Tinggal sendirian bukan masalah yang besar untuk Winara. Dia sudah memiliki pengalaman selama tiga tahun hidup seorang diri di tempat baru.
Jika dipikirkan lagi, itu lebih menyenangkan dibanding hidup dihantui bayangan kakak tirinya datang ke kamarnya dan juga kehidupan mewah di mansion suram itu.
Lagipula sekarang dia tidak sendirian kan? Ada bayinya.
Tapi sepertinya mustahil dia bisa lolos dengan mudah dari Jeffrian. Sekarang ini buktinya, pria itu mendatanginya meski jelas-jelas Winara sudah mengusirnya.
Dan hal pertama yang Winara lakukan adalah melempar benda yang bisa dia jangkau dengan tanganya kepada Jeffrian.
Siapa sangka sebungkus besar permen di atas nakas menjadi yang paling dekat denganya. Benda menghantam kepala Jeffrian dan isinya berjatuhan ke lantai.
"Kamu bener-bener nggak tahu bahasa manusia ya?" murka Winara.
Winara benar-benar lelah. Dia tdak ingin berhadapan dengan pria ini. Tapi sepertinya Jeffrian tidak akan berhenti begitu saja sebelum dia beri peringatan keras.
"Awh! Sakit, sayang." Jeffrian tersenyum menggoda. Reaksinya telat sekali.
"Sejak kapan kamu suka kekerasan seperti ini? Kenapa tidak sekalian kamu lemparkan vas bunga itu kepadaku?" tunjuk Jeffrian pada benda kaca di atas nakas menggunakan dagunya.
Itu juga tidak apa-apa. Sangat sepadan dengan kesempatan untuk berbicara empat mata dengan wanitanya.
Pria gila ini justru menantangnya sekarang?
Winara kesal. Jeffrian memunguti permen yang jatuh ke lantai itu dan kembali memasukannya ke dalam bungkus besar.
Permen asam ya? Jeffrian menatap benda itu lama.
"Winaraku yang lembut dan manis, menghilang kemana dia?"
"Kamu yang merubahku. Jangan berharap aku akan memperlakukanmu seperti raja di sini."
Jeffrian tersenyum manis. Tidak perlu dipuja seperti seorang raja. Asal Winara mau menatapnya saja sudah cukup untuk Jeffrian.
"Sepertinya kamu tau aku akan datang malam ini. Menungguku, sayang?"
Sambutannya barusan cukup spektakuler. Jadi Jeffrian berpikir Winara memang sudah bersiap memberinya pukulan telak.
"Keberatan kalau aku ludahin wajah kamu?"
Jeffrian menggeleng dan tersenyum. "Enggak."
Winara mengepalkan kedua tanganya erat. Huh tahan. Ucapan dokter tidak bisa dia abaikan begitu saja. Mari hadapi manusia gila ini dengan kepala dingin.
Karena jujur, Winara memang menunggunya.
Bukan karena merindukan pria itu tapi karena ada sesuatu yang ingin dia minta dari Jeffrian.
"Duduk sayang, kita bicara kalau kamu udah duduk dengan nyaman."
"Katakan saja dan cepat pergi dari sini. Aku merasa sesak berada di satu ruangan yang sama dengan—"
Ucapan Winara terhenti karena Jeffrian lebih dulu mengambil langkah seribu dan memeluk tubuhnya dari belakang.
"Jangan mengusirku, Peaches. Tarik ucapanmu itu."
"Lepas!"
"Aku merindukanmu. Sialan, rasanya sampai kepalaku mau pecah. Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu."
Basi! Semua ucapan Jeffrian terdengar sangat basi di telinga Winara.
Jeffrian menahan tangan Winara di depan perut wanita itu. Mendekapnya dengan kuat tak mempedulikan pemberontakan yang Winara lakukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Obsession Series 3; Light and Shadow
Romance❝She fell first but he fell harder, harder, and harder❞ - by milkymiuw
