Suasana makan malam keluarga Mahandika malam itu terasa sedikit lebih canggung dari biasanya. Seminggu yang lalu Yoga diperbolehkan pulang setelah dirawat inap karena luka parah di kepalanya. Sebenarnya itu tak seberapa sih, Jeffrian ingin sekali setidaknya memecahkan kepala pria itu.
Berani sekali Yoga melakukan hal menjijikan itu pada Winara. Jeffrian tidak tahu menahu kalau putra sulung Mahandika itu ternyata senekat dan sebejat ini.
Lalu saat acara makan malam ini, Jeffrian ingin sekali membeberkan apa yang sebenarnya terjadi. Namun Winara melarangnya. Gadis kecilnya itu mengatakan agar tak membuat situasi di rumah menjadi berantakan. Cukup lah dia yang menjauh dari Yoga. Begitu katanya.
Tetap saja, Jeffrian tidak puas! Rasanya dia ingin sekali melenyapkan Yoga dengan tanganya sendiri.
"Jeffrian, kenapa tidak menyentuh makananmu? Apa masakan istriku tidak enak?" tanya Gio melihat Jeffrian hanya mengenggam sendoknya tanpa mau menyendokannya ke piring.
Semua orang lantas memberikan atensinya pada Jeffrian. Tak terkecuali Yoga. Pria yang duduk di sebelah Gio. Kepala pria itu masih dibalut perban cukup tebal, luka di dahinya memang tidak main-main sih. Untung lah tidak perlu melakukan operasi, hanya perlu beberapa jahitan.
"Harusnya aku bertanya dulu ya, makanan apa yang kamu sukai." ucap Tania penuh penyesalan.
"Dia seorang chef hebat, lidahnya pasti lebih tajam dibandingkan kita. Katakan saja kalau itu tidak sesuai dengan seleramu." timpal Gio.
"Bukan begitu. Ibu mertua tidak perlu khawatir. Ini enak, aku akan memakannya." Jeffrian tersenyum manis.
Kenyataanya dia malas makan karena nafsu makanya sudah menghilang entah kemana setelah menatap wajah Yoga.
Tania membalas senyuman Jeffrian. "Kalau begitu habiskan ya.. Wina sayang, kamu juga harus makan yang banyak."
"Iya ma.."
Winara sangat pendiam malam ini. Semua orang pasti menyadari dan berpikir demikian. Tidak biasanya. Winara selalu hiperaktif saat mereka tengah bersama. Kali ini, tersenyum saja tidak. Apalagi menanggapi obrolan.
Winara merasa bersalah karena mobil Jeffrian menabrak mobil Yoga. Entah bagaimana Yoga mengarang cerita itu, yang pasti semua orang mempercayainya begitu saja. Jeffrian juga meminta maaf karena kelalaian yang dilakukannya.
Mengenai pelecehan itu, tidak ada yang menyinggungnya. Hanya satu hal yang berubah, kini Yoga tak berani terang-terangan menatap Winara.
Lalu saat menatap Jeffrian, ada sorot mata ketakutan dan kebencian luar biasa yang bisa Winara tangkap. Winara tidak benar-benar tahu apa yang telah terjadi diantara mereka berdua.
Setelah makan malam, Winara pergi ke kamae Yura. Sementara Jeffrian pergi bersama Gio ke ruang kerjanya.
"Wina, kamu ada masalah?"
"Enggak kok kak. Kenapa emangnya?"
"Iya dari tadi kamu diem terus. Diajak ngobrol juga nggak nyahut, cuma iya iya aja padahal nggak tau konteksnya."
Winara tersenyum, berusaha menyembunyikan kesedihannya. Dirinya tak bisa membayangkan jika semua orang di rumah ini mengetahui kelakuan Yoga.
Huru hara itu akan terjadi di rumah yang harusnya penuh dengan kedamaian ini. Sejauh ini Winara sudah terlalu baik mau melindungi Yoga. Entah sampai kapan, Winara tidak tahu. Yang pasti, dia paling tidak ingin membuat suasana rumah menjadi kacau.
"Aku capek aja.. apa lagi kakak tau sahabat baikku udah pergi jauh ke luar negeri."
"Sean ya?"
"Iya. Temen yang bisa aku curhati juga berkurang," Winara memasang wajah memelasnya. Kembali ke stelan pabrik, Winara tidak ingin Yura mengetahui kalau pikiranya memang sedang ruwet.
KAMU SEDANG MEMBACA
Obsession Series 3; Light and Shadow
Romansa❝She fell first but he fell harder, harder, and harder❞ - by milkymiuw
