DARK ROMANCE! BACA TRIGGER WARNING DULU SEBELUM BACA INI!
Lara selalu merasa diawasi. Ke mana pun dia pergi, dia selalu merasa ada mata yang mengawasinya. Awalnya dia pikir semua ini hanyalah bayangannya saja. Sampai suatu hari. Dia menyadari, kalau...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
MARK'S POV:
"Iya, aku mencintainya."
Setelah mendengar ucapan Lara, aku lupa bernapas selama beberapa detik.
Perasaan apa ini? Rasanya begitu asing, seperti sebuah euforia menghantamku begitu keras dan cepat. Bahkan aku tidak melihat itu datang. Kebahagiaan yang begitu intens memenuhi diriku. Kebahagiaan yang begitu meluap-luap sampai aku tidak tahu bagaimana menampungnya.
Mataku tidak bisa terlepas dari Lara. Tapi Lara belum juga menoleh ke arahku, dia masih menatap Louisa.
Tanpa sadar, aku mengeratkan tanganku di pinggangnya. Aku tidak tahu bisa merasakan euforia hebat yang begitu intens seperti ini hanya dengan mendengar Lara mengatakan itu.
Fuck. Aku tidak bisa mengontrol kebahagiaanku ini. I'm so fucking happy right now.
Banyak wanita menyatakan cinta mereka. Tapi aku tidak merasakan apa-apa, rasanya begitu datar. Biasanya responku hanya tersenyum simpul dan menolaknya. Kalau mantanku yang mengatakan itu, aku hanya membalas 'aku mencintaimu juga' dengan datar, tanpa betul-betul mengerti bagaimana itu rasa 'cinta'.
Tapi kali ini, aku merasakan euforia yang sangat hebat. Aku merasa begitu bahagia, rasanya berbeda dengan euforia yang aku rasakan ketika bercinta dengan Lara. Kali ini hanya ada perasaan hangat yang begitu dalam dan memenuhi diriku.
Aku begitu bahagia sampai hampir lupa kalau masih ada Dante dan Louisa di sini.
I don't fucking care kalau Lara tidak bersungguh-sungguh mengucapkan itu. Satu hal yang aku tahu adalah, aku ingin mendengar itu lagi. Aku ingin dia menyatakannya langsung padaku, bukan melalui Louisa.
Seketika aku merasa begitu desperate ingin mendengar bibir cantik itu mengatakannya lagi padaku.
Aku ingin menciumnya sekarang juga.
Setelah Lara mengatakan itu, ruangan menjadi begitu hening selama beberapa detik. Sampai akhirnya Dante berdiri dari duduknya dan berkata.
"Mark, sepertinya kita harus membiarkan para wanita berbicara berdua," ucap Dante.
Alisku terangkat, aku tidak mau meninggalkan Lara. Tapi aku sadar, kalau Dante ingin memberikan privasi kepada para wanita untuk mengobrol. Sejujurnya aku ingin mendengar pembicaraan Lara dan Louisa, aku berdecak kesal.
Tapi akhirnya aku bangun dari kursiku, melirik Lara yang belum juga menoleh ke arahku. Kalau saja tidak ada Louisa dan Dante di sini, pasti aku sudah menggendong Lara ke kamar sekarang juga dan menyetubuhi—
Kontrol dirimu, for fuck's sake, Mark.
Dengan langkah berat, aku berjalan menyusul Dante yang sudah lebih dulu jalan mendahuluiku. Ketika kami sudah sampai di teras belakang, Dante menghadap ke arahku.