Aku menutup pintu rumah dengan lesu, menatap kearah emak dan bapak yang tengah menyantap makan malam dengan hangatnya.
Sementara aku hanya terpaku, diam memandangi keharmonisan rumah tangga kedua orangtuaku. Ah seandainya pernikahanku dilandasi dengan cinta, mungkin saja pemandangan seperti itu juga akan aku rasakan.
"Kenapa pulang?" Suara emak mengintrupsi membuat aku seketika mengusap wajah kasar.
"Menantu emak mana?" tanyanya lagi.
Aku menggeleng, membuat wajah emak berubah galak.
"Jangan bilang kalau dia gak mau pulang?"
Aku menghela nafas lelah. "Dia minta cerai mak, aku harus apa" jawabku apa adanya dengan memilih mendekat kearahnya dan duduk disamping bapak yang tengah asik menyantap hidangannya.
"Inalillahi, serius Mad?" tanya bapak begitu terkejut.
Aku mendelik, mengambil piring kosong lalu mengisinya dengan setumpuk makanan. Rasanya perutku begitu lapar seusai pertengkaran kami tadi.
"Terus kamu mau gitu? Enggak! Emak gak setuju" ujar emak dengan tegas bahkan kini sepiring nasi lengkap lauk pauknya sudah emak ambil.
"Mak, Ahmad lapar loh. Belum makan dari pagi," keluhku dengan wajah memelas.
Bapak menggeleng dengan kekehan. "Bisa-bisanya kamu Mad masih ingat makan padahal rumah tanggamu lagi di ujung tanduk"
"Ya namanya juga lapar pak, gak bisa ditunda-tunda. Harus makan," jawabku enteng.
Brak.
Aku dan bapak begitu terkejut ketika emak membanting piring yang ia ambil dariku tepat dihadapanku. Jangan tanya kondisinya gimana, sudah pasti tumpah dan pecah.
"Mak, astagfirullah. Kenapa?" tanya bapak begitu panik, sementara aku tertunduk dengan takut. Ini pertama kalinya emak memperlihatkan kemarahan, kekecewaan nya padaku.
"Emak gagal didik kamu Mad, kalau bisa putar waktu mending emak gak punya anak aja. Rasanya percuma,"
Deg.
Jantung berdebar tak karuan. Ini seriusan emak bilang begitu? Mak ...
"Astagfirullah, istigfar sayang" ujar bapak dengan beranjak memeluk emak yang masih diselimuti emosi.
Emak menggeleng. "Anakmu ini pak, bikin jengkel. Selama ini emak diam bukan berarti tidak memikirkan masalah kalian, emak mikir keras. Kamu tau gak Mad sesakit apa Jingga selama ini hidupnya? Emak nikahin kalian karena emak mau Jingga keluar dari penderitaan, ternyata emak salah malah anak emak sendiri yang buat hidupnya semakin menderita. Yatuhan, Riri maafkan aku. Maaf," ujar emak dengan begitu lemas duduk berjongkok penuh penyesalan dengan menyebut nama yang jarang kudengar. Riri, ibunya Jingga. Ibu mertuaku.
Hatika rasanya hancur, baru kali ini aku melihat emak sekecewa ini. Ia bahkan kini sudah menangis sesenggukan dipelukan bapak.
"Pak, emak gagal pak" ujarnya lagi.
Aku menggeleng. Beranjak untuk menghampirinya.
"Maaf mak, tapi Ahmad gak bermaksud-"
"Cukup! Kamu pergi dari sini, gak usah pulang kalau tidak bersama menantu emak!" ujarnya begitu keras. Tangannya terangkat, menunjuk pintu rumah yang baru beberapa menit ku tutup.
"Mak, jangan gitu. Tapi perasaan tidak bisa dipaksakan mak,"
"Ahmad, kau mau bikin darah tinggi emak kambuh?" tanya bapak lirih.
"Bukan begitu pak, tapi-"
"Bapak tidak akan membela kamu. Bapak juga marah sama kamu, dalam keluarga ini tidak ada riwayatnya perceraian terjadi. Semua rumah tangga pasti memiliki masalah, cuma kau harus tau bagaimana cara menyikapinya. Jangan memalukan nama baik bapak dan emak!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomanceAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
