DARK ROMANCE! BACA TRIGGER WARNING DULU SEBELUM BACA INI!
Lara selalu merasa diawasi. Ke mana pun dia pergi, dia selalu merasa ada mata yang mengawasinya. Awalnya dia pikir semua ini hanyalah bayangannya saja. Sampai suatu hari. Dia menyadari, kalau...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
MARK'S POV:
Lara sudah tertidur. Kepalanya bersandar di dadaku, napasnya terlihat teratur. Tapi tiba-tiba, dia mulai menangis di dalam tidurnya, aku mendengar suara isakkan kecilnya.
Apa dia mimpi buruk? Batinku, khawatir.
Aku bisa melihat air matanya yang turun ke pipinya. Aku tidak suka melihat itu, hatiku terasa tidak nyaman melihat pemandangan ini. Aku ingin menghentikan air matanya itu.
Dia mimpi apa sampai bisa menangis dalam tidurnya seperti ini? Batinku, sangat penasaran.
Jempolku menyeka air matanya yang jatuh, dia tidak terbangun dengan sentuhanku itu. Tapi setelah aku menyeka air matanya, air mata lainnya terjatuh lagi.
Mungkin aku harus membangunkannya?
Ketika aku mau membangunkannya, isakkan dan tangisannya sudah berhenti. Napasnya pun kembali teratur. Membuat aku mengurungkan niatku.
Tadi ketika kami berpapasan dengan Logan, Lara bersikap sedikit janggal. Bahkan dia tiba-tiba minta pulang.
Apa ini ada hubungannya dengan Logan?
Aku terdiam sejenak. Tapi tidak, rasanya tidak mungkin. Aku tidak pernah melihat mereka bertemu atau berkontak. Ditambah sejak dulu, Ayahku mengirim Logan sekolah ke luar US.
Yang semua orang tahu Logan hanyalah anak angkat Ayahku. Ayahku membawa Logan pulang tidak lama setelah Sierra lahir. Tapi sejak lama, aku memiliki kecurigaan kalau Logan sebenarnya adalah anak kandung Ayahku dari wanita simpanannya.
But I don't fucking care about that, it's none of my business. Aku tidak peduli semua hal berkaitan dengan Ayahku.
Dari dulu yang membuat aku semangat hidup hanyalah Ibuku dan Sierra. Kalau aku mati, siapa yang akan melindungi mereka berdua? Hanya itu yang membuatku bisa bertahan di lubang neraka ini.
Mataku menatap Lara yang sudah tertidur dengan tenang di dadaku, aku sangat senang tadi ketika dia menyandarkan tubuhnya padaku, seolah dia percaya padaku.
Mungkin suatu saat, tembok yang menghalangi hatinya akan runtuh untukku, dan saat itu dia baru bisa benar-benar manja padaku.
Fuck, aku tidak sabar dengan itu.
Aku pastikan akan memanjakannya. Bahkan aku tidak peduli kalau suatu saat dia muak akan itu. Tanganku mengerat di pinggangnya, sambil menatap Lara.
Dan entah kenapa aku begitu ingin melindunginya.
Walaupun aku tahu dia adalah wanita paling tangguh yang pernah aku temui, tapi aku ingin melindunginya dan aku akan melindunginya bagaimana pun juga.
Aku mengecup puncak kepala Lara sambil memejamkan mataku.