Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Chapter 54 - The Altar

176K 9.2K 6.6K
                                        

TOLONG BACA:
Saran saja, lagu di atas dinyalakannya ketika sudah sampai di bagian 'Orkestra live mulai memaikan lagu Young and Beautiful oleh Lana Del Rey' 
Atau bisa dengerin di playlist spotify 'Becoming Mafia's Pet' Sudah aku add lagu ini versi orkestra di paling bawah.

♦️♦️♦️

Total kata : 2.700 kata

MARK'S POV: 

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

MARK'S POV: 

"Apa itu mawar hitam?" Aku bisa mendengar suara Hannah menanyakan itu ke Lara dari earpiece-ku. 

Saat ini, aku sudah rapi mengenakan jas hitam formal dan sedang duduk di sofa kamar tamu, yang lokasinya sangat jauh dari kamar Lara berada sekarang.

Sejak tadi, aku memiliki desakkan untuk menghampiri Lara karena ingin melihat penampilannya mengenakan gaun pengantin yang aku pilihkan. Sebenarnya aku bisa saja melihat penampilannya ketika dia mengaca, melalui kamera tersembunyi yang aku pasang di kalung barunya.

Tapi aku menahan diriku sekuat tenaga untuk melakukan keduanya. Aku ingin melihat Lara di altar nanti. 

"Iya, aku suka mawar hitam," jawab Lara. Suaranya terdengar lembut. Aku bisa membayangkan wajah cantiknya saat ini.

Hanya mendengar itu membuat aku mengerang. Fuck, aku ingin menghampirinya sekarang juga.

Tiba-tiba suara Tobias mengganggu kesenanganku. "Jasper berhasil masuk Castelli," ucap Tobias. 

Aku menoleh ke Tobias yang baru memasuki kamar dari balkon. Tadi dia menerima panggilan di balkon. 

Aku mengisap cerutu dan melepaskan asapnya ke udara, lalu menjawab. "Sepertinya dia lebih berguna dari yang aku kira."

"Sudah ku bilang, tidak ada salahnya mencoba pakai jasanya," jawab Tobias. Dia duduk di sofa seberangku, lalu mengeluarkan rokok dan menyalakannya. 

"Well, kalau dia bukan mantan kekasih Lara, mungkin aku tidak meragukannya sejak awal," jawabku. 

Apalagi mengingat selama dua tahun aku selalu memiliki desakan untuk membunuh Jasper setiap melihat dia bermesraan dengan Lara. 

Rahangku menegang ketika mengingat itu. Alhasil, puluhan TV, layar komputer, dan ponsel hancur—korban dari emosiku yang aku lampiaskan pada benda-benda elektronik itu.

Tobias mengisap rokoknya sambil menatapku. "Kau harus profesional, Mark, jangan campurkan perasaan pribadimu dengan urusan bisnis," ucap Tobias.

Alisku terangkat. "Mudah bagimu yang belum pernah tergila-gila dengan satu wanita," ucapku. 

"Kata siapa aku belum pernah seperti itu?" tanya Tobias.

"Oh, jadi aku salah?" tanyaku.

Tobias terdiam sejenak sebelum berkata. "Tidak, kau benar." Dia mengakuinya.

Becoming Mafia's PetCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang