DARK ROMANCE! BACA TRIGGER WARNING DULU SEBELUM BACA INI!
Lara selalu merasa diawasi. Ke mana pun dia pergi, dia selalu merasa ada mata yang mengawasinya. Awalnya dia pikir semua ini hanyalah bayangannya saja. Sampai suatu hari. Dia menyadari, kalau...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
LARA'S POV:
Selama beberapa detik, aku mencoba memproses kalimat Mark. Kekasih katanya? Baru saja kemarin dia muncul entah dari mana, lalu menculikku, dan sekarang bilang ingin aku menjadi kekasihnya?
He's joking, right? Aku tidak mengerti cara kerja otaknya.
"Kekasih?" Tanyaku masih bingung.
Mark mengecup rahangku, membuat aku memiringkan leherku sedikit. Aku bisa merasakan kejantanannya yang besar dan masih di dalamku, aku mengigit bibirku menahan desahanku.
"Iya," jawab Mark singkat, masih mengecup rahangku.
"Mark, astaga. Kejantananmu masih di dalamku," ucapku.
Saat ini aku merasa vaginaku sangat sesak, bukan aku tidak suka, hanya saja, aku sulit berkonsentrasi mengobrol jika kejantanannya di dalamku.
Aku pun menambahkan. "Keluarkan dulu, Mark." Sambil mencoba mendorong tubuhnya yang menindih tubuhku.
Ketika Mark mundur, aku bisa melihat dia di atasku, terlihat begitu.... Tampan, perkasa dan sangat seksi. Aku bisa melihat tubuh tan-nya, perut eight-pack-nya dan juga tatonya yang memenuhi tangannya. Bahkan rambutnya berantakkan karena aku menjambaknya tadi.
Mark terlihat begitu dominan dan berkuasa di atasku. Ini pemandangan yang sangat indah.
Tanpa seizinku, vaginaku pun berdenyut hanya melihat pemandangan itu. Tepat saat itu Mark langsung mengerang rendah, pipiku terasa panas seketika malu, pasti Mark merasakan itu.
Jempol Mark menyentuh klitorisku, membuat aku kaget. "Kenapa vaginamu berdenyut, baby?" tanya Mark dengan nada rendah.
Aku tidak menjawab itu. "Mark, keluarkan kejantananmu!" seruku.
"Kenapa?" tanya Mark.
Mataku mengerjap. "Kita harus berbicara!"
Aku benar-benar tidak mengerti, bukannya Mark baru saja menembakku tadi?
Mark kembali menindihku, kali ini mulutnya sudah di nipple-ku, dia mengisapnya sambil menatapku. "Kita bisa berbicara seperti ini," ucapnya, lalu menjilatinya lagi.
Nipple-ku begitu sensitif, aku bisa merasakan kenikmatan ketika lidah nakal Mark menjilatinya.
"Tidak bisa," desahku.
Dan seperti biasa, Mark tidak mendengarkan ucapanku. Dia menjilati nipple-ku dan mengisapnya. Tidak butuh waktu yang lama untuk nipple-ku mengeras.
Aku menahan desahanku ketika Mark mengigit nipple-ku. "Mark, stop," ucapku, tapi suara yang ku keluarkan seperti desahan tertahan.
Mark pun meremas payudaraku yang menganggur, kali ini dia mengigit keras nipple-ku yang satunya.