Tanpa sadar sudut bibirku mengulas senyum saat memperhatikan Jingga yang begitu akrab dengan dua keponakan ku di meja makan. Bahkan si kecil kakang sampai menggelayut manja saat Jingga dengan telaten menyuapi sarapan pagi untuknya dan Niko.
Padahal kalau di ingat tubuh Jingga yang bau membuat siapa saja tak ingin berdekatan lebih lama dengannya. Tapi kakang? Ah entah hidungnya mungkin lagi tersumbat sesuatu, beda dengan Niko yang ku perhatikan agak menjaga jarak namun masih menciptakan kehangatan dengan celotehannya yang tidak sabar untuk pergi melihat kelinci-kelinci yang sudah Jingga janjikan pagi ini.
"Gimana nasi gorengnya enak?" Aku bertanya pada ketiganya, memastikan dengan percaya dirinya jika masakanku lebih enak dibanding siapa pun.
Niko dan kakang menoleh, mengacungkan kedua jempolnya sebagai jawaban. "Om dari dulu emang paling jago masak nasi goreng," ujar Niko.
"Mantap om," sambung kakang yang membuat wajahku berseri, tak sia-sia aku bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan agar tidak keduluan oleh Jingga. Jujur saja, sampai saat ini aku belum mau menyicipi masakan yang dibuatkan oleh Jingga. Takut makanannya tak seenak yang dibuat emak dan ... Takut jadi penyakit nanti, gara-gara masakannya bercampur dengan bau keringat yang menempel di tubuhnya.
Jingga beralih pandang, menatapku dengan seulas senyum "tentu atuh enak banget ini mah, apalagi dibuatnya dengan cinta" jawab Jingga yang seketika membuatku tersedak.
Uhuk ... Uhuk ...
Jingga yang panik melihatku terbatuk, buru-buru menyodorkan segelas air minum.
"Pelan-pelan atuh kang," tegurnya menepuk pelan pundakku.
Aku menggeleng, dengan mengedikan kedua bahu. "Saya udah pelan-pelan tapi ucapan kamu yang bikin saya kaget" lirihku dalam hati saat kedua netra kami bertemu sesaat.
Setelah itu Jingga kembali duduk, dan kembali menyuapi si kakang yang tengah manja padanya. Buru-buru aku menyelesaikan sarapan untuk menyelamatkan degupan jantung yang tak karuan ini, entah kenapa.
"Kalau sudah selesai, om tunggu kalian di luar. Om mau panasin motor dulu," ujarku sembari beranjak.
"Om sekalian ambilin sepatu aa sama adek di gudang ya." Pinta Niko yang membuatku mendengus sebal. Masih bocah juga udah berani suruh-suruh, emang pohon jatuh tak jauh dari buahnya!
"Iya," jawabku datar.
Setelah sepuluh menit berlalu, kini kedua kakak beradik itu sudah keluar dari rumah dengan pakaian santainya.
"Om sepatunya mana?" tanya Niko.
"Itu," tunjukku pada kursi kayu panjang.
Niko mengangguk, ia duduk di kursi tersebut dan memakaikan sepatunya diikuti kakang di sebelahnya.
"Tante Jingganya mana?" tanyaku mendekat kearah keduanya, membantu kakang yang masih agak kesulitan memakai sepatunya.
"Ini aku kang, udah pada siap kan? Ayo," jawab Jingga yang sudah berdiri di belakangku.
"Udah, kamu pakai motormu ya. Akang biar bonceng anak-anak pake motor bapak," pesanku sebelum kami berangkat.
Jingga mengangguk, "iya, kakang biar sama jingga aja kang biar adil sama-sama ngebonceng" pintanya yang disetujui kakang dengan sangat antusias.
"Yaudah, adek sama tante Jingga duluan ya biar om sama aa mengikuti dari belakang"
"Iya, ayo tan kita tinggalin om sama aa. Kakang udah gak sabal pengen lihat kelinci," ujar kakang menarik lengan Jingga menuju motor maticnya.
Aku terkekeh, tangan ini ku ulurkan untuk menuntun si kecil Niko agar berjalan bersamaan denganku menuju motor tua milik bapak.
"Om, tempatnya jauh gak? Bau enggak om?" Niko bertanya sesaat saat kami sudah melajukan motor, mengikuti Jingga dari belakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomanceAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
