Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Chapter 44 - His Wrath

202K 9.4K 6.1K
                                        

Total Kata: 2.800 Kata!

DOUBLE UPDATE

BACA CHAP 43 DULU!

JANGAN SALAH URUT

♦️♦️♦️

MARK'S POV: 

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

MARK'S POV: 

Berani-beraninya dia kabur. Tanganku mengepal begitu kuat, rahangku sangat tegang, mataku melotot dengan penuh amarah. 

Sejak semalam, aku menahan kemarahanku sekuat tenaga. Karena Lara masih sedih, dia membutuhkanku di sisinya. Kalau aku menuruti kemauanku semalam yaitu segera kembali ke markas dan menghabisi Logan saat itu juga, artinya aku harus meninggalkan Lara sendirian di rumah semalam. Dan aku berjanji padanya, aku tidak akan meninggalkan dia sendirian.

Untuk pertama kalinya, aku bisa menahan amarahku ini demi Lara. 

Tobias seperti kebingungan mendengar perintahku. Tapi untungnya dia tidak banyak berdebat. "Baiklah, aku akan mengirim orang melacak Logan," jawab Tobias.

Tobias percaya padaku, dia tahu aku tidak mungkin marah tanpa alasan.

"Aku akan ke markas sebentar lagi," ucapku. 

"Oke, ku tunggu," jawab Tobias. Setelah itu panggilan tersebut terputus. 

Setelah panggilan itu terputus, aku mencengkram ponselku sangat kuat, sampai aku yakin kalau aku menambah sedikit kekuatanku, ponsel itu akan retak. 

Semalam, Lara menceritakan semuanya. Bagaimana Lara dan Logan mulai berpacaran sampai akhirnya Lara tahu dia hamil, dan bagaimana reaksi Logan setelah itu. 

Semakin aku mendengar semuanya lebih detail, semakin tinggi juga keinginanku untuk membunuh Logan. Seketika aku sudah tidak peduli kalau dia benar anaknya Carlo.

Fuck, persetanan. Aku begitu marah pada Logan dengan apa yang dia lakukan pada istriku dan juga bayinya saat itu. Batinku.

Aku tidak masalah andaikan Lara saat ini memiliki anak dengan Logan. Asalkan dia tidak harus menanggung trauma mendalam seperti ini, menangis setiap kali mengingatnya, atau bahkan mengalami panic attack seperti semalam.

Kepalaku begitu panas sekarang. Napasku memberat, tatapanku begitu tajam, tanganku mengepal. 

Tiba-tiba, sentuhan lembut Lara pada bicep-ku membuat aku kembali ke dunia nyata. Aku menoleh ke arah Lara. 

Di situ dia sudah duduk di sebelahku, dia tidak repot-repot menutupi tubuh indahnya yang telanjang itu. Aku dapat melihat payudara besarnya yang sangat cantik, dan sekujur tubuhnya yang dihiasi kissmark-ku. Rambut halusnya terlihat sedikit berantakan, tapi itu menambah kesan bangun tidur yang sangat seksi.

Becoming Mafia's PetCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang