"akang ... Kenapa gak bilang kalau kita mau kesini? Katanya gak punya uang, tapi"
Grep.
Aku memeluknya dari belakang dengan erat, kubenamkan kepala ini diceruk lehernya.
"Kamu suka?" Bisikku tepat ditelinganya.
Kedua tangannya masih mengibas-ngibas diudara, seolah ingin protes, tapi tubuhnya perlahan melemas dalam pelukanku. Ia tidak menjawab, hanya menghela napas panjang.
"Akang curang," gerutunya pelan, tapi aku bisa mendengar senyum di balik suaranya.
"Kamu suka atau enggak?" tanyaku lagi, kali ini dengan nada lebih lembut, sambil menekan daguku perlahan di bahunya
Ia membalikan tubuhnya hingga membuat kami saling berhadapan dengan nyaris tak ada jarak, kemudian lengannya ia kaitkan pada leherku.
"Kenapa gak bilang kalau malam mingguannya mau kesini? Jingga kan gak bawa baju dinas kang, jingga juga gak dandan. Pakaian jingga juga gak cocok disini," gerutunya.
Aku terkekeh pelan. Tanganku otomatis melingkar di pinggangnya, menariknya makin dekat.
“Yang cantik mah, mau pakai baju dinas, daster, atau kaos bolong juga tetap cantik di mata Akang,” bisikku, sengaja menatap matanya tanpa berkedip.
Jingga mendecak pelan, pipinya mulai memerah. "Gombal."
"Tapi gombalnya jujur loh ini sayang," balasku cepat.
Ia menunduk sedikit, menyembunyikan senyum yang tak bisa ditahan. Lalu, perlahan ia menepuk dadaku ringan. "Jangan sering-sering bikin kejutan begini, nanti Jingga makin sayang."
"Nah, itu tujuannya."
Ia mencubit perutku, membuatku sedikit melengkung kesakitan pura-pura. Tapi kemudian kami sama-sama tertawa, diiringi debur ombak pantai pangandaran yang menyapa kaki kami dibibir pantai.
"Honeymoonnya kesini aja dulu ya," ujarku.
Jingga menatapku, matanya berbinar meski wajahnya masih menyimpan sedikit rasa kesal yang manja.
"Dulu aja? Emangnya nanti ada lagi?" tanyanya dengan nada menggoda, alisnya terangkat sebelah.
Ah dasar perempuan ini.
"Iya, nanti kita ke pulau buru tempat impian kamu kalau uang akang udah banyak"
"Sekarang juga bisa kang, pake uang aku" potongnya cepat.
Aku menoyor kepalanya dengan sayang, kebiasaan sifat sombongnya mulai kembali terlihat.
"Simpan dulu uangnya," pintaku yang sontak membuatnya mengerucutkan bibir.
Cup.
"Jangan ngambek, kan ini juga sesuai permintaan kamu. Nikmatin malam minggu dipantai kaya gini,"ucapku sambil mengecup ujung bibirnya sekilas cepat, tapi cukup untuk membuat pipinya makin merona.
Jingga langsung memukul pelan dadaku, matanya membelalak malu-malu.
“Kang! Jangan gitu dong! Kan di luar!” bisiknya, meski tak ada siapa pun di sekitar kami kecuali deburan ombak dan angin yang mengusap rambutnya dengan lembut.
Aku tertawa. "Ya biar gak ngambek. Lagian siapa suruh bibirnya lucu banget kalau cemberut?"
"Nyebelin," katanya, tapi senyumnya kembali merekah. Ia lalu menunduk, memandangi kaki-kaki kami yang kini basah terkena ombak.
Aku tertawa dengan menarik hidungnya gemas. "Sekarang kita mau kemana dulu nih tuan putri? Mau nikmatin ombak dulu atau serbu makanan laut?" tanyaku. Tangan ini terulur membelai rambutnya yang tertiup angin laut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomansaAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
