Chapter 51

1K 130 48
                                        

Benar! Hanya dirinya yang merasakan penderitaan itu.

Dan benar! Orang lain tidak akan bisa memahami perasaanya. Hanya saja Winara kecewa, ucapan mamanya seolah menegaskan seorang wanita akan selalu membutuhkan pria.

Dengan alasan anak?

Apakah para wanita selalu terikat pada asumsi itu?

"Justru karena Wina tahu dan pernah merasakan hidup tanpa seorang ayah ma... itu tidak lebih buruk dari pada menyiksa anak dengan memilih orang tua yang salah."

Winara merasa  lega bisa membalas ucapan mamanya. Namun kepalanya justru terasa pusing sekarang. Padahal dia sendiri sudah berjanji tidak ingin membebani otaknya dengan pikiran-pikiran yang rumit.

Bahkan tanpa sadar air mata Winara menetes membanjiri wajahnya. Bukan sekedar air mata yang iseng keluar melainkan memang tangisan tanpa suara yang tak bisa lagi Winara tahan.

Hingga supir taksi di depan berkali-kali mengecek dari kaca. Tanpa bersuara, supir taksi itu memberikan kotak tisu kepada Winara.

"Makasih pak," ucap Winara.

Astaga malu sekali!

"Gapapa... orang hamil biasanya suka berubah-ubah moodnya. Istri saya dulu juga gitu waktu hamil."

Winara mengangkat sudut bibirnya mendengar ucapan pria itu. Segera dia menghapus air matanya.

Drrtt Drrtt

Suara panggilan itu, Winara segera mengeluarkan ponselnya dari tas. Masih sesekali menyeka air matanya, dahinya mengeryit samar melihat nomor tak dikenal terpampang di layarnya.

Angkat. Tidak. Angkat. Tidak.

Pada akhirnya Winara menggeser ikon hijau untuk menerima panggilan itu.

"Halo?"

"Wina!"

Suara ini, Winara mengenalnya.

Itu Rara. Ya pantas saja kalau Winara tidak memiliki nomornya. Karena semua tentang wanita itu sudah Winara singkirkan.

"Jangan ditutup Wina!"

Rara peka sekali. Winara baru saja ingin mematikan ponselnya. Teriakan Rara di seberang sana membuatnya mengurungkan niatnya.

"Kenapa ngehubungin gue? Gue nggak ingat pernah ngasih nomor ini."

Winara memang mengganti nomornya dengan nomor baru. Semenjak keluar dari tempat terkutuk Jeffrian alias mansion Damares itu.

"Gue maksa Sean ngasih nomor lo ke gue." ucap Rara terdengar sangat santai meski caranya mendapatkan nomor Winara terkesan brutal santai.

"Lo ada waktu? Gue mau ketemu."

"Enggak. Gue gak akan ada waktu buat lo. Semenit aja gak ada."

"Wina! Kita harus bicara! Sekarang posisinya gue tunangan kak Jeff dan lo istrinya!"

"Terus?"

"Terus?!" Rara tercengang di sana. Dia mempertanyakan balasan Winara barusan.

Ah Winara sepertinya terlalu santai meresponnya. Sebenarnya bicara di telepon seperti ini dengan Rara saja sudah memuakan apalagi jika berbicara empat mata.

"Apa lo memang seenggak peduli itu sama status lo?"

"Enggak."

"Gue juga nggak akan peduli kalau aja lo nggak hamil anaknya kak Jeff!!

Obsession Series 3; Light and ShadowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang