DARK ROMANCE! BACA TRIGGER WARNING DULU SEBELUM BACA INI!
Lara selalu merasa diawasi. Ke mana pun dia pergi, dia selalu merasa ada mata yang mengawasinya. Awalnya dia pikir semua ini hanyalah bayangannya saja. Sampai suatu hari. Dia menyadari, kalau...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
LARA'S POV:
Mark menarik tanganku keluar dari ruangan. Ketika kami turun dari tangga aku terkesiap dan menghentikan langkahku, karena vagina dan analku masih disumpal dengan sex toy, rasanya kedua lubangku begitu penuh, dan menuruni tangga membuat aku semakin merasakannya.
Ditambah, vaginaku masih basah karena klimaks, aku bisa merasakan klimaksku meleleh ke selangkangan dan pahaku. Kakiku merapat. Mark yang sudah turun satu tangga, menoleh ke arahku karena aku menghentikan langkahku.
"Ada apa?" tanyanya.
Mataku berkedut kesal. Bajingan gila ini masih bertanya 'ada apa' ketika dia baru saja memasukkan dua sex toy ke dalam diriku?
Aku ingin marah-marah padanya, tapi kepalaku masih sedikit linglung dengan klimaks tadi. "Kau duluan saja," ucapku akhirnya.
Alisnya terangkat. "Kenapa?"
"Aku tidak bisa turun dengan dua sex toy ini, astaga," ucapku kesal sekarang.
Di situ, aku bisa melihat matanya berkilat-kilat geli. Dia terlihat terhibur. Dia terhibur menyiksaku, for fuck's sake!
Aku mencoba melepaskan tanganku dari genggamannya, tapi dia tidak melepaskannya.
Tiba-tiba, Mark menunduk dan mengangkatku ke bahunya dengan begitu mudah. Aku menahan pekikkan kagetku. Spontan tanganku berpegangan padanya karena takut jatuh.
"Mark!"
Setelah sudah meletakkan aku di bahunya, dia turun tangga dengan begitu mudah. Seperti aku tidak berat sedikit pun.
"Kau ini!"
Ketika sudah sampai lantai dasar, aku kira dia akan langsung menurunkanku, tapi dia menampar bokongku keras dulu membuat aku terkesiap kaget. Vaginaku langsung berdenyut kuat mencengkram vibrator di dalam diriku.
Oh, astaga.
Tapi aku menahan desahanku, aku tidak mau dia puas mendengar desahanku. Lalu Mark akhirnya menurunkan aku, sekarang kami sudah berhadap-hadapan. Dia menarik daguku, lalu mengecup bibirku selamat beberapa detik. Mataku menjadi sayu menerima itu. Aku bisa merasakan diriku di bibirnya.
Mark mengerang rendah. "I really want to fuck you, baby.Aku akan menyelesaikan ini dengan cepat." Dia terdengar tersiksa. Dan aku tahu dia sudah sangat tegang di balik celananya.
"Tetaplah di sampingku," ucap Mark, dengan wajah kami hanya berjarak beberapa senti.
Aku pun mengangguk. Dia tersenyum kecil sebelum mengecup bibirku lagi singkat dan berkata."Good girl."