"semua akan baik-baik saja, tak ada yang menyakiti dan tersakiti!"
Itulah kalimat afirmasi positif yang ku gaungkan dalam hati akhir-akhir ini setelah pernyataan Jingga yang begitu dalam pagi itu.
Entahlah, sudah ku katakan, aku bingung! Tak tau harus bahagia atau sedih. Semua terasa rumit setelah pernyataan itu.
Semesta rasanya seolah bercanda, aku menikahinya karena keterpaksaan dari sebuah nadzar yang tak seharusnya kuucapkan dulu dan aku tak pernah sedikit pun memiliki rasa cinta untuknya. Ku harap ia pun begitu padaku, agar aku tidak merasakan rasa bersalah padanya.
Tapi nyatanya? Oh my god, aku salah prihal ini. Rupanya pesonaku telah menyihir hatinya, menggerakan energi cintanya padaku. Kalau sudah begini, aku harus apa?
Bukan aku yang salah prihal ini, tapi salahkan ketampananku, karismaku hingga Jingga terpesona sebegitu dalamnya. Dan aku tidak menyukai pernyataannya.
Tidak salah prihal mencintai, yang salah Jingga! Mengapa ia harus mencintaiku? Bukan aku tak mau dicintai, bukan aku merasa tak pantas untuk mendapatkan cintanya tapi aku ... Aku terlalu sempurna buatnya yang seperti bongkahan kerikil di gunung padang pasir.
Kalau saja pernyataan itu keluar dari mulut Sinta, aku jelas akan menyukainya dan merasakan kebahagiaan tiada tara. Tapi ini? Oh my good, aku katakan sekali lagi. Ini jelas membuatku rumit!
"Datang-datang ke kantor bukannya nyapa dengan ramah, ini malah menunjukan wajah kisut terus duduk dengan bengong. Bentar lagi waktu ngajar tiba, bukannya siapin materi atau apa kek ini masih aja asik ngelamun. Wanita mana yang menyakitimu kakanda?"
Aku tersentak mendengar suara Ujang, yang tiba-tiba duduk dihadapanku. Matanya tajam, penuh perhatian, dan seolah mampu menembus dinding pemikiran yang sedang menghalangiku. Aku hanya bisa menghela napas, sedikit terkejut dengan kehadirannya yang tak terduga.
"Enggak ada siapa-siapa, Jang," jawabku dengan cepat, berusaha menutupi kegelisahanku. "Cuma sedikit sibuk mikir aja"
Satu alisnya terangkat, lalu ia menggeleng dengan decakan. Aku bisa merasakan sorot matanya yang penuh penasaran. "Sama-sama sibuk, ya? Tapi kayaknya bukan cuma kerjaan deh yang bikin lu kelihatan begini. Punya masalah pribadi juga, ya?" todongnya.
Aku tak langsung menjawab.
"Kenapa sih, si Juragan buat ulah? Atau dia gak nurutin kemauan lo? Lo minta apa lagi sama dia, mobil?" tanyanya beruntun.
Aku menggeleng. "Dia mencintaiku," gumamku pelan.
suara itu hampir hilang di antara pikiran yang bergejolak. Ujang terdiam, tampaknya mencoba mencerna kata-kataku, sedetik kemudian ia tertawa dengan diiringi tepukan pelan kebahu kokoh milikku.
"Gak kaget sih, gue sudah menduga itu sebelumnya" ucap
Ujang, suaranya santai namun ada sedikit nada serius di sana. Dia menepuk-nepuk bahuku dengan lembut, lalu duduk lebih tegak, matanya tak lepas dari wajahku yang penuh kebingungan.
Aku hanya bisa diam, masih terperangkap dalam pikiran-pikiran yang terus berputar. "Maksud lo gimana, Jang?" tanyaku, mencoba untuk mencari kejelasan dari reaksinya.
Ujang menggelengkan kepala, seolah memperhatikan dengan seksama setiap ekspresi yang terlukis di wajahku. "Lo pikir gak ada orang yang bisa lihat kan? Itu jelas banget, bro. Plis, dari awal gue bilang sama lo kan. Si juragan itu cinta sama lo, mana ada dia mau ngorbanin luas tanahnya yang harga miliaran dibalik nama atas nama lo dengan cuma-cuma. Gue juga perhatikan sikapnya beda banget, kata orang dia itu perempuan ramah tapi gak murahan sementara yang gue perhatikan kalau sama lo, dia kaya gak ada harga dirinya dan itu bagus loh buat misi kita untuk porotin hartanya. Bulan ini lu minta apa lagi sama dia? gue saranin bangun rumah dulu sebelum mobil"
Aku mendengus, menggeplak meja dengan kerasnya. "Jangan mulai deh, lu setiap gue ajak ngobrol tentang dia pasti yang lu bahas itu-itu aja. Harta hanya titipan bos, gak bakalan dibawa mati"
Ujang berdecak, ia mengikutiku berdiri. "Kagak usah ingat mati dulu sebelum lu nikmatin kekayaannya. Gue jamin, dengan begini lu bakalan jadi mudah buat dapatin hartanya. Asal lo baik-baikin aja dia,"
"Bangsat lu, temen laknat bau api neraka!"Aku menatap Ujang dengan marah, dada terasa sesak. Setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti pisau yang mengiris hati. Hatiku bergejolak, tak tahu harus berbuat apa. Aku tak bisa menerima bahwa dia begitu memperlakukan perasaan orang lain seperti permainan. Ujang, yang aku anggap teman, malah menanggapi segala sesuatu dengan cara yang sangat pragmatis, tanpa memperhitungkan nilai-nilai kemanusiaan atau perasaan.
Eh tunggu dulu, mengapa aku jadi sebijak ini? Harusnya aku senang dong dengan apa yang si ujang ucapkan. Memang itu kan tujuanku akhir-akhir ini, menuruti perintah si Ujang buat menguras hartanya. Tapi ... Ah, aku tak bisa sekejam itu. Hatiku terlalu baik.
"Lu gak ngerti apa yang gue rasain, Jang!" ucapku dengan suara gemetar, hampir tak bisa menahan emosi. "Gue gak bisa begitu aja mainin orang, gak bisa kayak lu yang cuma mikirin duit. Jingga... dia... dia bukan barang buat dimanfaatin!"
"Halah, tanggung bro. Lu udah kepalang nyebur, terlanjur basah. Mending basah kuyup aja sekalian," Aku menatap si Ujang dengan perasaan yang semakin kacau. Kata-katanya terus bergema di pikiranku, tapi ada sesuatu yang meronta di dalam hatiku. Apa yang aku lakukan ini? Mengapa aku merasa begitu terjebak dalam permainan yang seharusnya tidak pernah kuciptakan untuk diriku sendiri?
"Mana bisa begitu, Jang," jawabku dengan suara rendah, mencoba meredam amarah yang mulai membakar. "Gue gak bisa hidup dengan cara kayak gitu. Gue gak bisa cuma mikirin keuntungan tanpa memperhitungkan apa yang akan terjadi setelahnya."
Ujang menatapku dengan tatapan sinis, seolah menganggapku lemah. "Bro, hidup itu keras. Semua orang punya cara masing-masing untuk bertahan. Kalau lo terlalu mikir moral, lo bakal kehilangan banyak kesempatan. Apa lo mau jadi orang bodoh yang cuma jadi penonton dalam hidupnya sendiri?"
Tapi semakin aku mendengarnya, semakin aku merasakan kegelisahan dalam diriku. Benarkah hidup memang seperti itu? Apakah aku harus benar-benar memilih jalan yang lebih gelap dan licik hanya untuk mencapai sesuatu yang aku inginkan?
Aku terdiam, sejenak terjebak dalam pertanyaan-pertanyaan yang terus berputar. Sementara itu, Ujang terus menatapku, mungkin menunggu aku menyerah pada pendapatnya.
Oh ya salam, tolong ini semakin membuatku rumit. Bagaimana bisa seorang pangeran yang jatuh dari kayangan ini, menyakiti upik abu yang kini bersanding denganku?
Bagaimana bisa aku memoroti hartanya, sementara aku bahkan tak tau dengan apa yang aku butuhkan. Rasanya hidupku ini flat, bahkan aku tak tau dengan tujuan hidupku kedepannya mau apa dan seperti apa.
Untuk memiliki rumah, mobil tak pernah terlintas dalam benakku sebelumnya. Rasanya aku sudah terlalu nyaman hidup bersama kedua orang tuaku. Toh nantinya juga rumah mereka akan menjadi miliku, secara aku sebagai anak bungsu. Tapi pernyataan si Ujang ada benarnya juga sih, hidup ini keras. Mana bisa aku terus bertahan tinggal di rumah orangtuaku sementara sekarang saja aku merasa terusir gara-gara kedatangan teh Ayu. Lalu, apa aku harus menyelam sekalian? Ah, sungguh ini terlalu rumit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomansaAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
