Pagi harinya, Jingga begitu terlihat sibuk ku lihat. Mulai dari menyapu, cuci piring, cuci baju hingga membantu memerah sapi-sapi miliknya seperti biasa bersama asistennya. Siapa lagi kalau bukan si Yudi, laki-laki kegatalan itu hampir setiap subuh selalu mengetuk pintu rumah panggung ini dengan alasan mengambil ember lah, vitamin lah, air panas lah padahal semua itu sudah selalu tersedia di dalam kandang.
Namun, Jingga selalu saja meladeni, dengan senyuman hangat dan sabar, seolah tak pernah lelah. Padahal, aku tahu betul, dia lebih sering terlihat lelah daripada bahagia. Yudi, si laki-laki kegatalan itu tak hanya sibuk dengan alasan-alasan kecil untuk mendekati Jingga, tetapi juga selalu berusaha mencari celah untuk menunjukkan perhatian lebih pada istriku itu. Hey, dulu kemana aja lu saat aku belum menikahinya? Apa sikapnya seperti saat ini, kegatelan? Kalau lu cinta sama si Jingga, kenapa gak lu nikahin dari dulu? Gedeg banget dah, gak gentle man lu.
"Neng jingga, udah gak usah bantu saya buat ambil susu sapinya pagi ini, istirahat aja mumpung juragan besar gak kesini"
Jingga mengangkat wajahnya dari ember susu yang tengah ia peras, lalu tersenyum lemah pada Yudi. Senyumnya itu lebih terlihat seperti rutinitas, seolah itu adalah bagian dari kebiasaan yang tak pernah bisa ia hindari. "Nggak apa-apa, Yud, aku masih kuat kok," jawabnya sambil melanjutkan pekerjaannya.
Aku yang sedang berdiri di luar pagar, memperhatikan dengan seksama, merasa seperti ada yang mengganjal di dadaku.
"Jingga," Yudi melanjutkan, seolah tidak peduli dengan kebisuan yang tiba-tiba menyelimuti suasana. "Kalau capek, bilang aja. Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan. Saya siap bantu." Rayunya sembari mendekati Jingga yang tengah fokus memeras susu.
Jingga menggeleng, "Gak kok, kan udah biasa juga. Kamu perah susu yang lain aja gak usah bantu aku" aku tersenyum bangga saat menderngar penolakan Jingga begitu halusnya. Bagus, istri solehah memang harus begitu. Tidak menerima uluran tangan dari orang lain, selain suaminya sendiri.
"Enggak, wajah kamu pucat itu. Pasti lagi gak enak badan, semalam habis ngapain sampai panas gini dahinya" mata ini membulat sempurna saat melihat si Yudi begitu lancang terhadap istriku, bahkan tangan kotornya itu kini sudah mendarat mulus di dahi istriku itu.
Jingga segera menepis, ia beranjak dari aktivitasnya diikuti lelaki brengsek itu.
"Kenapa, kok ketakutan gitu?" tanyanya si Yudi dengan penuh perhatian membuatku muak saja.
Jingga menggeleng, kulihat tubuhnya agak gemetar ketakutan. "Kamu lanjutkan saja Yud, sepertinya aku memang butuh istirahat"
"Istirahat apa belaian? Saya perhatikan kayaknya suami kamu itu gak pernah sentuh kamu ya, mau aku sentuh?"
Kata-kata Yudi menggantung di udara, seperti duri yang terbenam dalam dada. Mataku terbakar, darah ini mendidih, dan jantungku berdebar keras, seakan hendak meledak. Keberaniannya, kelewat batas. Aku merasa seperti ada api yang mulai menjalar di seluruh tubuhku.
Aku melangkah maju, tak peduli dengan kebisuan Jingga yang tampaknya terkejut dengan ucapan Yudi. "LU GILA YA!" teriakku, suara kasar memecah pagi yang hening. Semua darah di tubuhku seperti terpusat di tangan yang meremas kuat ujung baju ini.
Yudi terlonjak mundur, matanya membelalak seolah tak percaya dengan kemarahanku. Dia belum sempat menjawab, namin aku sudah berdiri di depan Jingga, menarik tangannya dengan kasar. "Ayo pulang, gak usah bantuin dia lagi. Bodo amat mamang kamu marah, yang penting terhindar dari buaya darat" ajak ku dengan berbicara menyindir lelaki tak tau diri itu.
"Tapi kang,"
"Apa, mau bantah? Nurut sama suami!" Perintahku yang Jingga angguki lemah.
"Lu? Jangan berani-berani godain juragan lu sendiri. Pake mau ngelecehin lagi, gak waras lu!"
Yudi tampak terkejut dengan amarahku yang tiba-tiba meledak. Wajahnya yang semula tenang berubah pucat, dan tubuhnya mundur sedikit, namun dia tidak langsung pergi. Dengan dagu yang sedikit terangkat, dia menatapku, mencoba menunjukkan ketenangan meski aku tahu bahwa di dalam dirinya sedang berkecamuk ketakutan.
"Bang, gue nggak niat..." Si Yudi mencoba berkata, suaranya agak terbata-bata. Mampus, takutkan lu sama gue.
"Halah, gak niat apaan orang gue lihat semuanya dari awal. Lu kek pengecut sih, godain istri orang" kekehku.
Yudi bergeming, ia menatapku dengan sorot mata tajamnya.
"Apa mau gue hajar iya?" tanyaku segera pasang kuda-kudaan.
"Sebelum lu menikahinya, cinta saya terhadapnya lebih dulu bersemi bang."
Kata-kata Yudi itu membuat darahku seakan berhenti mengalir, dan seketika rasa marah itu meluap begitu saja. "Apa? Lu bilang apa?" Aku mendekat dengan langkah yang pasti, tangan terkepal, hampir tak bisa menahan diri untuk meledak. "Lu bilang udah cinta sama dia sebelum gue menikahinya? Lu kira gue nggak tahu siapa lu? Lu pikir dengan cara kayak gini, gue bakal mundur?"suaraku bergetar keras, namun penuh ancaman.
"Sory, sampai kapan pun dia tidak akan saya tinggalkan. Jadi buang harapan itu,"
Si Yudi menggeleng, ia meraih tangan Jingga. "Abang mencintai mu neng, maaf abang selama ini tidak berani jujur sama kamu. Abang kira kamu-"
Kata-kata Yudi terhenti begitu saja ketika aku menatapnya dengan mata penuh kebencian. Tangan Jingga yang sedari tadi aku genggam tiba-tiba menggigil, dan dia mundur sedikit, menarik dirinya menjauh dari Yudi.
"Brengsek, berani-beraninya mengakui perasaan lu dihadapan suaminya. Stres lu?"
🌿🌿🌿
Sekalian mau promosi cerita baru ekslusif hanya di Wattpad saja huhuhu. Ayo ramein gaes ...
SERUMIT RASA
Cinta itu rumit! Memaksa tumbuh dan bermuara pada hati yang sudah berlabuh menemukan dermaganya. Begitu kiranya definisi cinta bagi Saras. la tak tau kenapa hatinya masih saja merasakan cinta yang bahkan tabu untuk dibicarakan, ia mencintai seorang Arya Wiguna yang merupakan sahabatnya sedari kecil tetapi tidak dengan Arya.
Lelaki itu sangat mencintai Zsa-Zsa Utari teman SMA yang kini sudah menjadi selebriti terkenal, dan mereka saling mencintai mengetahui hal itu jelas membuat Saras harus mundur perlahan apalagi saat keduanya memutuskan untuk menikah membuat Saras semakin tidak memiliki kesempatan. Apalagi perbedaan dirinya dengan Zsa-Zsa sangatlah jauh, Saras bukanlah siap-siapa ia hanyalah seorang anak pembantu yang beruntung bisa mengenal Arya, putra tunggal sang majikan ibunya sedari kecil.
la sadar, jika cinta yang tumbuh dihatinya merupakan sesuatu yang haram untuk dirasakan. Pantang untuk di utarakan dan tak pantas untuk diperjuangkan. Sebelum cintanya tumbuh semakin besar dan sulit di hilangkan, logikanya berjalan memaksa ia untuk menjauh dari kehidupan sahabatnya itu.
Lima tahun berlalu, naas perasaan cinta di hati Saras belum juga menghilang. Takdir bahkan kembali mempertemukannya dengan Arya Wiguna. Kali ini bahkan semakin rumit. Saras terjabak dengan hubungan terlarang akibat insiden kesalahan semalam yang Arya Wiguna lakukan padanya sehingga Arya Wiguna menjadikan Saras sebagai istri simpanannya sebagai bentuk tanggungjawab. Akankah kehidupan Saras sebagai istri simpanan jauh lebih baik? Akankah cintanya yang selama ini terpendam akan di utarakan? Atau justru ia malah terjebak dalam scandal rumit yang sahabatnya itu ciptakan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomanceAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
