Pada akhirnya aku kalah dengan rasa cemburuku dan berakhir terjebak satu mobil dengan si Ujang yang kini berpenampilan begitu rapi, padahal acara reuni masih beberapa jam lagi.
Aku memandang nanar jalanan ibu kota yang begitu macet selepas meeting sore ini. Sementara si Ujang tengah senyam-senyum dengan gawainya, entah sedang berkirim pesan pada siapa.
"Tempatnya dimana?" Aku bertanya selepas terbebas dari kemacetan.
Si Ujang mendongak, ia menunjukan maps di gawainya. "Hotel Mutiara," jawabnya.
"Loh, kok di hotel?" tanyaku heran.
"Iya, soalnya ini acara besar. Reuninya bukan hanya kelas kita saja, tapi tujuh kelas angkatan kita." Jawabnya.
Aku berdecak, "pantesan. Jadi lu kekeh mau hadir soalnya si Ayu Rengganis juga bakalan datang. Kan beda kelas, gue paham sekarang"
Si Ujang menjentikan jarinya dengan puas. "Itu lo paham. Katanya dia sudah jadi dokter sukses di sini, idaman kan?"
"Bodo amat Jang, yang gue tau istri gue yang paling idaman" kekehku.
Si ujang mendelik. "Dulu aja segitu bencinya, sekarang bucinnya kebangetan. Gak tau nanti kalau habis reuni, soalnya banyak primadona kelas yang datang. Oh iya, lu tau si Sinta. Sahabat kita?" tanyanya.
"Taulah, kan suka main ke rumah emak juga kalau pulang kampung" jawabku kesal.
"Oh dia masih suka main ke rumah lu, padahal udah nikah ya"
"Ya terus?"
"Gue dengar dari si Roni, penampilannya beda kalau di kota. Lebih terbuka dan lebih hots, hati-hati aja nanti kalau ketemu elo ke sengsrem lagi sama dia" peringatnya.
"Gak akan, lagian bentar lagi gue punya anak. Gak mungkin gue nyakitin istri gue" jawabku mantap.
Si Ujang beroh ria, lalu kembali fokus dengan gawainya. Tepat puku tujuh malam, kami sampai di hotel mutiara, tempat dimana acara di selenggarakan.
Ku edarkan pandangan ke seluruh balroom hotel tempat dimana para alumni menyewa khusus untuk acara pertemuan kami malam ini. Penampakannya pun terlihat berbeda, banyak pernak-pernik terpasang khas sekolah kami untuk menyambut kedatangan para tamu.
"Wihhh, si paling anti kumpul datang juga ternyata. Gue mau nagih uang iuran nih," seruan seseorang membuat aku dan si Ujang mendongak, mengalihkan atensi.
"Gimana bro, pada sehatkan?" tanyanya menghampiri kami.
Aku mengangguk, menyalamininya ala cowok. Sementara si ujang begitu antusias menyambut. "Wah gak nyangka ketua kelas kita ini jadi bos tambang yang sukses di kalimantan," ujar si Ujang seolah begitu tau dengan kehidupan teman sekelas kami yang satu ini.
"Yoi, sini-sini uang iurannya. Buat bayar ini hotel sama semuanya, masih kurang" ujarnya menagih dengan gaya khas semasa sekolah sma.
Aku mendengus, mengeluarkan uang seratus ribuan lima lembar di balik dompet. Kehilangan uang beberapa lembar saat ini tak berpengaruh bagiku, namun yang menjadi masalahnya uang yang mereka minta digunakan sebagai acara ini untuk foya-foya tak jelas. Bahkan ku lihat beberapa dua minuman beralkohol sudah tersedia, rampu remang-remang seperti di buat di club malam membuatku tak nyaman.
Oh, ayolah. Meski ibadahku tidak serajin Jingga, aku tak pernah berada di tempat seperti ini dengan berbagai minuman alkohol dan asap rokok yang mengganggu.
"Gila lu Jang, sejak kapan suka beginian?" Aku bertanya kesal saat kami dipersilahkan duduk di meja yang tersedia, disana teman-teman kelas kami sudah berkumpul sedari tadi.
"Gue juga gak tau bakalan gini Mad. Sory," cicitnya.
Cek kelanjutan ceritanya di karya karsa dan goodnovel yaaaaa
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomanceAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
