Chapter 53

1.1K 127 42
                                        

Kacau. Semuanya berubah menjadi kacau.

Sejauh ini tidak ada yang berjalan seperti rencananya. Jeffrian mengepalkan kedua tangannya erat-erat di depan sosok Winara yang sedang terlelap.

Tidak ada yang pantas disalahkan selain dirinya sendiri. Kenyataan Jeffrian lah yang membuat situasi semakin runyam dan pelik.

Jeffrian menyadarinya sekarang saat melihat wajah cantik wanitanya yang tertidur pulas. Lama sekali rasanya tidak bisa menatapi Winara berlama-lama seperti ini.

Winara saja selalu menguncinya pintu kamarnya. Tak memberinya kesempatan untuk mendekat. Lihat saja sekarang Winara terlihat sangat menikmati waktu tidurnya di ranjang pria lain.

Bukan saatnya untuk merasa cemburu sekarang. Plester penurun panas di dahi Winara menjelaskan kondisi wanitanya.

Demam?

Sean bahkan tak perlu memanggil dokter keluarga Damares, itu artinya Winara hanya mengalami demam ringan.

Jeffrian mempercayai Sean untuk urusan obat mengobati. Konyol, untuk hal itu jelas Jeffrian tak bisa lebih baik dari Sean.

"Peaches..."

Jeffrian hendak mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Winara. Pria itu mengurungkan niatnya saat melihat setetes darah jatuh membasahi sprei.

"Sial!"

Jeffrian mundur lantas mengusapkan kedua tangannya ke sisi celananya. Berusaha membersihkan darah itu seolah-olah saus tomat yang menempel mengotori tangannya.

Dirinya ini sangatlah tidak pantas untuk Winara.

Kenapa Jeffrian tidak ingin menerima fakta itu?

Pada akhirnya Jeffrian memilih untuk duduk bersandar ke ranjang membelakangi tubuh wanitanya. Jeffrian tidak punya keberanian untuk menghadapi Winara setelah apa yang terjadi.

Padahal Winara sudah banyak memberinya kebahagiaan. Membuatnya mengerti perasaan disayangi dan dicintai dengan tulus.

Apa hanya ini balasan yang bisa dia berikan untik Winara?

Rasa sakit dan penderitaan tanpa akhir? Bahkan untuk melindungi Winara saja Jeffrian tidak bisa.

Lantas kenapa dia berusaha keras menahan Winara agar terus bersamanya?

Hanya satu jawabannya, karena lebih baik bagi Jeffrian untuk mati dari pada harus menjalani hidup tanpa Winaranya.

Jeffrian tidak akan bisa lagi menahannya jika harus kembali hidup seperti dirinya di masa lalu. Sendirian dan hanya dibutakan oleh dendam.

"Keluarga yang sempurna.. kau tidak akan pernah memilikinya. Darah lebih kental dari air. Gen selingkuh itu menurun dari ayahmu, Jeff—"

Lilian sialan!

Bahkan di saat-saat seperti ini ucapan wanita gila itu terlintas di kepalanya.

Selingkuh huh?

Tapi bukankah memang benar? Menjadikan Rara sebagai tunangannya, bukankah itu artinya Jeffrian berselingkuh?

Sepertinya Jeffrian sendiri yang harus turun tangan mengumumkan pembatalan pertunangan mereka. Ya, hanya itu yang penting sekarang. Jeffrian harus memperbaikinya dengan benar.

Tidak tahu berapa lama Jeffrian terduduk diam di sana. Sampai kedua matanya tak bisa menahan kantuk lagi. Hingga pada akhirnya Jeffrian terlelap dengan satu kaki yang tertekuk ke atas, tangannya yang terluka dia biarkan begitu saja.

Luka tidak menghalangi Jeffrian dari tidur nyenyaknya.

****

"Dia mati?"

Obsession Series 3; Light and ShadowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang