"bagus, jam segini baru pulang. Bagus ... Ngapain aja hah?!" Aku bertanya dengan penuh emosi, kedua tanganku bersedekap dada sementara punggungku bersandar di ambang pintu masuk rumah ini. Kedua mataku menatap tajam kearah Jingga yang begitu terkejut saat baru saja turun dari sebuah motor matic bersama seorang laki-laki yang sempat ujang tanyakan tadi.
"Kang ..." Jingga berseru lirih.
Aku berdecak, menarik lengannya hingga tubuhnya hampir terhuyung. "Masuk!" Perintahku.
Jingga tak melawan, ia masuk terlebih dulu kedalam rumah meninggalkanku yang masih menatap tak suka kearah motor matic yang terparkir dihalaman.
"Lo jangan kasar sama juragan!" Ujarnya dengan mata nyalang, ia hampir saja turun dari motor.
Aku mengedikkan bahu acuh, menatapnya tajam mengibarkan bendera perang padanya namun aku tak menggubris ucapannya dan memilih untuk memasuki rumah mengejar Jingga, istriku.
Aku membanting pintu cukup keras, membuat suara dentumannya menggema ke seluruh penjuru rumah. Langkahku cepat menyusul Jingga yang sudah masuk ke kamar tamu, kamar yang selama dua minggu ini menjadi tempatnya.
Aku mendengus sebal saat pintu kamar tamu ini ia kunci, dengan cepat aku berjalan mengambil kunci cadangan lalu membukanya penuh kekesalan.
Clek.
"Aku tanya, kamu dari mana?! Jam segini baru pulang, naik motor sama laki-laki yang bahkan nggak pernah kamu ceritain ke aku!" Suaraku meninggi. Nafasku berat, dadaku naik-turun oleh emosi yang nyaris tak tertahan.
Jingga terperanjat kaget saat baru saja keluar dari kamar mandi. Tunggu aku terdiam cukup lama menatapnya, kedua lubang hidungku mengendus bau yang tak biasa dari kamar ini.
Aromanya nampak berbeda, tak ada bau asem, amis atau bau apa pun yang bikin kepala ini pusing.
Keningku berkerut. Ini aneh. Pasalnya kalau dikamarku, Jingga kalau sehabis dari kamar mandi bau tubuhnya malah semakin menyengat. Tapi ini... kamar yang rapi. Wangi. Dan Jingga... dia berdiri di sana mengenakan pakaian stelan santai bersih dan baru, rambutnya masih basah. Wajahnya tak menunjukkan rasa bersalah, tapi justru tenang, terlalu tenang.
“Jawab, Jing. Kamu dari mana?” Tanyaku lagi, kali ini lebih pelan, tapi dingin. Menekan seperti ujung pisau.
Jingga menatapku. "Habis dari kota, ikut seminar tentang masalah ternak wakilin mamang"
"alah alesan, bilang aja pengen berduaan sama si Yudi gatel itu" cibirku.
Jingga mendengus, ia berjalan menuju meja rias lalu duduk dengan acuhnya menghiraukanku.
"Akang kalau cuma mau bahas itu, mending keluar. Jingga capek, mau istirahat" ujarnya, tangannya dengan lihai mengoleskan krim malam pada wajahnya, setelah itu ia memakai body lotion dengan wangi bunga yang segar. Tak biasanya.
Bukannya menurut, aku malah duduk di tepi ranjang memperhatikannya.
"Sejak kapan?"
Jingga berhenti mengoleskan body lotion. Gerakan tangannya terhenti di pergelangan. Cermin di hadapannya memantulkan wajahku yang duduk di belakang, menatapnya dalam-dalam.
"Sejak kapan apa?" tanyanya tanpa menoleh.
"Sejak kapan kamu berubah?" Suaraku berat. Tak lagi marah, tapi penuh curiga. "Kamu beda. Dari cara kamu berpenampilan, cara kamu ngomong… sampai cara kamu wangi sekarang. Sejak kapan kamu mulai berani untuk terang-terangan nakal dibelakang aku? Jangan hanya karena aku dekat dengan sinta, kamu malah ikut-ikutan gak mau kalah lalu dekat sama laki-laki sampai berubah sedrastis ini!"
Jingga menegakkan tubuhnya perlahan. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang, lalu berdiri membalikkan badan menghadapku. Tatapannya tajam, tapi bukan karena emosi, melainkan karena luka yang selama ini tertahan.
"Aku berubah bukan karena aku mau dekat sama laki-laki lain tapi untuk diriku sendiri biar lebih dihargai suami dan kakak ipar!" Jawabnya tegas.
Aku terdiam.
"Aku tau selama ini kalian malu dekat denganku. Aku paham, bukan hanya kumel tapi aku bau ya bau! Berbeda dengan Sinta, sahabat akang itu yang wangi, cantik dan modis" sambungnya.
Aku hendak membuka mulut, membantah. Tapi tak ada suara yang keluar. Karena dalam hati kecilku… aku tahu Jingga benar.
"Dan kamu nuduh aku 'nakal' cuma karena aku wangi, karena aku belajar dandan, karena aku naik motor bareng laki-laki yang bahkan enggak pernah megang tanganku?"
Ia berjalan pelan ke arahku, matanya berkaca-kaca, tapi nadanya tetap tenang.
"Buang jauh-jauh pikiranmu itu kang, aku bukan perempuan murahan seperti sinta yang bahkan tidak tau malu berani mencium suami orang dihadapan istri dan keluarganya padahal jelas-jelas dia juga udah bersuami. Gak punya otak"
"JINGGA!" Suara bentakanku memecah udara di kamar yang sebelumnya hanya diisi ketegangan. Tapi Jingga tak gentar. Tak ada air mata yang jatuh meski matanya memerah. Ia hanya berdiri di sana, menatapku dengan tatapan penuh kecewa, tatapan yang jauh lebih menusuk daripada semua kata-kata makian yang pernah ia terima dariku.
"Apa? Akang mau marah karena aku berani mengatai sahabat akang itu? Perempuan murahan itu, iya? Kalau iya, mending akang keluar dari sini. Jingga cape, gak mau berdebat lagi, pengen istirahat" ujarnya begitu tenang melenggang melewatiku, menaiki kasur lalu berbaring dengan selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya.
Aku berdecak, mengikuti ia lalu berbaring di sebelahnya. Aroma stobery yang ku suka menguar dari rambutnya ketika aku berusaha memeluknya.
"Apaan sih kang, jauh-jauh. Jingga ini bau, jijik. Ngapain peluk-peluk?" Protesnya dengan berontak.
Aku berdecak, semakin mengeratkan pelukanku. "Katanya gak mau debat lagi, yaudah diem. Tidur atau aku lempar tubuhmu dari kasur ini?" Ancamku.
Bukannya diam, ia malah semakin memberontak membuat emosiku kembali memuncak.
"Kamu ini kenapa sih? Aku peluk gak mau? Aku marahin malah ngelawan, mau jadi istri durhaka kamu?"
Jingga sontak mendorong tubuhku dengan sisa tenaga yang ia punya. Matanya kini benar-benar merah, bukan lagi karena menahan tangis, tapi karena menahan muak.
“Aku durhaka karena nolak pelukan laki-laki yang baru inget punya istri saat mulai takut kehilangannya? Karena berani melawan saat dituduh tanpa bukti? Akang pikir aku ini boneka, iya?”
Aku terkesiap. Suaranya naik, tapi tidak histeris. Justru semakin pelan, semakin dingin, dan itu jauh lebih menakutkan dari teriakan.
"Halah ... Kamu itu udah jadi istri durhaka. Udah dua minggu gak ngelayanin suami, malah enak keluyuran di pondok. Bahagia ya diperhatikan sam si Yudi itu? Besok-besok mending gak usah pulang"
"AKANG, STOP! AKU MUAK, CAPEK DAN GAK MAU DEBAT!" Teriaknya dengan penuh marah, tangannya mengepal kuat rahangnya megeras, tatapannya tajam namun aku tak gentar.
"Aku juga cape, yaudah mending tidur" ucapku penuh ketenangan, kembali mendekatinya lalu mendekapnya erat.
Kuhirup dalam-dalam aroma strawbery kesukaanku dari rambutnya. Ah, terasa menenangkan.
Kali ini Jingga tak berontak, namun terisak penuh kekesalan. Ah biarkan saja, siapa suruh buat aku kesal. Kubuat kesal balikan tau rasa kan. Rasain!
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomanceAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
