Chapter 14

1.8K 204 51
                                        

"Selamat pagi!"

Jeffrian menyapa dengan senyum tipisnya yang mempesona. Kebetulan sekali dia dan Winara keluar kamar di saat yang sama.

Jadilah dua manusia itu saling bertatap-tatapan. Sementara Jeffrian tersenyum manis. Winara justru langsung melengos dan turun ke bawah.

Panas! Panas! Panas!

Gadis itu berjalan cepat menuruni tangga sambil mengipasi wajahnya yang memerah dengan kedua tangan.

Tau nggak sih apa yang ada dipikiran Winara saat melihat wajah Jeffrian pagi ini? Lebih tepatnya melihat bibir pria itu yang mendadak terlihat seksi di matanya.

Yak! Kejadian semalam.

"Tangan kamu sedang sakit. Kita tidak bisa tidur sambil berpegangan tangan," ucap Jeffrian, matanya turun menatap bibir mungil Winara yang terlihat menggoda.

"Kalau tidak keberatan.. sebelum tidur kamu mau memberi saya ciuman selamat malam?"

Winara masih sempat loading selama beberapa detik. Tatapan matanya juga sama, terpaku pada bibir pria itu.

"Dima—hik!"

Winara langsung saja memundurkan wajahnya. Barusan dia cegukan di depan wajah Jeffrian. Malu sekali!

"Itu—hik!"

Winara ingin bertanya Jeffrian memintanya memberikan ciuman di bagian mana. Sayangnya dia sudah lebih dulu cegukan tidak jelas.

"Kamu cegukan? Saya ambilkan minum ke bawah, sebentar."

Melihat tidak adanya air di kamar ini, Jeffrian langsung turun ke dapur.

Tak berselang lama pria itu kembali membawa sebotol air putih. Winara masih saja cegukan, gadis itu bahkan beberapa kali memukul dadanya sendiri.

"Minum Winara."

Winara mengangguk. Dia menenggak separuh air di dalam botol itu. Berdiam diri beberapa saat, gejala cegukannya berhasil dihentikan.

"Bagus. Sekarang selesaikan bicara kamu. Dima—na. Itu kan maksud kamu?"

"Eh!"

Jeffrian menggigit bibirnya sendiri melihat wajah Winara langsung berubah semerah tomat. Secepat itu perubahannya seperti saat dia menggoreng udang.

Ah, Winara benci udang!

"Lihat aku. Perhatikan baik-baik. Kira-kira dimana tempat yang paling baik untuk mendaratkan sebuah ciuman?"

Jeffrian ini berniat menggodanya atau bagaimana sih?! Wah, pria dewasa memang bukan main jahatnya!

Tak mau membuat pria itu menunggu, Winara langsung saja memberikan kecupannya di pipi pria itu.

Pipi kanan lalu pipi kiri.

Selesai! Itu bagi Winara. Sayang sekali Jeffrian punya rencana lain. Ditahannya bagian belakang kepala gadis itu agar tak lagi bisa menghindar.

Mata Jeffrian bersitatap dengan mata bulat Winara sesaat sebelum bibir Jeffrian bergerak maju untuk meraup bibir mungil Winara.

Jeffrian bisa merasakan tubuh gadis itu menengang kaget. Jeffrian tersenyum miring. Merasa tak ada penolakan, Jeffrian perlahan menggerakan bibirnya. Melumat bibir atas dan bawah gadis itu secara bergantian.

Manis! Aroma vanila dan bibir rasa strawberry.

Tak berpikir untuk melesakan lidahnya ke dalam. Jeffrian segera menarik bibirnya menjauh. Dia tersenyum simpul.

Obsession Series 3; Light and ShadowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang