Brugh ...
Aku menjatuhkan tubuh ini begitu saja pada kasur yang sudah tak ku tempati beberapa minggu ini. Rasanya begitu nyaman bahkan rasa lelah ini ingin segera ku manjakan di ranjang kesayanganku ini.
Setibanya di kamar, sungguh tubuhku rasanya begitu pegal sekali, apalagi tangan. Ah, rasanya tak karuan gara-gara sepanjanh perjalanan aku menggendong si gendut Niko, keponakanku yang super aktif dan cerdas itu.
Kali ini, untuk meredakan rasa pegal aku memejamkan mata sejenak, berusaha menikmati empuknya kasur yang sudah lama tak ku tempati ini.
Grep!
Seketika kedua netra ini terbuka saat merasakan sebuah tangan melingkar di tubuhku. Indra penciumanku kembang kempis, merasakan bau tak sedap kembali terisap.
Aku menoleh, melihat wajah Jingga yang begitu dekat denganku. "Kamu ngapain peluk-peluk saya?" tanyaku sembari menepis tangannya dari tubuku, lalu bergeser sedikit menjauh darinya.
Jingga merenggut kesal, tubuhnya kembali ia dekatkan dengan tubuhku. "Yaelah kang, jingga cuma peluk doang masa gak boleh?" Protesnya.
Aku kembali memejamkan mata, berusaha napas agar bau ditubuhnya tak tercium begitu menyengat di hidungku.
Aku menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. Bau tubuh Jingga yang cukup menyengat semakin mengganggu konsentrasiku. Aku memang sudah terbiasa dengan kehadirannya yang tak pernah bisa diam, tetapi ada kalanya dia benar-benar membuatku kesal dengan sikapnya yang tak tau malu itu, lebih agresif.
"Kamu tuh ya, gak bisa apa lihat orang capek? Saya pengen tenang dulu, gak usah ganggu bisa?" kataku dengan suara yang sengaja kutahan agar tetap terdengar tenang, meskipun hatiku sebenarnya sudah agak kesal.
Bukannya merasa bersalah, Jingga malah tertawa kecil,seolah tak merasa terganggu dengan nada suaraku. "Ah, kan cuma peluk, Kang. Biar kamu enggak kesepian," ujarnya, dengan suara manja yang sudah sangat aku kenal.
Aku mendelik, lalu bangkit "bukan itu masalahnya," ucapku sambil memegangi kepalaku yang terasa pusing. "Kamu itu enggak tahu caranya menjaga jarak apa?"
Jingga hanya diam sejenak, lalu mengerutkan keningnya. "Akang cuma capek, ngapain aku harus menjaga jarak?"
"Tapi, badanmu ba-" aku tak melanjutkan ucapanku, lalu segera ku beristighfar dalam hati. Hampir saja keceplosan dan melukai hatinya. Bukannya tak menghargai perhatian yang dia beri, hanya saja aku butuh ruang. Ruang untuk bernafas. Ruang untuk memikirkan segala sesuatu tanpa gangguan.
Dengan enggan, aku berbalik dan duduk, memegangi leher yang rasanya semakin kaku. "Kamu mandi dulu deh sana, habis itu pijitin saya. Saya juga mau mandi dibawah sekaligus bawa lilin aroma terapy di kamarnya teh Ayu. Mungkin disana ada,"
"Kok mandi sih kang, kan tadi sebelum berangkat udah mandi lagi pula ini udah jam sebelas malam. Dingin," protesnya.
Aku memutar bola mata, berusaha menahan kesabaran yang mulai tipis. "Ya, emang kenapa? Kan biar tidurnya nyenyak. Saya nyuruh kamu bukan buat cari penyakit justru buat ngusir penyakit. Lagi pula mandinya sama air hangat, gak bakalan dingin. Saya juga mau mandi, biar tubuhnya rileks. Kalau kamu gak mau mandi, yaudah jangan maksain tapi kita tidur pisah. Saya gak mau ya tidur sama kamu yang masih keringatan!"
Jingga terdiam, mendengar nada suaraku yang semakin tegas. Aku tahu dia bukan orang yang mudah tersinggung, tapi kali ini aku memang benar-benar kelelahan dan butuh waktu sendiri.
