Malam yang romantis

331 12 0
                                        


Malam di Pulau Buru selalu terasa berbeda. Setelah seharian penuh menjelajah hutan tropis, pantai berpasir putih, dan air terjun yang memukau, kami kembali ke penginapan kecil yang berdiri di tepian pantai. Angin laut berhembus lembut, membawa aroma asin laut yang segar dan menenangkan. Aku menyalakan lilin-lilin kecil di lantai kamar dan di meja, menebarkan cahaya temaram yang menari-nari di dinding kayu. Lampion bambu yang kugantung bergoyang lembut oleh angin malam, menciptakan suasana intim yang sempurna. Aroma bunga kenanga yang kupetik sore tadi memenuhi kamar, menambah kehangatan dan kesan romantis. Pokoknya malm ini aku ingin membuat Jingga terkesan.

Jingga muncul dari kamar mandi dengan rambut masih setengah basah, mengenakan lingerie berwarna putih yang lembut menempel di tubuhnya, begitu seksi dan memukau. Aku bahkan tak bisa berkedip menatapnya. Matanya berbinar ketika melihat lilin-lilin yang kupasang, seperti melihat dunia yang diciptakan khusus untuknya. “Wow… Kang, ini… cantik banget,” ujarnya dengan suara pelan, hampir berbisik agar malam itu tetap terasa sakral. Aku tersenyum, menggenggam tangannya, dan membawanya duduk di atas kain tipis yang kubentangkan di lantai kayu.

“Semua ini untukmu, sayang. Malam ini, aku ingin hanya ada kita berdua, tanpa gangguan dunia luar,” bisikku, menatap matanya penuh cinta.

Jingga tersenyum, sedikit tersipu. “Aku merasa seperti mimpi… aku nggak pernah menyangka kamu bisa memikirkan semua ini,” ujarnya lirih. Aku mendekat, memegang wajahnya, lalu mengecup keningnya, pipinya, dan bibirnya dengan lembut. Ia menutup mata, menikmati sentuhanku, seakan dunia di luar kamar ini sudah berhenti berputar.

"Cantik banget sih kamu," pujiku tulus, mataku tak berhenti menatapnya.

Kembali Jingga tersipu malu, membuat semakin manis.

“Jingga… aku ingin malam ini jadi malam yang tak akan kita lupakan. Maaf ya sayang bulan madunya telat banget, tapi aku melakukan ini semata-mata hanya ingin kamu merasa dicintai sepenuh hati,” bisikku dengan suara serak karena haru.

Ia membuka mata, menatapku lama, lalu tersenyum. “Aku merasakannya, Kang. Aku pun ingin malam ini menjadi momen yang selalu kuingat. Makasih sudah memenuhi mimpiku untuk datang ke pulau ini” ujarnya.

Aku mengangguk, memeluknya lama, tubuh kami menyatu dalam hangatnya malam tropis. Suara ombak yang terdengar dari jendela seolah berirama dengan detak jantung kami. Aku mengecup rambutnya, wajahnya, dan bibirnya dengan kelembutan penuh kasih. Jingga menempelkan kepalanya di dadaku, membiarkan malam itu menjadi saksi bisu bahwa cinta kami ini murni, tulus, dan tak tergoyahkan.

Pelan-pelan aku memimpin Jingga ke sofa dekat jendela, duduk berdua sambil saling menatap. Aku menyalakan lampu lilin aroma tambahan yang kubawa, menciptakan suasana lembut dan hangat. Aku menggenggam tangannya, menyelipkan jemari kami, dan membisikkan kata-kata yang membuat hatinya bergetar.

“Jingga, malam ini aku mau kita benar-benar berbagi semua perasaan. Aku mau kau tahu, aku mencintaimu bukan hanya karena kau istriku, tapi karena kau sahabatku, pendukungku, dan rumahku.”

Ia tersenyum lembut, matanya berkaca-kaca. “Aku pun begitu, Kang… Aku ingin kita selalu begitu, saling melengkapi, saling menjaga, tanpa pernah merasa sendiri.”

Aku menariknya lebih dekat, menutup mata, dan mengecup dahinya, bibirnya, dan pipinya. Ia menutup mata juga, menikmati sentuhan lembutku. Suara ombak di luar semakin menenangkan, angin laut yang menembus jendela menambah sensasi hangat dan intim. Aku merasakan betapa tubuhnya menempel erat di tubuhku, seakan ingin mengukir malam itu selamanya di ingatan kami.

Mataku tak henti-hentinya menatap takjub, memuja tubuhnya yang begitu mulus. Gaun sutera putih itu begitu pas melekat  ditubuhnya. Potongan sadanya begitu rendah, sementara dibagian pundaknya hanya tertahan tali renda yang tipis dan mudah terurai. Dengan senyum bahagianya, Jingga mengulurkan tangan, menyentuh pipi dan daguku.
"Gaunnya cantik, aku suka" ucapku menggodanya.

"Tapi aku gak nyaman kang, sempit. Ini mah kekecilan, gak kaya yang kamu beliin tiap dari kota" jawab Jingga, bibirnya mengerucut lucu.

Aku terkekeh senang. "Sengaja sayang, aku pilih satu nomor lebih kecil dari biasanya"

"Kenapa?"

"Biar tambah seksi," godaku dengan mengangkat ujung kain dipahanya.

"Kang ..." Peringat Jingga.

"Boleh kan ya? Biasanya juga kamu goda akang duluan, kan tujuan kita kesini buat," ucapku menggantung.

.

.
.
💫💫💫
Malam itu, Pulau Buru menjadi saksi bisu… apa yang akan terjadi ketika dua hati yang saling mencintai benar-benar menyatu?
Penasaran?
Yuk baca selangkapnya di karyakarsa
Link?
https://karyakarsa.com/Akaralangitbiru/malam-yang-romantis

Istriku Juragan JinggaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang