Pertunangan itu Miguel tidak pernah menyetujuinya. Meski menolak untuk mengakuinya, hal yang dilakukan oleh Jeffrian tidak jauh-jauh dari membalas budi.
Jeffrian berpikir melakukan pertunangan itu lebih cepat akan lebih baik. Lebih cepat juga dia bisa kembali kepada Winara.
Tapi siapa yan bisa menghentikan Jeffrian jika Winara saja tidak bisa melakukannya?
Miguel mendengar percakapan mereka tadi siang, padahal dia yakin ucapan Winara tentang membatalkan pertunangan itu adalah hal yang paling diinginkan oleh Jeffrian. Hanya saja akan lucu jika Jeffrian membatalkan pertunangannya beberapa jam sebelum itu terjadi.
Miguel menghembuskan napas panjangnya. Sejak tadi dia berdiri di sini, memandang ke arah lantai dua-- tepatnya kamar Jeffrian. Pria itu memintanya untuk menjaga Winara. Terdengar seperti Jeffrian sangat khawatir Winara akan melompat dari lantai dua.
Miguel menggeleng kecil, dia terlampau pusing memikirkan masalah Jeffrian. Memang selalu begitu kan selama ini?
Miguel mengambil satu batang rokoknya sembari memikirkan ini. Jika saja dia menjadi Winara, ada hal lebih baik yang bisa dilakukan untuk menyakiti diri sendiri dibanding melompat dari atas sana.
Tunggu!
Rokok yang terselip dibibirnya, Miguel buang begitu saja. Dia bergegas kembali masuk ke dalam mansion. Tujuannya adalah kamar Jeffrian. Perasaanya tidak tenang setelah membayangkan kemungkinan-kemungkinan apa saja yang bisa Winara lakukan untuk menyakiti dirinya sendiri.
Miguel tentu tidak mengharapkanya. Dia berharap Winara sudah tertidur pulas di ranjang seperti hari-hari biasanya, saat dia melihat Jeffrian masuk dan tidur di sisi Winara lalu bangun dan keluar dari kamar sebelum sempat wanita itu terbangun. Sayang harapannya tidak terkabul saat melihat ranjang besar itu kosong.
Tatapan mata Miguel jatuh ke pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Gemercik air membuat dia ragu-ragu mendekat.
"Winara? Kamu di dalam?" tanya Miguel setengah berteriak. Dia tidak ingin menganggu privasi wanita itu.
Tidak ada jawaban.
Tangan Miguel mendorong knop pintu kamar mandi, seketika kedua bola matanya nyaris terlepas saat melihat tubuh Winara terbujur di dalam bathup yang dipenuhi air.
Darah menetes dimana-mana membasahi lantai kamar mandi. Darah itu berasal dari luka di pergelangan tangan Winara.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"WINARA!"
Miguel dengan segera mengangkat tubuh lemah itu dan meletakannya dengan hati-hati ke lantai kamar mandi.
"Winara! Bangun!"
Keributan di kamar itu tentu saja mengundang atensi banyak orang. Beberapa pelayan masuk dan terkejut melihat situasi ini.
Dimana Miguel terus memberikan CPR kepada Winara dengan terus memompa bagian tengah dada wanita itu sambil terus mengecek pernapasannya.
Mereka lebih terkejut melihat kondisi nona yang mereka layani. Seluruh tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki basah, tangannya terluka, wajah pucat pasi.