Setelah beberapa detik, Jingga mengangkat tangan seolah menyerah. "Iya deh, Kang. Jingga mandi deh, tapi habis ini akang jangan dulu tidur. Biar jingga pijitin dulu, tapi gantian ya"
Aku mengangguk cepat, meskipun rasanya agak canggung. Sebagian dari diriku merasa agak bersalah karena bicara dengan nada yang tinggi, tapi di sisi lain, aku juga butuh ruang untuk bernapas, untuk melepaskan semua ketegangan yang menumpuk.
Aku melihat Jingga yang berjalan menuju pintu, sedikit kecewa, namun aku juga merasa lega. Mungkin aku memang terlalu kasar tadi, tapi aku benar-benar butuh ruang untuk bernapas.
Aku memegangi leherku yang terasa makin kaku. Tubuhku masih terasa pegal, tapi yang lebih menyakitkan adalah rasa bingung yang terus menggelayuti pikiranku. Aku berjalan menuju kamar mandi, mencoba membersihkan diri.
Saat air hangat menyentuh kulitku, aku merasa sedikit lebih baik. Sementara itu, suara-suara di luar kamar, seperti langkah kaki Jingga yang menjauh dan beberapa benda yang ia ambil, mulai terdengar samar. Entah kenapa, kehadirannya, meski sering mengganggu, juga memberikan semacam kenyamanan tersendiri.
Mungkin karena dia adalah orang yang selalu ada saat ini, meski kadang dengan cara yang tak selalu aku mengerti.
Aku membuka mata dan memandang cermin. Bayanganku terlihat lelah, dengan kantung mata yang cukup dalam. Aku merasakan berat yang bukan hanya ada di tubuhku, tapi juga di hati. Setelah selesai mandi, aku mengenakan pakaian santai dan keluar dari kamar mandi, lalu pergi ke kamar teh Ayu yang nampak kosong malam ini untuk mengambil beberapa lilin aroma terapy, sementara dua keponakanku itu kini tidur di kamar tamu bersama Mail, yang emak paksa untuk bermalam di rumah kami malam ini.
Saat aku hendak kembali ke kamar, netra ini tak sengaja melihat Jingga yang berada di dapur dengan pakaian dasternya dan handuk yang ia gulung di kepala.
"Ngapain?" tanyaku menghampirinya.
Jingga menoleh dengan agak terkejut, "akang bikin jingga jantungan aja," protesnya sebal.
"Ya kalau gak jantungan kamu gak bakalan hidup," sewotku.
Jingga mencibir dengan kesal. "Bisa aja jawabnya, bikin yang dengar sakit hati"
"Ya bagus, itu artinya hatinya masih berfungsi dengan normal"
Jingga mendengus, lalu menaruh piring yang baru saja dia ambil dari rak. "Biar aja, kan kalau hatinya nggak normal, aku nggak bakalan bisa marah sama kamu," katanya sambil berbalik, membuka kulkas untuk mencari sesuatu.
Aku menahan senyum, meskipun ada sedikit rasa geli mendengarnya. Ah, jingga mengapa akhir-akhir ini dia begitu menggemaskan sih?
Aku berjalan mendekat, membawa lilin aroma terapi yang tadi ku ambil dari kamar teh Ayu.
"Ini udah malam, kamu mau makan lagi?" tanyaku menerka-nerka.
Jingga menggeleng, "enggak, ini tadinya mau cari buah-buahan buat ganjal perut"
"Oh yaudah, lihat kamu udah mandi gini kan segar." Pujiku yang Jingga hadiahi dengan decakan sebal.
"Akang kalau muji gini pasti ada maunyakan?" todongnya penuh curiga.
Aku mengangguk santai. "Iya, saya minta kamu buat pijitin saya. Ayo, saya udah pegal-pegal ini"
"Ih bentar, Jingga mau ngemil dulu. Dikata akang aja yang pegal, Jingga juga loh. Tubuh kakang itu berat, jadinya bikin pegal" adunya.
"Sama-sama pegal, ayo nyemilnya di kamar aja sekalian saya pijitin tapi gantian. Mau?"
"Akang serius?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomansaAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
