Rasa penasaran kadang menjerumuskan kita pada suatu hal yang tidak terduga, begitu juga dengan apa yang dialami oleh Ashila, Dion, Fadly, Rafa dan juga Tara, mereka tidak sengaja masuk ke dalam sebuah desa yang sudah lama ditinggal oleh penghuninya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi menjelma menjadi nyata, satu malam kelabu telah berhasil mereka lalui, suara ayam pertanda pagi tidak mereka dengar, tetesan embun membasahi tubuh mereka saat itu, hawa dan cuaca dingin kembali menyergap sehingga mereka terlihat tertidur dalam kedinginan.
Tara orang pertama diantara mereka berlima yang membuka mata pagi itu, dengan sangat heran dia menerawang area sekitar, keadaan sepi senyap dengan banyak batu nisan berbaris, tanah merah yang melekat basah tertetes hujan dan wangi bunga semerbak menusuk hidung.
"Dion, Fadly, Rafa, Shila, ayo bangun, buka mata kalian!" dengan suara panik Tara menggoyangkan tubuh teman-temannya.
Dion beranjak bangun ketika melihat Tara ketakutan dengan wajah yang pucat, disekelilingnya terpampang jelas barisan nisan tua dan terdengar suara pohon beringin yang bergesekan tertiup angin. Fadly, Shila dan Rafapun tak kalah kaget melihat pemandangan seperti itu.
"Kenapa ini Tar? Kenapa kita bisa ada disini?" tanya Rafa masih sedikit tak sadar.
"Gue juga ga tau, gue kebangun karena ngerasa ada serangga yang gigit tangan gue, pas gue kebangun keadaan udah kaya gini," jawab Tara panik.
"Tidak masuk akal rasanya, masih teringat jelas kalau malam kemarin kita tidur disebuah rumah dan bagaimana bisa kita terbangun beralaskan tanah merah seperti ini?" Fadly yang biasanya terlihat paling tenang, kali ini sangat dibuat heran dan tak mendapatkan jawaban atas kebingungannya.
"Sekarang bukan waktunya berdebat lagi, kita harus secepatnya keluar dari tempat ini, ada yang ga beres, ini bukan tempat debat apalagi tempat istirahat," tanpa diperintah, Dion segera beranjak bangun dan membantu temannya satu persatu.
Tanpa komando lagi mereka langsung berlari mencari jalan keluar dari tempat tersebut, berkali-kali mereka berputar dan tidak menemukan jalan keluar, hanya terlihat satu pagar yang menjulang tinggi, sengaja ditutup oleh papan kayu dan kawat-kawat agar tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam area tersebut.
"Kayanya kita harus manjat lewat pagar ini! Ga ada jalan lain lagi," ujar Dion meyakinkan teman-temannya yang sepertinya sudah sangat pasrah dengan keadaan seperti ini.
"Ya udah gue naik duluan, seudah gue naik dan nemu pijakan dibawah, yang cewek-cewek langsung nyusul," Rafa memanjat pagar dan sedikit menyibakkan pohon bambu beserta papan yang menghalangi jalan keluarnya
" Aman Bro, gue udah turun, yang cewek suruh naik duluan! " teriak Rafa lagi.
Tara dibantu Fadly mulai menaiki pagar tersebut dan tanpa aba-aba karena sudah terbiasa dalam urusan seperti ini, Tara tidak menghiraukan tangan Rafa yang menyambutnya dan langsung meloncat kebawah, Rafa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gue udah dibawah, ayo selanjutnya!" teriak Tara memberi kabar pada teman-temannya yang masih menunggu giliran untuk keluar.
Dion yang melihat Shila terdiam tanpa mengeluarkan suara dan tubuhnya sedikit gemetar menanyakan kabar Shila, "Shil, lo ga kenapa-napa atau lo lagi sakit?" tanya Dion penuh selidik.