56 | Sebuah nama yang terucap

467 68 10
                                        

Tara melihat jam di tangannya yang sudah menunjukan pukul dua dini hari, Tara memang mempunyai kebiasaan untuk minum air mineral sebelum tidur yang menyebabkan dirinya selalu terbangun di malam hari untuk buang air kecil dan bodohnya Tara tidak me...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Tara melihat jam di tangannya yang sudah menunjukan pukul dua dini hari, Tara memang mempunyai kebiasaan untuk minum air mineral sebelum tidur yang menyebabkan dirinya selalu terbangun di malam hari untuk buang air kecil dan bodohnya Tara tidak menyadari jika kebiasaan tersebut masih tetap dilakukannya di tempat seperti ini.

"Duuh gue pingin buang air kecil, mana udah ga bisa di tahan lagi!" gumam Tara di dalam hatinya sambil melirik ke arah Sekar.

Awalnya Tara ingin meminta Sekar untuk menemani Tara buang air kecil tapi perasaan tidak tega membangunkan Sekar yang baru saja terlelap membuat Tara mengurungkan niatnya lalu Tara langsung mengambil Hp yang ada di dalam tasnya untuk menghubungi Fadly tetapi sialnya Tara juga lupa bahwa di tempat mereka berada saat ini tidak ada jaringan dan alat komunikasi yang diberikan Rafapun di simpan oleh Sekar yang Tara tidak tahu tempat penyimpanannya.

"Gue udah bener-bener ga kuat, ga ada jalan lain, gue harus berani keluar sendiri!" kata Tara lagi mencoba memberanikan diri.

Tara mengambil senter yang ada di samping tempat tidurnya dan menggunakan jaket tebal lalu melangkah perlahan keluar tenda agar tidak membangunkan Sekar lalu Tara mengumpulkan seluruh keberaniannya dan berusaha melawan rasa takutnya akan kegelapan dan makhluk astral yang selalu menghantui Tara akhir-akhir ini karena sudah tidak mempunyai cara untuk menahan hasratnya untuk buang air kecil.

"Lo mau kemana malem-malem gini?" tanya seseorang yang sedang duduk di depan api unggun.

Tara terkejut ketika mendengar suara tersebut karena sepengetahuan Tara diluar sudah tidak ada siapapun dan Dionpun sudah masuk kedalam tenda saat selesai berbicara dengan Sekar tetapi Tara berusaha bersikap biasa agar Dion tidak menaruh curiga bahwa Tara sudah mendengar semua percakapan antara Dion dan Sekar.

"Lo sendiri belum tidur jam segini? Ngapain diluar malem-malem?" tanya Tara menanyakan alasan Dion berada diluar tenda.

"Ngambil barang yang ketinggalan! Lo itu kebiasaan kalau ada orang yang nanya bukannya jawab dulu malah nanya balik!" Dion menjawab dengan nada yang kesal.

"Hmm.. gue mau buang air kecil soalnya udah ga bisa ditahan lagi!" jawab Tara sejujurnya dengan wajah yang memerah.

"Ya udah biar gue anter!" jawab Dion membuat Tara kebingungan.

"Ga usah! Gue bisa sendiri ko jadi ga usah repot-repot!" jawab Tara menolak ajakan Dion karena merasa canggung dan segan.

"Yakin lo berani di tempat ginian sendiri? Berani di tempat gelap? Gue ga tanggung jawab kalo lo hilang karena keegoisan lo!" jawab Dion sambil beranjak berdiri dan mendekat ke arah Tara.

Tara berpikir sejenak memikirkan perkataan Dion yang benar adanya dan rasanya sangat konyol jika harus terjadi sesuatu pada dirinya karena memikirkan gengsi dan permasalahan pribadinya dengan Dion.

"Gue cuman bakal nanya lo sekali lagi! Lo mau gue anter? Kalau lo ga mau, gue mau masuk ke dalem tenda sekarang!" tanya Dion lagi sambil menegaskan pada Tara.

Lembur KuntilanakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang