Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Chapter 77 - Hold On

292K 11K 10.3K
                                        

♦️TOTAL KATA: 2.100 Kata!!♦️

DOUBLE UPDATE!

BACA CHAPTER 76 DULU!

JANGAN

SALAH

URUT

BACA!

(SUDAH DIINGATKAN!)

♦️♦️♦️

MARK'S POV: 

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

MARK'S POV: 

Beberapa jam sebelumnya. 

Setelah Lara, Ibuku, Sierra, Tobias dan Jasper pergi ke guest house. Aku pun langsung menuju sel di mana Dante dan Logan berada. Dante membawa Logan ke sel paling ujung.

Sel di sini sudah hampir penuh, dan semua berisi Castelli. Dengan beberapa anak buahku menjaga di setiap pintu. 

Aku bisa mendengar kalimat benci dari mereka ketika aku berjalan melewati sel mereka.

"Jangan kau pikir kau sudah menang, Dolton."

"Fuck you, Dolton!

"Kau akan mendapatkan balasan setimpal, kid."

Tapi aku tidak menghiraukan mereka sedikit pun, aku tetap melangkah menuju sel di paling ujung. Sampai akhirnya, aku bisa melihat Dante di depan sel. Berdiri santai, menguyah permen karet, sambil melihat ponselnya. 

"Dante," panggilku. 

Dante menoleh dan berkata. "Dear god, akhirnya kau datang. Aku harus ke atas, tadi Louisa menelponku, tapi di sini tidak ada sinyal," serunya. Dia langsung memberikanku kunci sel Logan.

Aku menerimanya dan mengangguk."Okay, thanks, Dan."

Setelah itu, Dante segera pergi dari sini untuk menelpon kembali istrinya. Aku membuka kunci pintu sel, dan masuk ke dalam. 

Di dalam, Logan terlihat duduk di lantai, bersandar pada dinding. Kedua kakinya berlumuran darah, tangannya terborgol ke belakang punggung, dan salah satu matanya berdarah karena ditembak Lara tadi. Kepalanya tertunduk, napasnya berat, jelas menahan rasa sakit yang luar biasa.

Sepertinya dia mendengar pintu sel terbuka, dia pun mengangkat pandangannya sampai akhirnya tatapan kami bertemu. 

"Well, aku kira kau sudah melupakanku," ucap Logan tajam.

Aku tersenyum simpul, lalu menutup pintu sel di belakangku. "Aku tidak akan lupa dengan buruan utamaku," ucapku sambil melangkah ke arahnya. 

Saat aku berdiri di depannya, kakiku dengan sengaja menginjak kuat kakinya yang masih berdarah oleh luka tembakan. Logan menjerit kesakitan, suaranya menggema di seluruh penjara basement. Aku bisa merasakan tatapan tajam dari para tahanan lainnya—dari sel di sebelah Logan hingga yang berada di seberang.

Becoming Mafia's PetCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang