Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Chapter 25 - Friends or Enemies?

248K 9.6K 5.2K
                                        

Total kata: 3.400 kata

♦️♦️♦️

MARK'S POV: 

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

MARK'S POV: 

Lara terlihat speechless dengan ucapanku. Lalu dia berkata. 

"Jadi ini alasanmu ingin aku membuat tato namamu? Untuk menjebakku?" tanya Lara tajam, dia terlihat begitu marah. Matanya menatapku dingin, payudara besarnya naik turun seperti menahan segala amarah di dalam dirinya.

Fuck, she looks so damn hot when she's angry.

Padahal semalam dia begitu manis memelukku begitu erat ketika aku menghentakkan kejantananku begitu dalam ke vaginanya. Tapi sekarang dia sudah kembali menjadi kuda liar. Rasanya aku mau menyetubuhinya lagi di sini sampai dia lupa kalau dia marah denganku. 

Dengan sekuat tenaga aku mencoba mengontrol gairahku ini. 

Aku semakin mendekatinya sehingga aku berdiri di antara pahanya. Mataku menatapnya. "Menjebak?" aku mengulang kalimatnya.

Jariku menyentuh tato Lara yang masih ditutupi plastik, dia tersentak sedikit dengan sentuhan lembutku itu. 

"Aku tidak menjebakmu. Tato ini adalah tanda, tanda kalau kau officially mine, Lara. Dan kau tidak boleh lupa akan itu," ucapku, sambil menatapnya.

Aku tidak berbohong akan itu, aku ingin menandakan Lara sebagai milikku. Dan lelaki mana pun yang berani-berani membuka celananya bisa melihat tanda itu. 

Tapi formulir persetujuan pembuatan tato itu juga bisa ku pakai jika keluarganya benar menyeretku ke pengadilan. Walaupun sebenarnya aku tidak takut dengan itu. 

Bahkan jika mereka menyeretku ke nereka aku tidak akan melepaskan Lara. 

Napasnya semakin berat ketika wajah kami begitu dekat, tapi matanya tetap menatapku dengan tajam dan penuh amarah. 

Dia sangat cantik.

"Kau bajingan gila," ucapnya akhirnya.

Aku tersenyum miring mendengar itu. Tiba-tiba, tanganku menarik kedua rahangnya dengan satu tangan, membuat dia kaget. 

"No, I'm your boyfriend, owner and protector, baby. Selama aku masih hidup, aku akan melindungimu," ucapku.

Mata kami terkunci. Aku menunggu dia mengelak lagi mengatakan dia belum setuju menjadi kekasihku. Tapi mengejutkannya, dia tidak mengelak kali ini.

"Aku bisa melindungi diriku sendiri, kau tahu," jawab Lara dingin.

Aku tersenyum kecil. "Aku tahu, tapi aku akan tetap melindungimu," jawabku santai.

Dia menghelakan napas kasar, lalu bertanya. "Apa kau selalu seperti ini? Menato nama-nama kekasih-kekasihmu di tubuhmu?" Suaranya terdengar tajam.

Aku terdiam sejenak, karena bingung mendengar pertanyaannya. "Tidak, baru kau," jawabku jujur. 

Becoming Mafia's PetCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang