Rasa penasaran kadang menjerumuskan kita pada suatu hal yang tidak terduga, begitu juga dengan apa yang dialami oleh Ashila, Dion, Fadly, Rafa dan juga Tara, mereka tidak sengaja masuk ke dalam sebuah desa yang sudah lama ditinggal oleh penghuninya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di tempat lain, di tempat Sekar dan Rafa yang sedang menuju mata air.
Perasaan manusia memang tidak bisa ditebak, kita tidak bisa menerka kapan perasaan sedih akan datang dan kapan perasaan bahagia akan dirasakan begitu juga dengan rasa sayang dan benci yang waktunya tidak bisa di prediksi untuk hadir di dalam hidup kita.
Rencana manusia memang selalu indah adanya meski tidak jarang ada rasa sakit di tengah jalan yang kadang-kadang rasa sakit tersebut membuat manusia membenci dan menyalahkan Tuhan tanpa mengetahui alasan tuhan menciptakan rasa sakit tersebut yang justru bisa jadi menjadi takdir Tuhan terbaik untuk kedepannya.
Dua insan berjalan menembus rimbunnya hutan dengan perasaan mereka yang tidak menentu, mereka tidak pernah meminta perasaan tersebut untuk datang tetapi mereka juga tidak bisa mencegah perasaan nyaman yang mereka rasakan.
"Kak Rafa jalannya bisa pelanan sedikit?" pinta Sekar dengan nafas yang terengah-engah karena mencoba mengejar Rafa.
"Kalau ga cepet-cepet nanti yang lain pada kehausan!" jawab Rafa tetap berjalan dengan cepat untuk mengejar waktu.
Sekar tidak membantah perkataan Rafa dan memutuskan untuk tetap mengikuti Rafa meski perasaannya semakin gundah karena merasa ada yang sedang mengawasinya, tidak lama kemudian angin berhembus sangat kencang diikuti terpaan kabut yang kian menebal membuat jarak pandang semakin terbatas, Rafa langsung menarik tangan Sekar dan menggenggam tangan Sekar dengan erat.
"Sekar, lo aman?" tanya Rafa sedikit berteriak.
"Sekar aman Kak," jawab Sekar sambil mengamati keadaan sekitar.
Mereka menempuh perjalanan yang cukup jauh dan terasa melelahkan tetapi anehnya mereka tidak dapat menemukan jalan yang seharusnya, Rafa tetap optimis bahwa jalur yang mereka lalui tidak salah arah tetapi tiba-tiba pikiran positif Rafa runtuh seketika saat mendengar sebuah keriuhan di tengah rimbunnya hutan belantara.
Kabut mulai menipis memperlihatkan sebuah pemandangan yang tak kasat mata, Rafa dan Sekar berdiri mematung ketika mengetahui suara yang sebelumnya mereka dengar ternyata berasal dari tengah hutan layaknya sebuah pasar mingguan tetapi yang bertransaksi di pasar tersebut bukanlah manusia biasa dan saat itu Rafa dan Sekar tidak punya pilihan selain melewati pasar tersebut dengan penuh kewaspadaan,
"Ada pasar di tengah hutan?" tanya Rafa dengan suara sangat pelan.
Sekar yang mendengar ucapan Rafa dengan segera meminta Rafa untuk tidak berbicara apapun dan meminta Rafa untuk tetap berjalan sambil menundukan kepalanya.
"Kak Rafa, tolong jangan terima pemberian apapun dan tetap fokus untuk jalan kedepan, tujuan kita hanya untuk mengambil air dan kembali dengan selamat," ujar Sekar meminta Rafa mengikuti petunjuknya.
Rafa menggangguk menyetujui ucapan Sekar, keringat dingin membanjiri tubuh mereka, rasa gugup terus dirasakan mereka terutama ketika mereka mencium bau sesajen yang menyengat, di tempat tersebut mereka melihat banyak transaksi yang dilakukan selayaknya pasar tradisional tetapi yang membedakan transaksi tersebut dilakukan oleh makhluk dari dunia lain dan barang yang dijual di pasar tersebut bukanlah barang biasa, Rafa bergidik ketakutan ketika melihat para pelaku transaksi tersebut datang dengan berbagai rupa sementara Sekar terus meminta Rafa untuk tetap fokus dan berdoa.