Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Chapter 8 - Funeral

294K 12K 3.2K
                                        

LARA'S POV:

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

LARA'S POV:

Aku sangat marah, aku hanya ingin teriak dan menembak lelaki gila ini. Tapi sepertinya ancamannya bukan hanya sekedar omong kosong. Mataku melototi dia dengan penuh benci.

Bajingan gila ini sudah kehilangan akalnya!

Setelah bertemu Mark lagi tadi di charity ball, aku jadi semakin yakin stalker gila ini adalah Mark. Matanya persis seperti Mark.

Dia adalah Mark yang sama yang dua tahun lalu jarang berbicara padaku, dan mengawasi dari sudut ruangan.

Tapi matanya terlihat sangat marah, apa dia marah padaku? Kenapa dia marah?

Jasper bahkan tidak salah apa-apa, kenapa dia mau membunuh Jasper? Mungkin Mark ini memang seorang psikopat atau serial killer.

Aku hanya diam sambil menatapnya tajam, dan aku tidak akan membiarkannya membunuh Jasper. Aku akan mencari celahku nanti, untuk sekarang, aku harus mematuhinya dulu.

Sepertinya Mark melihat aku tidak memberontak atau pun teriak, akhirnya dia mengangkat telapak tangannya dari mulutku.

Wajahnya semakin mendekat padaku, lalu dia mengelus pipiku dengan tangannya yang bersih, dan tangannya yang berdarah masih menodongkan pisau ke leher Jasper. Napasku semakin pendek dan semakin berat, jantungku berdebar sangat kencang.

"Good girl," bisiknya dengan nada rendah.

Napasku tertahan ketika mendengar itu. Perutku terasa aneh ketika dia memanggilku dengan panggilan itu. Bahkan suaranya terdengar sangat seksi di telingaku.

Dengan cepat aku menyadarkan diriku.

Sadarlah, Lara! Dia stalker gila, psikopat dan serial killer, astaga!

Setelah dia meletakkan pisau itu ke nakas. Kedua tangannya pindah ke bokongku dan mengangkat tubuhku dengan mudah. Aku kaget, tapi aku tidak mengeluarkan suara.

Lalu aku bisa merasakan kejantanannya yang keras menekan vaginaku saat dia menggendongku keluar kamar.

Aku memiliki desakan untuk teriak, tapi aku tidak berani melakukan itu. Aku menahan tanganku di dadanya, agar dadaku tidak menekan dadanya. Dia menggendongku dengan matanya tidak pernah terlepas sedikit pun dariku. Aku menelan ludahku.

Dia mau membawaku ke mana?

Ketika kami sudah di ruang TV, dia menurunkan aku ke lantai, lalu menghimpit ku ke tembok. Pintu kamarku dibiarkan terbuka tidak jauh dari kami.

"Membiarkan pria lain tidur di kasurmu. Apa kau ingin aku membunuhnya?" bisik Mark rendah.

Mataku mengerjap. Tunggu, apa dia— cemburu?

Aku menahan segala emosiku saat ini. Dia adalah pria berbahaya. Aku harus mengalihkan dia dengan sesuatu sebelum aku mencari celah.

"Kenapa kau seperti ini?" tanyaku pelan, masih menatapnya tajam. Menahan segala gejolak emosi yang bercampur aduk.

Becoming Mafia's PetCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang