64. Evaluation

1.8K 169 5
                                        

Happy reading!!!!









Senin pagi ini, Deva, sudah siap dengan seragam sekolahnya. Deva, keluar dari kamar dengan membawa wheel bag. Deva, agak kesusahan untuk menuruni tangga, sebab, harus mengangkat wheel bag yang cukup berat bagi Deva. Untungnya, ada seorang pelayan pria yang tengah lewat dan melihat tuan mudanya dalam kesulitan. Pelayan itu dengan sigap membantu Deva, hingga anak tangga terakhir.

Si pelayan juga sempat bertanya, kenapa Deva tidak menggunakan lift saja. Dan jawaban Deva, adalah, jika ia masih takut untuk pakai lift sendirian. Si pelayan juga, menyarankan jika Deva, masih takut agar meminta pelayan untuk membantunya.

Oh iya, omong-omong, Deva, baru menyadari jika sudah pulang saat ia terbangun pukul 4 pagi tadi. Semalam, saat ia dijemput oleh ayahnya, Deva, hanya merasakan kehadiran ayahnya tanpa tau jika dirinya dibawa kembali ke mansion.

Ketika sampai ruang makan, Deva, terkejut ketika melihat Sandika. Wajah Sandika, yang dihiasi lebam di kedua pipinya, sudut dahi kanannya, rahang kirinya dan sudut bibirnya yang juga terluka.

Pegangan tasnya, Deva, lepaskan. Ia, berlari mendekati Sandika, dengan wajah yang terlihat sekali khawatirnya.

"Koko, Koko, kenapa?" Tanya Deva, ketika sudah berada disamping tempat duduk Sandika.

Jari telunjuknya, dengan hati-hati menyentuh lebam yang bersarang di pipi kanan Sandika.

"Koko, ini sakit. Koko, kenapa berkelahi?"

Deva, tahu, jika luka seperti itu sering didapat karena berkelahi, setelah diberitahu oleh Joseph.

"Hanya sakit sedikit. Koko, tidak berkelahi. Ini Koko, dapat saat sedang latihan."

"Siapa yang buat Koko, luka?"
"Seharusnya, kalau hanya latihan tidak boleh sampai melukai."

Sandika, merasa hangat ketika Deva, mengkhawatirkannya.

Selama Deva berbicara, Sandika, menjadi salah fokus dengan deretan gigi Deva, yang kosong. Selain itu, ada beberapa lecet di wajah adiknya dan terdapat lebam diarea rahangnya.

"Didi, wajah Didi kenapa, kenapa banyak luka dan lebam seperti ini?"

"Didi, jatuh dari scooter saat menginap tempat amah, hehe." Cengiran, Deva tampilkan diakhir.

"Apa Didi, terluka parah sampai gigi milik Didi, tanggal?" Tentu Sandika, khawatir. Adiknya terjatuh sampai membuat giginya tanggal. Tapi, dibalik itu Deva, terlihat sangat menggemaskan dengan gigi ompongnya.

"Enggak. Didi, cuma lecet sedikit saja. Giginya copot karena memang sudah goyang. Terus saat Didi, jatuh, duk, Didi, terkena stang scooter terus jadi copot." Deva, memperagakan bagaimana ia terbentur saat jatuh.

"Didi, sudah dibawa ke rumah sakit. Lukanya sudah diobati, lalu apa ada masalah setelah gigi Didi, copot?" Deva, dibuat bingung akan pertanyaan Sandika, yang beruntun.

"Didi, tidak mau ke rumah sakit. Didi, sudah diobati oleh dokter tetangga amah."

Kedatangan Damian, membuat perbincangan kakak dan adik itu terhenti. Damian, yang meminta Deva, mendekatinya, kemudian mendudukkan Deva, di kursi, lalu mengoleskan salep lebam.

🐼🐼🐼

Bunyi bel, menandakan waktu istirahat. Hampir seluruh siswa meninggalkan kelas, entah untuk pergi ke kantin, perpustakaan, taman untuk menikmati bekal mereka, ke lapangan untuk bermain, atau menghabiskan waktu istirahat mereka di kelas.

Deva dan kedua temannya, merupakan salah tiga yang pergi ke kantin. Begitu sampai pintu masuk kantin, Deva, bertemu perempuan yang dikenalinya.

The Real HeirsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang