
Sekar hanya menggeleng pelan, menolak permintaan itu.
"Gue suapin airnya pakai sendok aja ya, biar tenggorokan lo nggak kering," tawar Rafa sedikit memaksa sambil beranjak menuju dapur untuk mengambil sendok.
Namun Sekar segera memegang tangan Rafa untuk menghentikan langkahnya.
"Ga usah ambil sendok, Kak. Sekar coba minum sendiri aja dari gelas," jawab Sekar pelan sambil berusaha duduk.
Rafa langsung membantu Sekar dan menyusun bantal di belakang punggungnya sebagai sandaran.
Setelah itu Rafa duduk di hadapan Sekar. Raut wajahnya mencerminkan kekhawatiran. Ia pun memberanikan diri memulai percakapan.
"Keadaan lo sekarang gimana? Perasaan lo udah agak baikan?"
Sekar menunduk.
"Kepala Sekar masih pusing, Kak... hati Sekar juga masih sangat sakit," jawabnya lirih.
Rafa menarik napas panjang sebelum berkata dengan lembut.
"Lo harus coba nerima kenyataan, Sekar. Gue tau rasanya berat buat lo. Sakit pasti rasanya. Tapi percaya sama gue, lo pasti bisa. Lo kuat. Gue bakal bantu lo buat lupain perasaan lo ke Dion."
Sekar menghela napas panjang, lalu mengungkapkan isi hatinya.
"Tapi sulit, Kak. Setiap kali lihat Kak Tara rasanya makin sakit buat Sekar. Sekar merasa Kak Tara sudah mengambil hal yang paling berarti di hidup Sekar... mengambil semangat hidup Sekar dan merusak semua rencana indah Sekar."
Air mata Sekar kembali jatuh.
Melihat itu, hati Rafa ikut terasa teriris. Ia segera memeluk Sekar, memberikan ketenangan dan rasa nyaman. Sekar menangis di pelukan Rafa, meluapkan amarah, emosi, dan kesedihan yang selama ini terpendam.
"Maaf, Kak... Sekar nggak bisa nahan perasaan Sekar," ucapnya lirih.
Rafa menenangkan Sekar sambil membelai rambut bergelombang gadis itu.
"Ga masalah, Sekar. Lo boleh nangis semau lo. Jangan ditahan kalau itu bisa bikin perasaan lo lebih baik."
Sekar mengangkat wajahnya sedikit.
"Apa Sekar salah, Kak... terlalu sayang dan berharap sama Kak Dion?"
"Ga ada yang salah sama perasaan sayang lo," jawab Rafa dengan bijak. "Tapi kita juga nggak bisa maksa orang lain buat ngebales perasaan kita."
Sekar terdiam sesaat sebelum kembali bertanya.
"Jadi Sekar datang di saat yang nggak tepat ya, Kak? Di saat nama Kak Tara sudah menempati tempat di hati Kak Dion?"